“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Selain diramaikan oleh kontroversi sistem zonasi pendidikan, satu hal lagi yang hangat menjadi bahan diskusi di ruang publik belakangan ini adalah wacana punya anak empat untuk orang Bali. Tentu sebetulnya jauh akan lebih ramai dan lebih seru kalau wacananya adalah punya istri empat.
Sepertinya belum ada yang berani atau sebetulnya berani namun malu-malu untuk mengajukan wacana ini. Seperti kita ketahui bersama, anjuran agar orang Bali punya empat anak datang dari gubernur Bali I Wayan Koster yang dituangkan dalam Instruksi Gubernur (Ingub) Bali No 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali.
Beberapa alasannya adalah, berkat keberhasilan program KB yang dicanangkan pemerintah, pertumbuhan penduduk di Bali relatif konstan. Yang kedua dan mungkin sebetulnya ini yang lebih krusial dan emosional adalah, semakin sulit ditemukannya Nyoman/Komang dan Ketut yang merupakan nama tradisional Bali untuk anak ketiga dan keempat.
Hal ini disebabkan oleh karena program KB pemerintah nasional sebelumnya menganjurkan “dua anak cukup, laki perempuan sama saja’ sehingga nama-nama orang Bali saat ini yang tersisa lebih banyak adalah Wayan/Putu/Gede untuk anak pertama dan Made/Kadek/Nengah untuk anak kedua.
Respon masyarakat masih terbelah dengan anjuran gubernur ini. Sebagai sebuah kontroversi, ia menjadi diskusi menarik di ruang publik. Ini mirip dengan manuver gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menganjurkan semua ASN di lingkungan pemerintah propinsi DKI Jakarta untuk mengenakan kaos klub sepak bola Persija saat klub berjuluk Macan Kemayoran itu bertanding.
Mirip, karena keduanya menyentuh sisi fanatisme kelompok dalam gagasannya. Menggunakan isu identitas atau keyakinan satu kelompok masih menjadi pola yang murah dan efektif untuk memperoleh nilai dan dukungan politis terutama dalam budaya paternalistik bangsa-bangsa timur. Ia seringkali mengabaikan kedalaman esensi kualitas dari program-program yang ditawarkan. Dan di sisi lain itu sudah pasti menjauhkannya dari prinsip-prinsip unviersal.
Program peningkatkan angka kelahiran sebetulnya juga sedang gencar dilakukan saat ini di berbagai negara yang mengalami krisis kependudukan. Di antaranya Jepang, Singapura, Rusia atau Jerman. Jerman Timur saat ini, jumlah penduduknya bahkan kembali seperti keadaan di tahun 1905. Seorang pendeta di sana berseloroh, ia perlu memimpin sampai lima kali misa pemakamam sebelum membaptis seorang anak. Angka kelahiran yang rendah seakan-akan telah membuat angka kematian menjadi tinggi.
BACA KOLOM DOKTER ARYA YANG LAIN

Lalu lihatlah Singapura, negara tetangga dekat kita. Negara ini memiliki penduduk sekitar lima juta jiwa dan merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran paling rendah. Hal ini mendorong pemerintah setempat untuk memberikan hadiah dan keuntungan bagi setiap bayi yang lahir serta orangtuanya. Untuk program skema bonus bayi ini, pemerintah Singapura menghabiskan anggaran sekitar US$ 13 miliar per tahun untuk meyakinkan warganya yang sibuk bekerja agar memiliki anak.
Mereka juga menawarkan setiap orangtua dana sebesar US$ 15 ribu untuk anak, insentif pajak, dan perpanjangan cuti hamil. Pemerintah akan memberikan bonus kepada semua anak di dalam keluarga tersebut. Bahkan, bila keluarga itu memiliki empat anak, pemerintah bakal memberikan bonus kepada keempatnya. Pemerintah menganggap berharga semua anak yang terlahir di Singapura. Setiap bayi yang baru lahir di Singapura akan langsung memiliki akun Medisave. Secara otomatis, bayi-bayi itu akan memiliki asuransi jiwa MediShield Life tipe premium yang bakal ditanggung pemerintah sampai sang anak berumur 21 tahun.
Nah, mungkin sudah cukup jelas bagi kita, Singapura berani menantang warganya untuk punya anak lebih banyak karena berbagai jaminan untuk anak yang dilahirkan plus orang tuanya sudah teradministrasi dengan baku, walau wilayah mereka relatif sempit dibandingkan Indonesia yang begitu luas. Maka belajar dari penerapan sistem zonasi pendidikan, seharusnya semua sekolah wajib dibikin baik dan berkualitas terlebih dahulu, tanpa diminta nanti zonasipun akan berjalan sendiri. Begitu pula, jaminan untuk anak-anak yang akan dilahirkan dilembagakan terlebih dahulu maka tanpa ragu-ragu orang Bali akan berlomba-lomba menghadirkan Nyoman dan Ketut.
Saya punya banyak pengalaman di bidang kesehatan dan sosial kemanusiaan. Sering bertemu dan melayani anak-anak dari keluarga miskin atau mengunjungi anak-anak yang tinggal di panti asuhan, melihat saat ini bukanlah situasi yang realistis untuk program banyak anak. Anak-anak adalah titipan Tuhan, segalanya harus dimuliakan demi titipanNya itu. Fokus pada kualitas jauh lebih mendesak dan strategis ketimbang kuantitas. Begitulah yang dapat kita petik dari epos Mahabrata, seratus Kurawa yang curang telah dihancurkan oleh lima pangeran Pandawa yang gemilang. [T]
BACA JUGA:
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...