Begitulah, pagi itu kami menyapa Ubud yang asri.
Memasuki Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali, keasrian
lingkungan Ubud sudah terlihat. Tidak ada sampah. Pohon-pohon kamboja
merindangi jalan. Bule-bule lari pagi memakai singlet, dengan raut muka menyala
oleh keringat. Warga banjar nampak sedang menyapu bunga kamboja, yang mungkin
tadi malam terlepas dari tangkainya.
Kami berempat memasuki Ubud. Saya, Putu Murahman,
Kadek Riski dan Agung Darma. Mengayuh pedal dengan riang gembira. Rekreasi di
hari Minggu.
Dari Banjar Nyuh Kuning itu kami menuju Monkey
Forest, salah satu destinasi andalan Ubud. Melewati sebuah jalan pintas di tepi
hutan Monkey Forest. Jalan yang agak rusak, membuat pantat kami terasa tidak
nyaman, sebab roadbike yang kami bawa
adalah jenis sepeda tanpa alat peredam kejut.
Sepagi itu kera-kera sudah banyak berkeliaran.
Mereka ternyata rajin bangun pagi. Seekor kera sedang bermalasan-malasan, tidur
sambil memeluk anaknya di bale bengong. Tingkah mereka mirip kita ya.
Jangan-jangan, teori evolusi Darwin itu mendekati kebenaran.
Kami berempat berfoto di depan Monkey Forest, spot wajib bagi para pesepeda yang
melewati daerah ini. Kemudian kami gowes mengeliling Ubud. Ubud yang baru saja
terbangun dari tidurnya, dan sedang berdandan pagi ini. Restoran-restoran belum
pada buka.
Kami mengelilingi Ubud yang seperti metropolitan
mini. Sebuah miniatur tempat tinggal bagi penghuni lintas negara. Ubud kecil
yang namanya sudah sebesar bola dunia. Saking terkenalnya, sebuah film besar
yang dibintangi artis terkenal Julia Robert pernah mengambil beberapa adegan di
Ubud ini. Dan Antonio Blanco, pelukis besar itu, jatuh cinta dan tinggal di
Ubud sampai meninggal dunia.
Di depan Monkey Forest, Ubud
Bicara tentang Ubud, saya selalu teringat dengan
semangkok bubur kacang ijo di Banjar Nyuh Kuning. Harum bubur itu tercium
sampai di Marga di tempat tinggal saya di Tabanan. Bukan cuma sampai Marga,
tapi sampai di Kuta. Buktinya, seorang pesepeda jauh-jauh dari Kuta ke Ubud,
hanya untuk menikmati semangkok bubur kacang ijo ini, terus balik lagi ke Kuta.
Bukan sekedar bubur kacang ijo biasa. Itu adalah bubur kacang ijo yang khas. Ada irisan ketela, pisang, keladi, injin, santan dan kacang ijo yang menyatu untuk membuat rasa yang lezat. Sehingga semangkok bubur ini membuat saya jatuh cinta. Kacang ijo yang menerbitkan rasa rindu untuk dicari. Kuliner khas Nyuh Kuning, dari sebuah warung kecil sebelah selatan lapangan bola.
Pas, ketika menikmati bubur ini, pandangan kita akan tertuju pada hijaunya rumput lapangan bola itu. Sering anak-anak bule latihan bola di sana. Minggu kemarin, sekelompok orang latihan olah gerak dan pernafasan di atas rumput hijau itu.
Iya, setelah keliling Ubud sampai berpeluh, kami
kemudian memarkir sepeda di depan warung bubur Nyuh Kuning itu. Trio Colnago
yang ditemani satu Polygon terpakir rapi. Merek impor dan merek asli Indonesia.
Sampai saat ini saya masih setia memakai merek Polygon, tak tergoyahkan, belum
tergoda oleh merek impor.
Sambil menikmati bubur kacang ijo yang lezat, kami
ngobrol ngalor ngidul, mengalir ke mana-mana. Tentang sepeda, tentang cara
bersepeda yang benar, dan juga mengenang kembali almarhum Nanang Made Sukanada
yang telah berpulang ke alam lain. Sepeda roadbike
merek Colnago peninggalan Nanang, sekarang diwarisi anak laki-lakinya.
Sepeninggal beliau, Kadek Riski, anak Nanang laki satu-satunya, sekarang aktif
bersepeda. Gowes dengan semangat menyala-nyala.
“Ternyata bersepeda itu menyenangkan, Pak,” ucap
Kadek Riski suatu ketika.
Dan mungkin gowes perdana ini bisa merintis awal
dari terbentuknya Marga Roadbike Community, sebuah komunitas sepeda pecinta
gowes jalan raya. Setidaknya sekarang, dengan kehadiran Kadek Riski dan Agung
Darma ini, dua perjaka tingting ini akan meramaikan sekaa gowes di Marga. Entah, masihkah mereka perjaka di jaman now ini ya…hehehe
Ngobrol sekitar satu jam di warung bubur itu, kami
pun bergegas lagi. Gowes pulang ke Marga. Iya, harum bubur Nyuh Kuning telah
menggoda kami untuk gowes ke Ubud.
Selamat Ubud! Kami akan datang lagi ke Ubud,
khususnya menikmati bubur kacang ijo Nyuh Kuning ini di pagi-pagi yang akan
datang. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...