Saya agak menyesal baru khatam roman ini ketika
menyelesaikan studi master sejarah di UGM, 6 tahun lalu. Saat kuliah sarjana,
saya sempat membaca salah satu bagian Tetralogi
Pulau Buru, Anak Semua Bangsa. Itupun tak sampai habis. Saya membelinya karena
alasan-alasan yang tak masuk akal di sebuah toko buku, Toga Mas, yang waktu itu
masih berlamat di sekitaran Jalan Udayana Singaraja sebelum akhirnya pindah ke Jalan Kartini.
Siapapun akan sepakat bahwa Pram, melalui Teralogi Pulau
Buru telah berhasil memotret embrio nasionalisme Indonesia yang paradoks
sekaligus ambigu. Racikan fakta sejarah dipadu nalar proletar tentang gelombang
revivalisme lokal menempatkan Pram sebagai salah sastrawan berpengaruh pada
jamannya.
Pun demikian, di masa puncak jayanya, Pram adalah bagian
yang tidak terpisahkan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat. Era di mana Lekra dan
Manikebu saling melancarkan gagasan dan opini akademis bagik media massa dan
cetak tentang bagaimana seharusnya kebudayaan nasional dirumuskan. Meski mereka
hidup di jaman Orde Lama yang tidak jauh opresif dengan Orde Baru,
intelektualisme cenderung lebih hidup. Barulah di era Orde Baru, bersamaan
pemberangusan PKI juga ikut memusnahkan satu generasi intelektual.
Dalam metodologi sejarah mutakhir, Pram bisa jadi sukses mempromosikan
teks ideal problematika sastra dengan sejarah. Ilmu sejarah sejak era Leopold
van Ranke, dengan keangkuhan metodologi positivistik Barat tidak pernah sudi “membumi”.
Sastra di tempat lain merangkak demi menggali intimitas kemanusiaan. Meski kedunya
berangkat pada akar yang sama, pada satu momen mereka berpisah, dan pada titik
yang lain bertemu. Pram lah, melalui novel sejarah ini menyejarahkan sastra dan
begitu sebaliknya, menyastrakan sejarah.
Bagi mantan sarjana pendidikan seperti saya, membaca
novel sejarah agaknya bukan kewajiban. Kami cukup tahu judul buku dan pengarang
tanpa harus bersentuhan, atau membaca secara langsung. Dengan pengetahuan
sepotong dan agak dipaksakan itu, sudah cukup kiranya berbagi pengetahuan di
dalam kelas. Perlu dicatat, output
yang dihasilkan oleh prodi kami tidak menekankan pada kemampuan literasi,
sastra salah satunya, bukan merupakan keharusan. Sarjana pendidikan sejarah
diarahkan pada kemampuan manajemen kelas. Kemampuan pedagogi sejarah lebih
ditekankan dibanding telaah epistemologi keilmuan. Dalam teks ideal, kami
diharapkan menjadi penutur masa lalu yang sesuai dengan kurikulum yang
dihasilkan oleh Pemerintah melalui Kemendikbud.
Oktober 2014, setelah menyelesaikan studi master dan
kembali ke tanah kelahiran, obsesi saya terhadap Pram tidak memudar, bahkan semakin
gila dengan memburu karya-karyanya yang lain. Beberapa di antaranya saya
dapatkan secara gratis dalam bentuk pdf
dari kawan di Jogja. Beberapa yang lain saya fotocopy seperti aslinya setelah
berburu di hampir semua perpustakaan kampus UGM, UNY, SADAR dan UIN Sunan
Kalijaga.
Hasil bacaan terhadap karya-karya Pram saya tuangkan di beberapa jurnal. Kehadiran Pram sebagai inspirasi menulis mendorong saya tetap terjaga dan produktif. Oleh sebab itu, saya membutuhkan media aktualisasi untuk mengekspresikan ide-ide liar Pram tentang intelektualisme sastra sejarah, dan ruang itu hanya ada di perguruan tinggi. Alasannya, selama 2 tahun mengajar di bimbel dan SMA di daerah Denpasar sejak 2015-2016, anak didik saya tidak terlalu punya idealisme literasi. Mereka, yang saya sebut Gen Z adalah generasi dengan budaya digital.
KLIK DI SINI
MAS MARTAYANA
UNTUK BACA ESAI-ESAI LAIN
Momen itu akhirnya datang, dan sejak Februari 2017, saya mengajar di Prodi pendidikan sejarah Undiksha. Di sanalah, pada mata kuliah sejarah intelektual, pemikiran-pemikiran Pram saya semai dan diskusikan dengan mahasiswa tanpa takut berhadapan dengan masalah pedagogi normatif. Meski di jaman mereka, akses terhadap informasi sangat luas di tambah kelihaian update sekaligus upgrade teknologi adalah hal lumrah, tetap saja budaya digital tidak bisa menggantikan budaya literasi. Mereka gagap budaya berhadapan dengan teks asli.
Di awal pertemuan, mereka tampak kurang nyaman dan sering
menyampaikan keluhan. Akan tetapi keluh itu sirna berganti menjadi obsesi. Dari
yang awalnya dipaksa, lalu terpaksa, akhirnya terbiasa. Dalam tulisan lain di
platform ini, saya menyebut perilaku gagap literasi dengan istilah “intelektual
pengecer”. Bak gayung bersambut, kini merekapun tampak antusias menerima
siraman proletarianisme ala Pram
melalui saya.
Tetralogi Buru mengisahkan tentang gerakan
kebangkitan nasional Indonesia rentang tahun
1898 – 1918, dengan tokoh protagonis utama seorang anak bupati yang
mengenyam pendidikan Belanda, yakni Minke. Karakter Minke digambarkan mengalami
pergolakan batin di antara dua dunia ; Barat atau Timur. Ia tumbuh dan
berkembang, dari yang merasa malu terlahir sebagai pribumi dan menolak menulis
dalam bahasa Melayu hingga menjadi salah satu pejuang melawan kolonialisme.
Pertemuannya dengan Petani Jawa yang bernama Trunodongso, yang digusur dari
tanahnya sendiri adalah tonggak penting dalam perubahan sikap Minke terhadap
kolonialisme. Perjalanannya menjadi semakin menggeliat ketika ia mendedikasikan
diri melalui kehadiran surat kabar berbahasa Melayu-Medan Prijaji.
Tokoh
Minke dalam tetralogi Buru adalah fiksi yang berangkat dari jejak dokumen
sejarah yang ditinggalkan Bapak Pers Nasional ; Raden Mas Djokomono Tirto Adhi
Soerjo. Dalam hal ini, sebagai wujud penghormatan dan kekagumannya kepada sosok
Tirto, Pram memonumenkan kisahnya ke dalam sebuah novel berjudul Sang Pemula.
Minke, sebagaimana yang dibayangkan, adalah sosok fiksi metaforis terhadap
tujuan utama Pram untuk menyampaikan hikayat, tafsir dan pandangannya tentang embrio pembentukan
sebuah bangsa-negara Indonesia. Potret tentang kondisi sosial politk dan
ekonomi pada masa kolonial yang berhasil didokumentasikan dalam novel ini
bahkan jauh melampaui kajian ilmiah tentang periode itu. Tak lain adalah karena
kelebihan sastra untuk memberi nyawa bagi kajian-kajian ilmiah dan sejarah masa
lalu yang membentuk Indonesia hari ini.
Saya menggarisbawahi otoritas Pram yang menempatkan
Max Havelaar, karya Multatuli (nama samaran Eduard Douwes Dekker) sebagai
pioner buku yang membunuh kolonialisme dan menjadi karya yang menginspirasinya.
Penuturan melalui novel (semi otobiografs ini) Max Havelaar berhasil mengangkat
problem ketidakdilan akibat berlangsungnya tatanan kolonial secara khusus
sistem Tanam Paksa dan di sisi lain tatanan feodal yang menjadi sarana
Pemerintah Kolonial menghisap dan mengendalikan rakyat.
Metaforis kebudayaan lain yang berhasil
dianalogikan Pram adalah kisah Saidjah dan Adinda, kisah utama dan paling
menyentuh di dalam kisah pengalaman nyata seorang Asisten Residen Lebak ketika
bersentuhan dengan penderitaan rakyat atau kaum tani, berinteraksi dan
bersentuhan dengan sebuah sistim kekuasaan feodal yang korup dan sesungguhnya
menjadi mesin atau perkakas kuasa kolonial dimana dia mengabdi, dan pada
akhirnya modal dan pasar. Modal dan pasar muncul dalam sosok Batavus
Droogstoppel, seorang borjuis kecil pedagang kopi dan hingar binger Lelang Kopi
di negeri Belanda.
Fragmen sosial
yang ditampilkan kisah percintaan Saidjah dan Adinda telah berhasil membuka mata kita bahwa rakyat di masa
itu adalah korban eksploitasi dan kekejaman, sapi perahan, baik itu sistem
kolonial maupun ketamakan serta sifat korup pembesar-pembesar bumi putera.
Kritik dan laporan tentang kesewenangan Bupati melalui saluran birokrasi
kolonial menemui jalan buntu, bahkan akhirnya sang Residen disingkirkan dari
jabatannya karena dipandang tidak loyal dan patuh pada keputusan atasan.
Bagi saya, buku ini telah merobohkan sendi-sendi
legitimasi moral Belanda dalam mengkolonisasi wilayah jajahannya yang diberi
nama Hindia Belanda. Bagaimana tidak, mereka menganggap diri bangsa yang
tercerahkan. Hal ini berangkat dari prosesualisasi sejarah Eropa yang memasuki
era modern. Meski begitu, tagline di
atas berbanding terbalik dengan pensikapan mereka terhadap penduduk
Hindia-Belanda yang eksploitatif sekaligus diskriminatif.. Jejak primitif Eropa
era Kegelapan masih merupakan penyakit mental yang serius.
Pada masa yang berbeda, Tetralogi Pulau Buru
merupakan buku wajib bagi kaum intelektual pembangkang di era Orde Baru.
Barangkali hal yang membuat buku ini menjadi bacaan wajib para pembangkang
karena kemampuannya memotret dengan tajam ketidakadilan sosial di dalam
cengkeraman kuasa kolonial dan kapitalis perkebunan. Di era Orde Baru, kolonial
dan kapitalis tidak lagi berkulit putih dengan ciri kaukasian, melainkan melayu
cokelat. Di sisi lain, karena cara pandang roman yang dianggap progresif dalam
memberikan makna pada proses panjang pembentukan sebuah bangsa. [T]