“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
“Sepertinya malam ini saja raga bisa gabung. Besok sudah sekolah lagi. PPDB sudah mulai,” kata temanku setelah beberapa lama terdiam sendiri, tanpa memperhatikan obrolan kami berempat sebelumnya. Aku pikir dia serius dalam permainan ini, tetapi ternyata dari tadi dia memikirkan hal yang jauh lebih serius; pendidikan.
Sebagai seorang guru, kami tentu tak bisa lempas dari pemikiran akan pendidikan bangsa. Dalam obrolan-obrolan di group whatsapp – meski sambil bercanda, kami acap kali membahas tentang sistem pendidikan kita. Keburukan-keburukannya tentu menjadi hal yang lebih menarik dibahas ketimbang kebaikan-kebaikan yang telah ada. Bahkan di meja ini, saat kami berlima duduk dengan cukup serius, mendengar ucapan teman kami tadi, kami langsung tahu kemana arah obrolan kami selanjutnya.
Penerimaan Peserta Didik Baru. Ya, PPDB belakangan ini menjadi hal yang sangat sexy untuk dipergunjingkan. Terlebih adanya penerapan sistem zonasi, yang hingga di tahun ketiga ini masih belum terpolakan dengan baik. Hal tersebut tentu menjadi perbincangan yang sangat menarik. Seperti yang aku sampaikan tadi, membicarakan keburukan terasa lebih mengasikkan.
Kami duduk melingkar. Temanku, yang duduk di sebelah kananku adalah salah seorang guru di sekolah pinggiran. Berdasarkan stratifikasi sekolah di benak masyarakat, sekolahnya berada pada strata “tidak favorit”. Kami sebenarnya tak terlalu mengerti sejak kapan, dan mengapa sekolahnya ada pada strata itu. Tidak ada sertifikat khusus yang dikeluarkan pemerintah untuk label itu, tetapi mereka – temanku tadi, bersama rekan-rekan guru di sekolahnya – seakan sepakat dengan strata yang melekat pada sekolah mereka.
Sekolahnya berada di pinggiran kota. Setiap tahun, siswa yang mendaftar di sana adalah siswa-siswa yang tidak lolos di sekolah “favorit”. Itupun setelah dikurangi beberapa siswa yang memutuskan untuk sekolah di sekolah swasta yang dianggap lebih “favorit”. Jumlah siswanya kadang tak lebih dari empat kelas pertahun. Kondisi seperti ini, mewajarkan sekolah itu untuk tidak terlalu aktif dalam perlombaan dan kegiatan-kegiatan lain, karena SDM dan dana yang terbatas. Terlebih sejak sekolah negeri tidak diperkenankan untuk memungut SPP. Mereka hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat dan daerah yang besarannya diukur berdasarkan jumlah siswa.
“Nau ti ba ente, o? Liu maan murid jani” ujar salah seorang teman yang membayangkan perasaan temanku tadi terhadap hasil PPDB yang tentunya menguntungkan sekolahnya. Secara hitungan kasar kami memikirkan bahwa sekolahnya akan menerima siswa dengan jumlah yang cukup, sesuai daya tampung sekolah. Dengan jumlah siswa yang memadai, dana BOS yang diterima akan meningkat dan sekolahnya akan punya cukup biaya untuk memperbaiki fasilitas dan mengembangkan program pengembangan siswa dan guru.
Alih-alih tanggapan positif datang dari temanku tadi, dia malah melontarkan ucapan berbau pesimis yang menyatakan kasihan pada siswa-siswa berprestasi yang harus bersekolah di sekolahnya. Ini merupakan pembunuhan potensi siswa, menurutnya. Mereka yang potensial, akan meredup di sekolahnya, kemudian akan tumbuh menjadi siswa-siswa biasa seperti lulusan-lulusan sebelumnya. Seorang teman guru di sekolahnya masih berjibaku untuk bisa mendaftarkan anaknya di salah satu sekolah “favorit”, meski jarak rumahnya lebih dekat ke sekolah tempat tugasnya. Sebegitu pesimis guru-guru di sekolah itu dengan sekolahnya sendiri.
Aku sangat tak sepaham dengannya dalam hal itu. Hanya perlu sebuah lecutan pada temanku (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk membuktikan bahwa intake dan dana adalah satu-satunya penyebab sekolahnya tak mampu bersaing dengan sekolah lain. Jika saja dari dulu sekolahnya diberikan intake yang sama, maka saat ini sekolah itu sudah memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya. Jika saja sekolah itu dari dulu diberikan mengelola dana yang sama, maka saat ini fasilitas dan budaya sekolah akan sama dengan sekolah lainnya.
Bukankah ini harapan utama pelaksanaan sistem zonasi? Agar tak ada lagi stratifikasi sekolah. Tak ada lagi istilah “favorit” dan “tak favorit” yang dilabelkan pada sebuah sekolah. Semua sekolah memiliki intake yang merata. Memiliki fasilitas dan dana yang sama. Semua siswa memiliki hak yang sama dalam mendapat layanan pendidikan.
“Semua sekolah adalah sekolah favorit” itu harapan dari menteri pendidikan kita. Dengan pemerataan kuantitas dan kualitas siswa, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Setiap tahun semua sekolah akan mendapat siswa baru dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan di sekolahnya. Pun jika prestasi digunakan sebagai sebuah tolak ukur, maka semua sekolah memiliki peluang yang sama untuk berprestasi.
Bukankah dengan intake yang merata, peluang sekolahnya untuk berkembang semakin ada? Intake yang baik – yang dulu pasti diserap habis oleh “sekolah favorit” – sekarang akan ada di sekolahnya. Permasalahannya hanyalah, siap atau tidak temanku tadi (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk mengembangkan siswa-siswa potensial itu?
Dengan setengah konsentrasi pada permainan, aku meneguk teh hangat yang sudah tak hangat lagi. “Coba ente tertantang untuk membuktikan diri, siswa-siswa potensial itu akan menjadi motor penggerak sistem mutu di sekolah entene.” Aku mulai sedikit menyeramahinya dengan gaya mengguruiku.
Aku memang percaya, dengan diberdayakan secara baik, tahun depan, atau tahun depannya lagi sistem mutu akan mulai terbentuk. Beberapa ‘anak biasa saja’ akan termotivasi pada anak-anak potensial itu. Prestasi akan mulai tersemaikan di sekolah dengan strata “tidak favorit” itu. Maka perlahan, sekolah itu akan merangkak pada strata yang lebih tinggi. Orang tua yang tahun ini merasa kecewa anaknya ‘hanya’ diterima di sekolah itu, perlahan akan bersyukur dan mendapati anaknya telah berkembang secara sepatutnya.
Dan jika hal ini berhasil terjadi juga di sekolah-sekolah lain, setiap sekolah akan bergerak menuju strata di atasnya, bahkan bukan hal yang tak mungkin, stratifikasi sekolah akan perlahan hilang di benak masyarakat. Kualitas pendidikan di semua sekolah akan berada pada satu titik yang terstandarkan. Orang tua tak sibuk lagi update status dan berdoa di facebook agar anaknya diterima di sekolah favorit.
Melalui beberapa perdebatan, akhirnya temanku mulai sepaham. “Doakan nah, siswa yang mendaftar di sekolah raga bagus-bagus. Raga akan menggerakkan teman-teman di sekolah untuk bangkit dan keluar dari balik bayang-bayang citra sekolah yang selama ini. Kalian yang hanya menerima siswa-siswa miskin dengan kemampuan akademik standar saja mampu, masa kami tidak?” Dia berucap dengan semangat sambil meneguk kopinya yang hampir dingin.
Sesaat kemudian aku menjatuhkan kartu, diapun tersenyum. “Ne apa soca raga! Ceki!” [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...