Emansipasi Wanita di Baduy [Satu Sudut Pandang]
KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh kaum perempuan. Dalam d...
Donna Williams, mantan konsultan biro konsultasi (AAAC—Alternative Approaches to Autism Consultancy) dalam Sayap-Sayap Pelangi menuliskan sebuah kisah gadis autistik yang mencari dan menemukan jiwa. Dengan antusiasme dan pandangan jauh ke depan, usaha Donna untuk menyatukan dunianya—dunia autisme—dengan dunia yang sebenarnya mendapatkan hasil.
Di dalam Sayap-Sayap Pelangi, memoarnya yang ketiga ini, Dona mengisahkan bagaimana dia berusaha menang dalam pertempurannya. Dia juga mengajak kita menyadari bahwa untuk bahagia, kita tak perlu menjadi khusus bagi orang lain. Cukuplah menjadi khusus bagi diri sendiri.
Saya tidak mengenal secara langsung siapa Donna, tentu, namun saya senang membayangkan mendengarkannya bicara sampai lupa waktu, seperti mendengarkan nasihat Umberto Eco kepada cucunya.
Dengan bersimbah peluh dan air mata, Donna telah melepaskan belenggu autisme dengan cara “menjadi orang biasa di mana pun”.
***
Dulu, saya termasuk anak yang selalu mempunyai perasaan tidak percaya diri, dalam segala situasi mapun kondisi. Akibatnya, saya menjadi anak yang pendiam dan selalu mencoba menjadi orang lain dalam berpenampilan maupun dalam hal-hal yang lebih alamiah, gaya bicara, misalnya.
Sampai saya masuk SMA pun, saya masih merasa terasing dan merasa hidup di dalam sebuah dunia di balik kaca, tidak mampu berbagi dengan sebuah dunia yang saya anggap sebagai tempat yang penuh dengan tipuan-tipuan murah.
“Dunia saya” yang pendiam, menyendiri, dan sepi, sangat berbeda dengan “dunia” di luar diri saya. “Dunia”—tempat orang-orang kebanyakan—lebih mirip sebuah panggung besar yang memaksa saya untuk bersandiwara ketika kehidupan mirip dengan sebuah pertunjukkan, dan—meminjam bahasanya Donna—saat seseorang mendapat Piala Citra karena bertindak “normal”.
Orang tua saya (mungkin juga kebanyakan orang tua) selalu membandingkan anak-anaknya dengan anak-anak tetangga kanan kiri. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia? Kenapa kamu begini? Kenapa tidak begitu? Ketika saya berusaha untuk menjadi orang lain, dan seketika itu berhasil—karena dianggap “normal”—maka saya dicintai. Sebenarnya, dari dulu saya sudah merasa benci dengan “dunia” yang seperti itu.
Tetapi sekarang, saya menyadari, tempat yang dulu saya benci, “dunia”, telah membuka pintu-pintunya untuk menawarkan kemasyhuran kepada saya. Seperti kata Donna, ia menawarkan telinga dari para pakar, mata dari masyarakat, hati dari para pendukung, dan teman-teman yang tersebar dari satu sisi dunia ke sisi dunia yang lain.
Dan saya percaya—dan mungkin baru saja mengetahui—bahwa di antara dunia di balik kaca dan dunia saya, ada tempat yang belum pernah saya injak, sebuah tempat di mana saya, mungkin, bisa menjadi “orang biasa saja di mana pun”.
Ya, seperti kata Donna Williams, menjadi “orang biasa di mana pun” berarti memberi tanpa kemurahan hati dan menerima tanpa mementingkan diri sendiri. Itu identik dengan menjadi hidup seseorang tanpa harus menjadi petapa. Itu identik dengan menjadi apa adanya tanpa harus menjadi teladan bagi mereka-mereka yang menganggapmu sebagai teladan. Dia identik dengan menjadi “orang kebanyakan” tanpa harus selaras atau bersandiwara.
Menjadi “orang biasa di mana pun” berarti menatap ke dalam mata seseorang yang berarti bagimu dan sadar bahwa mereka tidak peduli apa dan siapa dirimu, tempat mana yang sudah kamu kunjungi, atau keberhasilan apa yang sudah kamu raih.
Menjadi “orang biasa di mana pun” berarti menatap ke dalam mata itu dan tahu bahwa kamu melihat cinta di sana dan layak mendapatkannya. Bukan karena kamu sebuah prestasi yang berjalan atau kasus yang menarik atau ilham bagi masyarakat atau objek kedemawanan, melainkan hanya karena kamu adalah kamu. Itulah berkah yang dimiliki oleh orang kebanyakan—“orang biasa di mana pun”.
***
Di dunia yang abu-abu ini, banyak dari mereka yang cenderung menampilkan sesuatu yang sesungguhnya bukan diri mereka sendiri. Dan pada kenyataannya, saya pun demikian. Tampaknya kita gagal menjadi “orang biasa di mana pun”. Kita selalu ingin menjadi orang lain. Menampilkan atau bahkan memamerkan apa-apa yang tidak sesuai dengan realita.
Di Fesbuk, Instagram, atau di mana pun, kita selalu menampilkan sesuatu yang baik-baik dari diri kita—yang sebenarnya itu hanya untuk menjaga citra diri. Memang, kita akan dicintai dengan sikap seperti itu, akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus bersandiwara?
Untuk saat ini, di mana pun saya berada, saya selalu berusaha menjadi diri sendiri—menjadi “orang biasa di mana pun”. Tanpa harus menjadi orang lain agar dianggap “normal”. Tanpa harus selalu berusaha mati-matian untuk tampil baik agar dicintai. Bagaimana pun saya percaya, saya akan selalu diterima di mana pun, mana kala saya mampu menjadi diri sendiri—dan bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. [T]
KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh kaum perempuan. Dalam d...
SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada spanduk, konser, atau parade massa. Ja...
Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali kembali bergerak semakin cep...
Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx. Terutama dalam Critique oh Hegel’s Philos...
Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak sore merapatkan kedua bela...
WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah lama tidak dipentaskan,...
Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait pemblokiran rekening dormant in...
KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore. Dalam momentum tersebut, ia mengajak selur...
“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker is the best judge of how the trouble is to be remedied.”— John Dewey, The...
LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar Dinas Munduk Sari...