Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Donna Williams, mantan konsultan biro konsultasi (AAAC—Alternative Approaches to Autism Consultancy) dalam Sayap-Sayap Pelangi menuliskan sebuah kisah gadis autistik yang mencari dan menemukan jiwa. Dengan antusiasme dan pandangan jauh ke depan, usaha Donna untuk menyatukan dunianya—dunia autisme—dengan dunia yang sebenarnya mendapatkan hasil.
Di dalam Sayap-Sayap Pelangi, memoarnya yang ketiga ini, Dona mengisahkan bagaimana dia berusaha menang dalam pertempurannya. Dia juga mengajak kita menyadari bahwa untuk bahagia, kita tak perlu menjadi khusus bagi orang lain. Cukuplah menjadi khusus bagi diri sendiri.
Saya tidak mengenal secara langsung siapa Donna, tentu, namun saya senang membayangkan mendengarkannya bicara sampai lupa waktu, seperti mendengarkan nasihat Umberto Eco kepada cucunya.
Dengan bersimbah peluh dan air mata, Donna telah melepaskan belenggu autisme dengan cara “menjadi orang biasa di mana pun”.
***
Dulu, saya termasuk anak yang selalu mempunyai perasaan tidak percaya diri, dalam segala situasi mapun kondisi. Akibatnya, saya menjadi anak yang pendiam dan selalu mencoba menjadi orang lain dalam berpenampilan maupun dalam hal-hal yang lebih alamiah, gaya bicara, misalnya.
Sampai saya masuk SMA pun, saya masih merasa terasing dan merasa hidup di dalam sebuah dunia di balik kaca, tidak mampu berbagi dengan sebuah dunia yang saya anggap sebagai tempat yang penuh dengan tipuan-tipuan murah.
“Dunia saya” yang pendiam, menyendiri, dan sepi, sangat berbeda dengan “dunia” di luar diri saya. “Dunia”—tempat orang-orang kebanyakan—lebih mirip sebuah panggung besar yang memaksa saya untuk bersandiwara ketika kehidupan mirip dengan sebuah pertunjukkan, dan—meminjam bahasanya Donna—saat seseorang mendapat Piala Citra karena bertindak “normal”.
Orang tua saya (mungkin juga kebanyakan orang tua) selalu membandingkan anak-anaknya dengan anak-anak tetangga kanan kiri. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia? Kenapa kamu begini? Kenapa tidak begitu? Ketika saya berusaha untuk menjadi orang lain, dan seketika itu berhasil—karena dianggap “normal”—maka saya dicintai. Sebenarnya, dari dulu saya sudah merasa benci dengan “dunia” yang seperti itu.
Tetapi sekarang, saya menyadari, tempat yang dulu saya benci, “dunia”, telah membuka pintu-pintunya untuk menawarkan kemasyhuran kepada saya. Seperti kata Donna, ia menawarkan telinga dari para pakar, mata dari masyarakat, hati dari para pendukung, dan teman-teman yang tersebar dari satu sisi dunia ke sisi dunia yang lain.
Dan saya percaya—dan mungkin baru saja mengetahui—bahwa di antara dunia di balik kaca dan dunia saya, ada tempat yang belum pernah saya injak, sebuah tempat di mana saya, mungkin, bisa menjadi “orang biasa saja di mana pun”.
Ya, seperti kata Donna Williams, menjadi “orang biasa di mana pun” berarti memberi tanpa kemurahan hati dan menerima tanpa mementingkan diri sendiri. Itu identik dengan menjadi hidup seseorang tanpa harus menjadi petapa. Itu identik dengan menjadi apa adanya tanpa harus menjadi teladan bagi mereka-mereka yang menganggapmu sebagai teladan. Dia identik dengan menjadi “orang kebanyakan” tanpa harus selaras atau bersandiwara.
Menjadi “orang biasa di mana pun” berarti menatap ke dalam mata seseorang yang berarti bagimu dan sadar bahwa mereka tidak peduli apa dan siapa dirimu, tempat mana yang sudah kamu kunjungi, atau keberhasilan apa yang sudah kamu raih.
Menjadi “orang biasa di mana pun” berarti menatap ke dalam mata itu dan tahu bahwa kamu melihat cinta di sana dan layak mendapatkannya. Bukan karena kamu sebuah prestasi yang berjalan atau kasus yang menarik atau ilham bagi masyarakat atau objek kedemawanan, melainkan hanya karena kamu adalah kamu. Itulah berkah yang dimiliki oleh orang kebanyakan—“orang biasa di mana pun”.
***
Di dunia yang abu-abu ini, banyak dari mereka yang cenderung menampilkan sesuatu yang sesungguhnya bukan diri mereka sendiri. Dan pada kenyataannya, saya pun demikian. Tampaknya kita gagal menjadi “orang biasa di mana pun”. Kita selalu ingin menjadi orang lain. Menampilkan atau bahkan memamerkan apa-apa yang tidak sesuai dengan realita.
Di Fesbuk, Instagram, atau di mana pun, kita selalu menampilkan sesuatu yang baik-baik dari diri kita—yang sebenarnya itu hanya untuk menjaga citra diri. Memang, kita akan dicintai dengan sikap seperti itu, akan tetapi, mau sampai kapan kita akan terus bersandiwara?
Untuk saat ini, di mana pun saya berada, saya selalu berusaha menjadi diri sendiri—menjadi “orang biasa di mana pun”. Tanpa harus menjadi orang lain agar dianggap “normal”. Tanpa harus selalu berusaha mati-matian untuk tampil baik agar dicintai. Bagaimana pun saya percaya, saya akan selalu diterima di mana pun, mana kala saya mampu menjadi diri sendiri—dan bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...