Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Umur yang kian bertambah seakan membuat hidup semakin kompleks. Terlebih lagi dengan berbagai tuntutan kehidupan, kebutuhan akan sandang, pangan dan papan, urusan pekerjaan dan belum lagi bagi yang sudah berkeluarga. Stres itu yang kadang dihadapi dan membuat kita tidak bisa menikmati hidup.
Masih ingatkah kalian dengan masa anak-anak kalian dulu? Saat kalian hanya tahu berebut mainan dengan teman tanpa memikirkan berbagai macam lini kehidupan? Masih kah kalian bisa membayangkan bagaimana kita dulu bahagia tanpa memikirkan esok hari?
Ingatan-ingatan itu serasa berurai ketika saya bekerja dengan anak-anak dan terlibat lagi dalam project sosial bersama anak-anak. Dari anak-anak kita belajar. Kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan. Saya akan mencoba mendeskripsikan bagaimana saya belajar dari anak-anak dan dari apa yang saya pelajari, saya berusaha memperbaiki diri.
Pertama, anak-anak secara tidak sengaja mengajarkan kita tentang ke “orginalan” diri. Tentang keaslian diri dan tidak mengikuti gaya orang lain. Anak-anak bebas dengan dirinya, tidak terbelenggu dan terjerat dalam pikiran buruk orang lain terhadap diri kita. Saya memahaminya ketika waktu kuliah saya ikut salah satu komunitas yang bergerak membantu anak-anak terpencil.
Di sana saya melihat bahwa keotentikan diri itu penting. Kamu berharga. Kamu berbeda. Tidak apa-apa berbeda. Dari sana saya belajar mencari keaslian diri saya. Diri saya yang otentik, yang asli dan murni. Merenung. Itulah yang saya lakukan. Kemudian sesekali saya bilang ketika bercermin, “Tugasmu bukan untuk meniru orang lain. Tapi yang harus kamu lakukan adalah tetap menjadi dirimu sendiri yang sejati dengan kelebihan dan kekuranganmu dan bertumbuh menjadi versi terbaikmu setiap hari”.
Kedua, anak-anak mengajarkan kepada kita untuk tetap bersikap baik sekalipun kepada teman yang tidak kita sukai atau yang membicarakan kita. Bersikap baik tidak sulit tetapi jalannya berliku dan naik turun tetapi harus tetap dilakukan. Lihatlah anak-anak tidak pernah membeda-bedakan temannya ketika bermain. Mereka bermain dengan siapa saja, tanpa membedakan paras, kedudukan, dan uang. Saya melakukan hal ini dalam diri saya dengan belajar untuk mengontrol pikiran saya dan tidak terjebak pada pikiran buruk orang lain terhadap diri saya. Kita sebagai manusia tidak bisa menyenangkan semua orang.
Ketiga, anak-anak mengajarkan tentang kesederhanaan dan penerimaan diri. Kesederhanaan itu terpancar ketika orang tua membelikan baju apapun ke saya, saya pasti menerimanya. Tidak ada gengsi, takut kelihatan jelek dan pikiran-pikiran lain. Saya mencoba mengimplementasikannya dalam hidup dengan selalu bersikap biasa aja dan mencoba mengurangi kadar gengsi dalam hidup saya.
Ketika saya melihat teman teman saya di season liburan ini pergi ke luar negeri, liburan ke suatu tempat yang mahal, memang ada perasaan-perasaan lo kok aku ga bisa ya? Tetapi lambat laun saya belajar bahwa semua ada massa dan waktunya. Apabila kita terus membandingkan hidup kita dengan orang lain, maka itu akan mengurangi rasa syukur kita terhadap hidup. Belajarlah merubah fokus dalam hidup. Fokus pada apa yang kamu punya bukan apa yang kamu belum miliki.
Selamat belajar dari anak-anak. Belajar tentang kehidupan bukan saja dari anak-anak. Setiap orang, setiap tempat dan setiap waktu adalah proses belajar. Karena hidup adalah universitas yang sesungguhnya, begitu pesan bapak saya kala itu. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...