Dua film
dokumenter karya remaja Denpasar ditayangkan di ajang Kongres Dunia Organisasi
Kota-kota Warisan Dunia (The Organization of World Heritage
Cities -
OWHC) ke-15
yang digelar di Krakow, Polandia (2-5 Juni 2019).
Dua film
tersebut adalah “Penempa Bara” karya AAI
Sari Ning Gayatri (SMAN 3 Denpasar) dan
“What Makes Denpasar” karya Made Cahya Satrya Hariantha(SMAN 4
Denpasar). Kedua karya tersebut diputar
bagi para delegasi yang berasal dari 250 Kota Pusaka di seluruh dunia karena
berhasil terpilih sebagai finalis Kompetisi Internasional Produksi Video OWHC
2019.
Film “Penempa
Bara” tampil sebagai finalis di Kategori usia 14-17 tahun. Karyanya bersanding
dengan "World Heritage Cities – puzzles of specialities" (Lukas Hein,
Jerman), "Meeting Budapest" (Kings Team, Hungary), "Rare Pearl
of Cultural Heritage” (Rena Abilova, Azerbaijan), “Tsar’s Dream” (Valeria
Sindimirova, Russia), “One day in
Krakow” (Jan Dabek, Polandia), “Views from Philadelphia” (Faith Applegate ,
Amerika Serikat), “24 hours in the UNESCO World Heritage City Regensburg”
(Marlon Heise, Jerman), "Voir Saint-Pétersbourg et commencer à vivre"
(Diana Burgli, Rusia), “Time warp in Salzburg” (Zemmari Bloomfield, Austria),
“Home to Heritage” (Zachary Goodwin, Amerika Serikat), dan “Thousand years
standing tall” (Amir Hossein Dehghan Banadaki Yazd, Iran).
Sedangkan “What Makes Denpasar” karya Made Cahya Satrya Hariantha berhasil sebagai finalis di kategori usia 18-21 tahun bersanding dengan karya-karya remaja lain dari berbagai negara seperti "My Little Budapest" (Fanni Borbás, Hungaria), "Évora, a city that" (Maria Ciobanu, Portugal), "If you had one day in Galle fort" (Sandaru Silva, Sri Lanka), "Amazing city – Baku" (Nihad Nebili, Azerbaijan), "Join me, in Jongno" (Yueun Baek, Korea), "Kazan, love in differences" (Adilya Sharafieva, Russia), "Kraków 2019" (Laura Basiaga, Polandia), "One day in Kutna Hora" (Josef Krcil, Republik Czech), "Olinda, that’s where I see" (Marcela Cavalcanti & Pedro Ramos (Brazil), "Brotherly Love" (Lindsey Cooper & Carly Dunbar, Amerika Serikat), "St. Petersburg is…" (Aleksandra Tereschenko, Rusia), "The River City" (Grace Goen, Amerika Serikat), "Visitando un día MI CIUDAD" (Rodrigo Verdugo Vicente, Spanyol), dan "Vienna - A World Heritage" (Tobias Katlein, Austria).
Film “What Makes Denpasar” karya Made Cahya Satrya Hariantha (SMAN 4 Denpasar)
Film “Penempa Bara” karya AAI Sari Ning Gayatri (SMAN 3 Denpasar)
Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang hadir pada acara tersebut merasa bangga menyaksikan karya-karya dokumenter remaja Denpasar bisa berbicara di kancah internasional.
“Ini
menunjukkan bahwa potensi perfilman di Denpasar sangat luar biasa,” ujarnya.
Rai Mantra
hadir memimpin rombongan pada acaraKongres OWHC ke-15 tersebut karena Denpasar
merupakan anggota OWHC yang telah tergabung sejak Oktober 2012. Tahun ini
kongres OWHC mengusung tema “Warisan dan Pariwisata: Komunitas dan pengunjung
lokal - berbagi tanggung jawab”. Sebuah
komite ilmiah bekerjadi bawah arahan
Profesor Jacek Purchla, Presiden Komisi Nasional Polandia untuk UNESCO, dan
Peter Debrine sebagai Project Officer merancang Program Pariwisata
Berkelanjutan di Pusat Warisan Dunia UNESCO.
Sementara itu
Maria Ekaristi,Manager for the local part of the Video Competition of
the OWHC, yang
mengawal para siswa tersebut sejak seleksi, pelatihan, pendampingan produksi,
hingga pengiriman karya, mengatakan bahwa tampilnya karya-karya remaja Denpasar
sebagai finalis di ajang kompetisi video OWHC bukan yang pertama. Pada 2015
terpilih sebagai finalis “Layang-layang” (Resha Arundari, SMPN 3 Denpasar) dan “Warisan Nak Lingsir” (Made Arya Wibawa,
SMAN 3 Denpasar). Sedangkan pada 2017 tampil
sebagai finalis Sang Penjaga Beji (AAI Sari Ning Gayatri, SMAN 3 Denpasar) dan “Tradisi Turunan” (I Putu Sathyana
Rayana, SMKN 1 Denpasar)
Menurut
Ekaristi, keterlibatan para siswa Denpasar dalam ajang OWHC merupakan arahan
dari Walikota Denpasar pada awal 2012 untuk memperkenalkan Denpasar sebagai
kota pusaka melalui karya dokumenter. Namun, Denpasar belum bisa
mengikuti kompetisi video (yang diselenggarakan setiap tahu ganjil) pada tahun
2013, karena syarat utama untuk ikut serta adalah telah menjadi anggota OWHC
sedikitnya selama tiga tahun. Maka pada Mei 2012 dimulailah proses pendaftaran
Kota Denpasar untuk menjadi anggota OWHC. [T]
[***]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...