Mendengar kata kelor, sepintas yang ada di pikiran pastilah sayur. Atau orang Bali menyebut Jukut Kelor. Rasanya enak. Apalagi dicampur santan dan kacang merah. Ditemani sambal terasi. Disajikan dengan nasi hangat. Waahhh,,,surga!
Tanaman kelor biasanya banyak dijumpai di kebun-kebun. Bisa juga
ditemukan di pinggir
jalan. Karena memang tanaman kelor bisa tumbuh di mana saja. Mandiri sekali
ya si kelor ini. Hehehe.
Selain hanya sebagai bahan makanan dan bisa dikonsumsi, konon tanaman kelor juga berkhasiat sebagai alat penangkal ilmu hitam atau roh-roh jahat. Mungkin dari kita pernah mendengar ada makhluk gaib yang disebut Buto Ijo/Kolor Ijo atau apalah itu sebutannya. Nah, untuk menangkal roh tersebut masuk ke dalam rumah kita, kelor-lah alatnya.
Daun kelor
Kelor dipercaya dapat mencegah atau mengusir roh itu mendekati rumah kita. Tanaman kelor cukup disematkan di atas pintu masuk dengan diberi mantra-mantra tertentu. Di sebagian kalangan masyarakat Jawa, kelor sering digunakan sebagai campuran air untuk memandikan jenazah.
Kelor juga dapat digunakan sebagai
penangkal guna-guna dan ilmu hitam lainnya. Caranya cukup dengan
mengibas-ngibaskan setangkai daun kelor ke bagian muka korban. Atau air
rendaman kelor disiramkan ke sekujur tubuhnya.
Percaya atau tidak, periksa
sendiri. Boleh juga dicoba.
Tapi, jangan bantah, tanaman
kelor adalah tanaman yang banyak khasiatnya.
Tanaman dengan nama latin Moringa Oleifera ini merupakan tanaman tahunan yang
biasa disebut sebagai Miracle Tree atau Pohon Ajaib, karena kandungan gizi dan
khasiatnya yang sangat luar biasa.
Dulu tanaman ini dipercaya untuk
pengobatan penyakit atau sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis, tapi
sekarang sudah mulai banyak masyarakat yang mengkonsumsinya dalam kehidupan
sehari-hari. Sebenarnya sudah dari dulu, tapi sekarang lebih sering.
Tanaman ini sangat bermanfaat bagi
kesehatan, mulai dari akarnya,
batang, bunga, buah hingga daunnya. Nutrisi terbanyak terdapat pada daun kelor.
Berbicara mengenai bisnis, Pohon kelor
yang sering dijumpai diperkebunan atau di beberapa tempat kini bisa dikembangkan
menjadi objek agribisnis oleh masyarakat. Selain pembibitannya mudah, tanaman
kelor juga mudah dibudidayakan, tidak diperlukan masukan sarana produksi kimia,
tidak boros air, cepat panen, bisa dipanen harian/mingguan, pasar terjamin,
harga yang menguntungkan, ramah lingkungan serta produknya dapat digunakan
sebagai bahan baku untuk diolah menjadi produk lain yang dibutuhkan pasar.
Laklak Kelor
Selain dikembangkan menjadi agribisnis bagi petani, kelor juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan yang tak kalah nikmat. Contohnya seperti Jaja Laklak yang terbuat dari kelor. Jaja Laklak ini dapat dijumpai di Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik Kecamatan Banjar. Enak dan murah. Cukup Rp. 5.000,- saja, sudah dapat 6 buah laklak dalam satu porsi.
Angkringan Moringa
Lokasinya sangat gampang untuk dicari. Jika sudah menjumpai perempatan Desa Dencarik, ambil haluan menuju ke utara. Lurus saja pasti ketemu. Lokasinya di pinggir jalan dengan nama Angkringan Moringa.
Oke,
mari kita membahas Jaja Laklak dulu.
Jaja Laklak dari kelor ini warnanya hujai.
Karena terbuat dari kelor dan dicampur sedikit dengan ekstrak daun suji (don kayu sugih). Bahan-bahannya sangat
mudah. Ada tepung kelor, tepung beras, air hangat, air kapur, ekstrak daun
suji, garam, daun pandan harum.
Semua bahan dicampur rata dengan cara diuleni dengan mencampurkan 500 gram tepung beras dan 100 gram tepung kelor. Masukkan air sedikit demi sedikit sampai membentuk adonan sedikit padat, lalu campukan ektrak daun suji sedikit demi sedikit kemudian kembali diuleni sampai membentuk adonan kental. Jangan lupa campurkan garam dan air kapur agar Jaja Laklak lebih gurih (nyangluh).
Adonan tepung kelor, tepung beras, dan lain-lain
Setelah selesai, adonan lalu dimasukkan kedalam cetakan yang sudah dipanaskan dan diolesi minyak. Cukup pakai api kecil saja supaya Jaja Laklak matang sempurna. Untuk mendapatkan hasilyang enak, jaja laklak sebaiknya dimasak menggunakan tungku dan kayu bakar. Boleh saja menggunakan kompor bila tidak ada kayu bakar, tapi hasilnya tidak senikmat menggunakan kayu bakar.
Perlahan adonan dimasukkan ke dalam
cetakan yang berbentuk bulat-bulat lalu ditutup. Tunggu sekitar 5 menit, jaja
laklak langsung diangkat dari cetakan tanpa terlalu puun atau gosong. Karena
apapun yang berlebihan pasti tidak enak. Setelah itu, jaja laklak siap
dinikmati dengan dicampur gula merah dan arutan kelapa. Sungguh nikmat. Apalagi
ditemani kopi tubruk panas (bagi yang suka ngopi), sambil membaca koran.
Lengkap sudah.
Manfaat Kelor
Selain sebagai lahan bisnis dan penangkal ilmu magis, tanaman kelor juga bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa manfaat daun kelor untuk kulit antara lain mempercepat proses penyembuhan luka, mencegah infeksi, mengurangi radang jerawat, melembabkan kulit, memperlambat proses penuaan dini.
Pelanggan laklak kelor di Dencarik, Buleleng
Menurut sebuah laporan yang diterbitkan di Asia Pacific Journal Of Cancer Prevention, kelor mengandung campuran asam amino, fitonutrien karotenoid, antioksidan dan senyawa antibakterial yang saling bekerja sama dalam mencegah pertumbuhan sel abnormal penyebab kanker. Penyakit-penyakit seperti sariawan panas dalam, kesehatan otak, tiroid dan saraf dapat diatasi dengan daun kelor.
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari DKBM (Daftar Komponen Bahan Makanan) Indonesia, daun Kelor atau Merunggai mengandung 82-92 kalori energi, 6,7 gram protein, 1,7 gram lemak, 14,3 gram karbohidrat, 440 mg kalsium, 70 mg fosfor, 7 mg zat besi, 11.300 IU vitamin A, 0,21 vitamin B dan 220 mg vitamin C serta 0,9 gram serat.
Bagaimana? Mau sehat, kaya dan terhindar
dari hal-hal mistis? Mulailah menanam kelor. Sehat iya, kaya bisa, ilmu hitam
lenyap (tapi tidak dijamin ya). Hehehe. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...