- Judul : Di Kota Tuhan
- Penulis : Stebby Julionatan
- Tebal buku : xiv + 74 halaman
- Penerbit : Indie Book Corner
- Cetakan : 2018
- ISBN : 978-602-309-333-5
___
Sesuatu yang baru ditawarkan Stebby Julionatan ketika saya membaca buku Di Kota Tuhan dengan mengangkat tema lokalitas pada puisi-puisinya. Sebelum saya lanjut meresensi buku ini alangkah baiknya kita mengingat satu ungkapan yang tak asing lagi.
JasMeRah - Jangan
Melupakan Sejarah.
Sejarah sebagai akar dan
memiliki andil dalam kehidupan manusia yang pernah terjadi
di masa lampau, agar generasi sesudahnya tidak kehilangan referensi.
Sebagai penyair muda
Stebby berusaha me-review, mengabarkan, dan mengabadikan
sejarah melalui karya sastra. Ia nampak piawai bertutur dan sangat akrab sekali dengan
hal-hal yang melekat pada dirinya baik sebagai individu ataupun sebagai Putra
Probolinggo. Tentu saja hal ini akan memberi nilai tambah untuk karyanya karena pembaca bisa ikut
menikmati napak tilas kota kelahirannya dengan luwes dan tidak membosankan
sebagaimana jika kita belajar sejarah di bangku sekolah atau membaca literatur
lainnya.
Upayanya tersebut tidak
hanya memberikan penikmat bukunya suguhan karya
sastra, namun juga sejumlah pengetahuan tentang sejarah khususnya beberapa
tempat, kuliner, juga budaya
yang lekat dan berkembang di Probolinggo.
Tidak bisa dipungkiri
bahwa tak sedikit penyair yang mengangkat tema lokalitas pada karya-karya
mereka. Namun Stebby sangat cerdik dalam hal ini dan ia berhasil
menjadi pembeda dari penyair lainnya. Stebby memberi sentuhan khas pada bukunya yaitu
mengkolaborasikan antara sejarah dengan kitab suci sebagai literatur. Sekali
waktu keduanya saling menguatkan atau bahkan berbenturan.
Sebagai
buku sastra, Di Kota Tuhan sangat menarik. Empat puluh empat puisi yang terbagi
dalam dua bab sangat ideal untuk sebuah buku kumpulan puisi.
Pada bab Midrash
Pertama, saya banyak melihat Stebby menyelipkan perjalanan pribadi maupun
rohaninya mulai dari bocah sampai masa remaja. Menarasikan tempat-tempat di
kota kelahirannya atau beberapa kejadian yang nampak memiliki nilai historis
bagi dirinya. Penggunaan gaya bahasa bertutur dan kepandaian pemilihan kata
yang membuat puisinya menjadi terlihat menarik.
Sebut
saja puisi yang
saya salin secara utuh ini.
Surga Adalah Masa
Kanak-Kanak yang Gugur Setelah Biru Mampu Membaca Azab Neraka
Surga adalah masa
kanak-kanak. Sisanya adalah janji Tuhan yang bebas kau percaya ataupun tidak.*)
Di tempat ini kami
bermain bendan, lompat tali, dan patil lele/ Terkadag
juga pasaran/ Atau benteng-bentangan/ Memberi makan kambing-kambing Mak Imam/ Mengusili Pak Imam,
suaminya - dengan mengayuh becak yang terparkir di kebun kala siang.
Masa-masa es dawet Pak
Jumali masih bisa kusesap dengan berhutang/ Sebab semua pembayaran apa kata Papa,
kala ia datang/ Seperti Daud yang membayar lunas hutang Saul pada orang-orang
Gibeon/ Atau sarapan nasi pecel di warung depan rumah/ Gerombolan bocah bandel.
Mborang. Rumah Oma,
tempat aku menunggu Papa dan Mama pulang/ Lebih banyak kuhabiskan dengan
bermain ketimbang belajar - apalagi berdoa/ Mendengarkan dongeng-dongeng Oma
sampai air bah menyusut. Busur awan yang dijanjikan Tuhan pada Nuh, setelahnya/
Ninil, Elok, Mas Wargi, Joko, Berry, Ghofur, dan entah siapa lagi temanku/kami
seperti dongeng kanak-kanak yang luruh digilas waktu/ yang coba aku hidupkan
kembali.
Dan seperti dongeng,
seiring tumbuh mereka tercerabut satu per satu dari pohon kanak-kanakku/
Terlebih semenjak aku mampu membaca kitab Azab Neraka//
Pada puisi
ini, Stebby bercerita tentang
masa kecilnya yang masih sangat akrab dengan permainan-permainan tradisional,
penuh keisengan layaknya bocah kecil pada umumnya. Juga kerinduan mendengar
dongeng-dongeng Oma yang mungkin saja saat ini sudah berangsur menjauh dari
kehidupan modern.
Puisi ini memantik
pembaca untuk mengingat dan menikmati hal-hal yang memang sudah tercerabut
karena zaman. Kita sangat tahu di era
revolusi industri 4.0 pasti sangat sulit menemukan bocah yang masih asik dengan
permainan tradisional dan Stebby berhasil me-review melalui puisinya.
Selain itu ada satu puisi yang juga sangat menarik dengan judul Menara Air:
Kau seperti menara/
Menjulang di antara mega-mega/ Rabu, kita bertemu kembali di Minggu Palma, tapi
kau tidak menyapa/
Kata Opa tinggi Menara
Air ini adalah permukaan Ronggojalu/ Kira-kira setinggi apa permukaan hatimu?//
Puisi ini adalah puisi
paling pendek pada bab Midrash Pertama. Puisi ini berusaha menyampaikan
keromantisan, namun tetap tidak jatuh pada klise karena kekuatan kata
yang dipilih oleh Stebby.
Pada Midrash Kedua
berisi sembilan puisi yang diselesaikan Stebby selama lima bulan dalam tahun
2017. Meski dengan tema yang sama namun tidak akan muncul kebosanan dalam
membaca buku ini. Stebby memberi sentuhan tipografi yang berbeda dalam Midrash
Kedua pada puisi-puisinya.
Buku Di Kota Tuhan ini menjadi unik karena mampu membungkus sejarah dalam karya sastra dengan lokalitas budaya yang mengasyikkan [T]