Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Saya teringat dengan kata salah seorang sahabat yang ahli di bidang aksara tentang permuseuman bahwa "museum adalah cerminan bangsa" sambil menyeruput kopi yang dingin, waktu itu ia usai berkunjung ke Museum Nasional Indonesia yang penataan koleksinya masih agak kurang baik terutama pada penempatan arca. Sontak setelah ia mengatakan hal itu pikiran saya langsung membayangkan museum-museum di Bali, baik yang dikelola oleh pihak pemerintah provinsi, kabupaten/kota hingga swasta yang pernah saya kunjungi. Ya banyak hal yang tentunya harus dibenahi dari permuseuman di tanah yang katanya surga dewata ini, ya banyak hal.
Di balik segala hal kekurangan itu tidak sedikit hal mengejutkan kemudian saya jumpai, salah satunya di Museum Buleleng. Museum ini berdampingan dengan gedung terbuka Sasana Budaya, juga Gedong Kirtya di sebelah barat, dan di selatannya adalah Puri Gede Buleleng. Tahun 2014 lalu saya menjumpai repro foto arsip dari Leiden yang didisplay di dalam museum, yang mencuri perhatian saya adalah deretan repro foto lukisan yang setelah saya simak adalah pelukis Singaraja. Ada beberapa nama yang saya paling ingat adalah I Ketut Gede Singaraja yang kini jadi bahan riset saya dan Dalang Banyuning yang didokumentasikan oleh W.O.J Nieuwenkamp berangka tahun 1906.

Di bilik pertama di Museum Buleleng, terpaku pada sketsel sayap timur, potrait repro figur Dalang Banyuning dapat dijumpai. Berangka tahun 1906, Dalang Banyuning kira-kira telah berumur kira-kira 60-70 tahun dilihat dari air muka dan gestur tubuhnya, terlebih ketika membuka buku W.O.J Nieuwenkamp First Europan Artist in Bali yang ditulis oleh Bruce w. Carpenter, terdapat foto Nieuwenkamp yang duduk diatas dulang sedang memegang alat dan bahan gambar sedangkan Dalang Banyuning duduk di bawah sedang melukis gerabah.
Dari catatan Nieuwenkamp saya menjadi tahu bahwa perkembangan medium lukis di Singaraja pada awal abad 20 sudah merambah ke gerabah. Tentu saja berbarengan dengan itu warna yang dipergunakan mungkin tidak lagi dengan warna Bali, sebagaimana kita menyebut suku warna semacam mangsi, kencu, pere, dan lainnya yang direkatkan dengan lem ancur.
Sebagaimana Adrian Vickers dalam Balinese Painting and Drawing menyatakan bahwa awal mula lukisan Bali berevolusi dari induknya di Kamasan (lukisan wayang Kamasan) adalah sewaktu I Ketut Gede Singaraja mulai melukis dan mendapat sokongan alat dan bahan melukis dari Van der Tuuk, dan saya rasa evolusi seni lukis Bali di mulai dari Singaraja.
Dalang Banyuning tentu saja mengalami fase evolutif yang disebut masa eksperimental oleh Vickers yang dimotori oleh I Ketut Gede Singaraja pada medio 1800an. Dari arsip Nieuwenkamp, dapat dibaca jelas yang pertama tentu saja adalah medianya yang berupa gerabah. Objeknya yang lebih tepat adalah gerabah dengan fungsi menyimpan uang atau celengan. Gambarnaya dalam foto repro menampilkan seorang laki-laki yang duduk dibawah sedang meminum air, dan pedangan wanita duduk di atas kursi sedang menyajikan makanan, dan latar belakangnya ditambahkan motif awon-awonan.

Kedua adalah cara Dalang Banyuning menyatakan lukisannya. Di samping repro foto lukisannya pada media celengan gerabah, terdapat lukisannya pada media kertas. Di sini dapat kita temukan barisan prajurit dengan membawa atribut seperti kober dan tombak berbaju merah dan putih berbintik, proporsi tubuh figur menunjukan proporsi pinggang hingga kaki yang lebih panjang. Tidak adanya objek lain di latar belakang, begitu juga jajaran waton (bebatuan) sebagaimana tradisi melukis di Kamasan.
melihat repro foto ini, seolah pandangan digiring untuk hanya fokus pada prajurit, menjadi narasi yang tunggal tanpa tambahan objek di tiap latarnya.
Ya, Museum Buleleng bagaimanapun juga memberikan saya pembelajaran mengenai sejarah seni rupa khususnya lukisan yang sempat berada pada puncak capaian artistiknya. Hal ini menjadi pengaya sejarah seni rupa Bali, akan tetapi realitasnya sungguh mengenaskan. Siapa yang mengetahuai keluarga Dalang Banyuning? Tidak ada yang tahu sekalipun bertanya di sepanjang jalan Gempol atau masuk ke gang—gang sempitnya, apalagi keluarga I Ketut Gede Singaraja? Makin parah tidak ada yang tahu bahwa Singaraja mempunyai pelukis hebat pada era Van der Tuuk.
Perubahan di Singaraja sangatlah dinamis, lima tahun saya studi di Singaraja merasakan ekstrimnya perubahan dalam sosio-kultural masayarakat. Jangankan pelukis yang bertahun 1800-1930an, tempat fotocopy yang seingat saya dulu kecil kemudian sempat berjaya di timur kampus bawah saja sebelum saya tamat sudah menunjukan gelagat akan tutup dan benar saja kini tak berbekas. Sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa perubahan itu mutlak dan semoga saya bagian dari orang bijak itu, semoga, semoga, semogaaa.
Penarungan, Singaraja 2019
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....