Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

Pranita Dewi
by Pranita Dewi — Juni 15, 2019 in Puisi

Tatkala.co

BENTENG


Mayat yang tertidur itu kaku. Tak terkubur

tak berumur.


Ia telah mengenal kekalahan dengan nafsi,

dan tahu pasti, ia akan segera dihukum mati


Tetapi ia tetap tatap berdiri


Wahai! Nikmatilah wajahku yang segar ini

Datanglah kalian para serdadu negeri

dan tembaklah aku dengan nyeri,

katanya, sebelum senapan menembus dahinya


Memang ia pernah mendengar sebelumnya

nujuman ini, akhir ihwal ini

ia melihat garis edar hari,

membaca peruntungan dan

percayalah ia kini,

lengannya akan mengantarnya

ke kuburan!


Di luar pagar,

hasratnya, yang tinggi bagai

tumpukan jerami,

menyala lagi


Ia mengenang kembali

demarkasi

antara ujung-pangkal

kekalahan dan kemenangan


Tetapi ia tetap tatap

tidak bergerak


Pada akhirnya kematian itu nisbi

Di dalam dadanya berkecamuk rasa pasi

Maut menjadi kemudi

dan ia temukan mayat dirinya

kaku. Tak terkubur. Tak berumur

Di luar benteng dan tembok gergasi


2015 – 2018


CHAPLIN


Dengarkanlah aku yang sungguh-sungguh

kebingungan ini; seperti si bisu

bagai badut tolol, menggunakan

tangan dan simbol untuk

bicara kepadamu dan terus-terusan

karam dalam mimpi ketika tersenyum


Bibir yang tak pernah dihuni suara ini

Berbicara padamu dengan simbol

lambaian tangan;

kau tak akan menemukan aku bernyanyi

di depan panggung atau memaki

bayanganku di depan cermin sendiri


Maka dengarlah aku dalam jiwa gelap

dari mulut-mulut gulita yang

bernyanyi tanpa tepi, o, menjadi si kembar

dari kesunyian ini.


Sementara engkau menyanyi, meraung

di dangau-dangau, dalam ratap merayu,

menelan hilang suaraku


Kau tak akan pernah menemui aku bernyanyi

di depan panggung atau memaki

bayanganku di depan cermin sendiri

bertanya-tanya, menanyakanku; adakah akhir

bagi jiwa yang lebih silam dari gulita? 


Sebab kini telah aku tanggalkan bunyi yang

kerap menjadi musuhku, dan telah

kunyawakan gerak yang menunjukan

jalanku 


2012-2018


EPISODE


Bagi seorang pemurung sepertiku

jagat ini seluas rasa sedihku.

Mimpi-mimpi bertumpukan

mengarah ke satu peti mati:


Aku akan mati.


Dari celah kakiku kini menyelip

putih bulir pasir

pasir beribu, kering, dan sedikit

berbatu.


Muramlah cakrawala senja hari

muramlah si jelita

di bawah cerlang cahaya:

habis terbakar matahari

yang selalu terbit di awal hari


Matahari, kuntum luna yang jingga,

sulaman nyawa

nyanyian fana

di kegelapan


Dari sipit mataku

tercermin kebekuan malam

kerak masalalu menetas

menyerupai lentera perak 

mengubah hati menjadi riak


Akan kutunggu engkau menjemputku


Engkau yang menaburkan emas di rerumputan,

Engkau yang beringas memberi titik sebelum

kata terakhir,

Engkau yang bersembunyi di semak berimbun,

di penghabisan jiwa yang tertegun, 

di mana setiap raga menemukan pemukiman

paling kuat.


Dan begitulah

pagi akan mulai kembali

daun-daun mengatup berjatuhan

bara abu seluas lautan

gentar pada tiang-tiang

mimpi dan pengharapan

bertumpukan di peti mati


O, alangkah sunyi mati.


2013

Tag: Puisi
Avatar

Pranita Dewi

Related Posts
Cerpen

Pria dengan Rasa Jeruk

BY Ferry Fansuri Februari 05, 2017

Cerpen: Ferry Fansuri SESAK penuh dan bau keringat, itu yang terlihat di sepanjang perjalananku dalam bis ekonomi dari Tegal menuju Jakarta. Berdesakan dengan berbagai ragam manusi...

Read More