‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Koleksi repro pelukis Bali Utara yang terdisplay kini di Museum Buleleng nampaknya telah di kurasi, karena pada tahun 2014 sewaktu saya mengunjungi museum tersebut koleksi foto-foto repronya sangat Banyak. Entah sistem kurasi yang bagaimana kemudian diterapkan atau pertanyaan mendasarnya adalah, adakah kurator yang berperan besar dalam menentukan koleksi mana yang harus dipajang dan yang mana tidak?
Saya rasa tidak ada.
Mungkin kita bisa bersama-sama mengecek semua museum di Bali, dari yang dikelola pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan swasta (mungkin terkecuali Museum Pasifika, di kawasan BTDC Nusa Dua. Karena peruntukan untuk para pelancong/wisatawan manca negara dan koleksinya juga menampilkan karya-karya sekelas Paul Gaugin. Jadi secara manajemen permuseuman dan tata display sedikit tidaknya melibatkan kurator).
Padahal peran kurator sebelum masuk ke wilayah medan sosial seni rupa dalam ruang yang lebih bebas semacam galeri komersil, art space, dan lain-lain, adalah berperan besar dalam hal riset koleksi permuseuman. Selain juga berperan menentukan kelayakan karya seni atau artefak yang akan dikoleksi, menentukan koleksi mana yang akan dipajang dalam pameran tetap atau temporer, menimbang ruang agar tata display memiliki nilai ergonomis terhadap pengunjung yang datang.
Selain itu, peran kurator juga membangun wacana melalui jejaring terkait untuk isu-isu yang mampu menarik minat masyarakat agar mau berkunjung ke museum. Sebagaimana Judith Rugg dan Michele Sedgwick dalam bukunya Issues in Curating Contemporary Art and Performance pada bagian pertama yang menjelaskan tentang kesejarahan dan peran kurator.

Di Museum Buleleng kini dalam pajangannya tentang pelukis Singaraja hanya menampilkan sedikit karya dari repro foto yang dibawa oleh ibu Hedi Hinzler dari Leiden dan di tahun 2014 saya jumpai di museum pasca event Buleleng Festival. Kini hanya 3 repro foto karya lukis I Ketut Gede Singaraja dengan ukuran lebih besar dipajang pada sayap kiri bangunan dinding selatan pada ruang pertama (dari sudut pandang pengunjung), dan beberapa repro berukuran kurang lebih seukuran kertas A4 dengan laminating terpajang pada sketsel.
Selain itu repro foto karya lukis dan potrait figur Dalang Banyuning, dan ada nama pelukis Wayan Dasta. Padahal sebelumnya ada repro foto lukisan dari pelukis Bali Utara lainnya yang namun tidak teridentifikasi namanya sehingga disematkan “unknown artist from North Bali”.
Menilik repro foto lukisan karya Wayan Dasta, nampaknya lebih sederhana dalam penggambaran figurnya, ia lebih banyak mengandalkan garis kontur yang tegas, dengan menambahkan satu lapis warna untuk efek sigar yang mengesankan plastisitas tubuh agar terkesan bervolume sebagaimana ia merepresentasikan seorang petani yang sedang membajak sawah. Bahkan pada satu karyanya yang menggambarkan seorang petani dengan baju kuning dan sedang memegang padi sigar mangsi tidak diterapkan, jadi tubuh figur hanya dibentuk dari ketegasan garis.

Karyanya yang lain menggambarkan dua orang figur wanita dengan kulit yang mungkiin diinterpretasikan “berkulit kuning langsat” memakai pakaian dengan kancing baju bundar dan motif polkadot, rambut setengah dipusung dan setengah lagi terurai sedang memegang tanaman padi. Secara tematik karya Wayan Dasta menggambarkan suasana kehidupan bertani, pembajakan sawah, dan padi. Cara penggambarannya pun serupa dengan Dalang Banyuning, terfokus pada figur, tanpa latar belakang, ataupun motif ukiran dengan fungsi dekoratif.
pelukis dengan label “Unknown Artist from North Bali” memiliki kekhasannya tersendiri dibandingkan karya I Ketut Gede Singaraja, Dalang Banyuning, maupun Wayan Dasta. Ia membuat figur-figur wayang nampak lebih ramping dan panjang pun dengan narasi tunggal. Sebagaimana repro foto karya yang berjudul “Bagadata dan Aswatama”, “Dussasana dan Pratipeya”, dan “Hanoman dan Mredah bertemu Sempati”.

Efek pemanjangan tubuh figur tersebut menimbulkan distorsi dan sangat tidak proporsional sebagaimana proporsi wayang pada lukisan wayang umumnya. dengan adanya pemanjangan tubuh ini secara otomatis membuat atribut figur wayang menjadi kedodoran alias terlihat kebesaran. Melihat karya-karya ini pikiran saya terpaut dengan lukisan wayang dengan media kaca yang dipopulerkan oleh Jero Dalang Diah dari Nagasepaha, di awal perkembangannya yang menjadi fokus adalah figur wayang sedangkan latar belakang dibuat kosong bersih.
BACA JUGA:
Pertama kali melihat pola distorsi tubuh yang dibuat oleh Unknown Artist from North Bali, seketika saya menjadi teringat dengan narasi besar sejarah seni rupa Bali, tentu saja I Gusti Nyoman Lempad karib dari Tuan Tepis dan Bonnet. Dalam satu periode lukisannya, I Gusti Nyoman Lempad banyak menggambarkan tubuh wayang yang dipanjangkan sehingga kemudian lebih dikenal dengan pola-pola pendistorsian tubuh dalam figur-figur wayangnya, setelahnya, pola pemanjangan tersebut mewabah dalam perwujudan patung-patung kayu.
I Ketut Gede Singaraja, Dalang Banyuning, Wayan Dasta, dan Unknown Artist from North Bali adalah empat dari sekian banyaknya pelukis Singaraja yang hidup pada medio 1800 sampai 1940an. Saya kembali membuka buku Catalogue of Balinese Manuscripts yang disusun oleh ibu Hedi Hinzler berdasar pada karya lukisan yang dikoleksi oleh Van der Tuuk.

Di dalam buku tersebut terungkap bahwa di masa medio 1800 tercatat 14 seniman yang dipilih oleh Van der Tuuk untuk mengerjakan ilustrasi yang akan mengilustrasikan istilah dalam proyek ambisiusnya yaitu buku kamus tiga bahasa Kawi-Bali-Belanda sebagaimana ia menyelesaikan hal serupa sewaktu di Batak yaitu kamus Batak-Belanda, sembilan orang pelukis dari Singaraja, dua orang pelukis dari Badung salah satunya terindentifikasi adalah Ida Made Telaga dari Griya Sanur, sisanya random di wilayah Bali Selatan.
Kita dapat membayangkan kurun waktu tersebut terjadi regenerasi pelukis di Singaraja, realitanya adalah dalam catatan W.O.J Nieuwenkamp yang mencatat dan berinteraksi dengan pelukis Dalang Banyuning dan Wayan Dasta, dan mungkin juga lainnya yang masih tersembunyi rapi informasinya juga terawat dengan baik dalam bilik-bilik koleksi Leiden. Ah museum memang memiliki cara tersendiri merumitkan masalah, begitu dalam pikiran saya malam ini. [T]
Penarungan, Singaraja 2019
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...