“Sepertinya malam ini saja raga
bisa gabung. Besok sudah sekolah lagi. PPDB sudah mulai,” kata temanku setelah
beberapa lama terdiam sendiri, tanpa memperhatikan obrolan kami berempat sebelumnya.
Aku pikir dia serius dalam permainan ini, tetapi ternyata dari tadi dia
memikirkan hal yang jauh lebih serius; pendidikan.
Sebagai seorang guru, kami tentu tak bisa lempas dari pemikiran akan
pendidikan bangsa. Dalam obrolan-obrolan di group whatsapp – meski sambil
bercanda, kami acap kali membahas tentang sistem pendidikan kita.
Keburukan-keburukannya tentu menjadi hal yang lebih menarik dibahas ketimbang
kebaikan-kebaikan yang telah ada. Bahkan di meja ini, saat kami berlima duduk
dengan cukup serius, mendengar ucapan teman kami tadi, kami langsung tahu
kemana arah obrolan kami selanjutnya.
Penerimaan Peserta Didik Baru. Ya, PPDB belakangan ini menjadi hal yang
sangat sexy untuk dipergunjingkan. Terlebih adanya penerapan sistem zonasi,
yang hingga di tahun ketiga ini masih belum terpolakan dengan baik. Hal
tersebut tentu menjadi perbincangan yang sangat menarik. Seperti yang aku
sampaikan tadi, membicarakan keburukan terasa lebih mengasikkan.
Kami duduk melingkar. Temanku, yang duduk di sebelah kananku adalah
salah seorang guru di sekolah pinggiran. Berdasarkan stratifikasi sekolah di
benak masyarakat, sekolahnya berada pada strata “tidak favorit”. Kami
sebenarnya tak terlalu mengerti sejak kapan, dan mengapa sekolahnya ada pada
strata itu. Tidak ada sertifikat khusus yang dikeluarkan pemerintah untuk label
itu, tetapi mereka – temanku tadi, bersama rekan-rekan guru di sekolahnya –
seakan sepakat dengan strata yang melekat pada sekolah mereka.
Sekolahnya berada di pinggiran kota. Setiap tahun, siswa yang mendaftar
di sana adalah siswa-siswa yang tidak lolos di sekolah “favorit”. Itupun
setelah dikurangi beberapa siswa yang memutuskan untuk sekolah di sekolah
swasta yang dianggap lebih “favorit”. Jumlah siswanya kadang tak lebih dari
empat kelas pertahun. Kondisi seperti ini, mewajarkan sekolah itu untuk tidak
terlalu aktif dalam perlombaan dan kegiatan-kegiatan lain, karena SDM dan dana
yang terbatas. Terlebih sejak sekolah negeri tidak diperkenankan untuk memungut
SPP. Mereka hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat dan daerah yang
besarannya diukur berdasarkan jumlah siswa.
“Nau ti ba ente, o? Liu maan murid
jani” ujar salah seorang teman yang membayangkan perasaan temanku tadi
terhadap hasil PPDB yang tentunya menguntungkan sekolahnya. Secara hitungan
kasar kami memikirkan bahwa sekolahnya akan menerima siswa dengan jumlah yang
cukup, sesuai daya tampung sekolah. Dengan jumlah siswa yang memadai, dana BOS
yang diterima akan meningkat dan sekolahnya akan punya cukup biaya untuk
memperbaiki fasilitas dan mengembangkan program pengembangan siswa dan guru.
Alih-alih tanggapan positif datang dari temanku tadi, dia malah
melontarkan ucapan berbau pesimis yang menyatakan kasihan pada siswa-siswa
berprestasi yang harus bersekolah di sekolahnya. Ini merupakan pembunuhan
potensi siswa, menurutnya. Mereka yang potensial, akan meredup di sekolahnya,
kemudian akan tumbuh menjadi siswa-siswa biasa seperti lulusan-lulusan
sebelumnya. Seorang teman guru di sekolahnya masih berjibaku untuk bisa
mendaftarkan anaknya di salah satu sekolah “favorit”, meski jarak rumahnya
lebih dekat ke sekolah tempat tugasnya. Sebegitu pesimis guru-guru di sekolah
itu dengan sekolahnya sendiri.
Aku sangat tak sepaham dengannya dalam hal itu. Hanya perlu sebuah
lecutan pada temanku (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk membuktikan
bahwa intake dan dana adalah
satu-satunya penyebab sekolahnya tak mampu bersaing dengan sekolah lain. Jika
saja dari dulu sekolahnya diberikan intake
yang sama, maka saat ini sekolah itu sudah memiliki kualitas yang sama
dengan sekolah-sekolah lainnya. Jika saja sekolah itu dari dulu diberikan
mengelola dana yang sama, maka saat ini fasilitas dan budaya sekolah akan sama
dengan sekolah lainnya.
Bukankah ini harapan utama pelaksanaan sistem zonasi? Agar tak ada lagi
stratifikasi sekolah. Tak ada lagi istilah “favorit” dan “tak favorit” yang
dilabelkan pada sebuah sekolah. Semua sekolah memiliki intake yang merata. Memiliki fasilitas dan dana yang sama. Semua
siswa memiliki hak yang sama dalam mendapat layanan pendidikan.
“Semua sekolah adalah sekolah favorit” itu harapan dari menteri
pendidikan kita. Dengan pemerataan kuantitas dan kualitas siswa, setiap sekolah
memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Setiap tahun semua sekolah akan
mendapat siswa baru dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan di
sekolahnya. Pun jika prestasi digunakan sebagai sebuah tolak ukur, maka semua
sekolah memiliki peluang yang sama untuk berprestasi.
Bukankah dengan intake yang
merata, peluang sekolahnya untuk berkembang semakin ada? Intake yang baik – yang dulu pasti diserap habis oleh “sekolah
favorit” – sekarang akan ada di sekolahnya. Permasalahannya hanyalah, siap atau
tidak temanku tadi (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk mengembangkan
siswa-siswa potensial itu?
Dengan setengah konsentrasi pada permainan, aku meneguk teh hangat yang
sudah tak hangat lagi. “Coba ente tertantang
untuk membuktikan diri, siswa-siswa potensial itu akan menjadi motor penggerak
sistem mutu di sekolah entene.” Aku
mulai sedikit menyeramahinya dengan gaya mengguruiku.
Aku memang percaya, dengan diberdayakan secara baik, tahun depan, atau
tahun depannya lagi sistem mutu akan mulai terbentuk. Beberapa ‘anak biasa
saja’ akan termotivasi pada anak-anak potensial itu. Prestasi akan mulai
tersemaikan di sekolah dengan strata “tidak favorit” itu. Maka perlahan,
sekolah itu akan merangkak pada strata yang lebih tinggi. Orang tua yang tahun
ini merasa kecewa anaknya ‘hanya’ diterima di sekolah itu, perlahan akan
bersyukur dan mendapati anaknya telah berkembang secara sepatutnya.
Dan jika hal ini berhasil terjadi juga di sekolah-sekolah lain, setiap
sekolah akan bergerak menuju strata di atasnya, bahkan bukan hal yang tak
mungkin, stratifikasi sekolah akan perlahan hilang di benak masyarakat. Kualitas
pendidikan di semua sekolah akan berada pada satu titik yang terstandarkan. Orang
tua tak sibuk lagi update status dan
berdoa di facebook agar anaknya
diterima di sekolah favorit.
Melalui beberapa perdebatan, akhirnya temanku mulai sepaham. “Doakan nah, siswa yang mendaftar di sekolah raga bagus-bagus. Raga akan menggerakkan teman-teman di sekolah untuk bangkit dan
keluar dari balik bayang-bayang citra sekolah yang selama ini. Kalian yang
hanya menerima siswa-siswa miskin dengan kemampuan akademik standar saja mampu,
masa kami tidak?” Dia berucap dengan semangat sambil meneguk kopinya yang hampir
dingin.
Sesaat kemudian aku menjatuhkan kartu, diapun tersenyum. “Ne apa soca raga! Ceki!” [T]