17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Dua film dokumenter karya remaja Denpasar ditayangkan di ajang Kongres Dunia Organisasi Kota-kota Warisan Dunia (The Organization of World Heritage Cities - OWHC) ke-15 yang digelar di Krakow, Polandia (2-5 Juni 2019).
Dua film tersebut adalah “Penempa Bara” karya AAI Sari Ning Gayatri (SMAN 3 Denpasar) dan “What Makes Denpasar” karya Made Cahya Satrya Hariantha(SMAN 4 Denpasar). Kedua karya tersebut diputar bagi para delegasi yang berasal dari 250 Kota Pusaka di seluruh dunia karena berhasil terpilih sebagai finalis Kompetisi Internasional Produksi Video OWHC 2019.
Film “Penempa Bara” tampil sebagai finalis di Kategori usia 14-17 tahun. Karyanya bersanding dengan "World Heritage Cities – puzzles of specialities" (Lukas Hein, Jerman), "Meeting Budapest" (Kings Team, Hungary), "Rare Pearl of Cultural Heritage” (Rena Abilova, Azerbaijan), “Tsar’s Dream” (Valeria Sindimirova, Russia), “One day in Krakow” (Jan Dabek, Polandia), “Views from Philadelphia” (Faith Applegate , Amerika Serikat), “24 hours in the UNESCO World Heritage City Regensburg” (Marlon Heise, Jerman), "Voir Saint-Pétersbourg et commencer à vivre" (Diana Burgli, Rusia), “Time warp in Salzburg” (Zemmari Bloomfield, Austria), “Home to Heritage” (Zachary Goodwin, Amerika Serikat), dan “Thousand years standing tall” (Amir Hossein Dehghan Banadaki Yazd, Iran).
Sedangkan “What Makes Denpasar” karya Made Cahya Satrya Hariantha berhasil sebagai finalis di kategori usia 18-21 tahun bersanding dengan karya-karya remaja lain dari berbagai negara seperti "My Little Budapest" (Fanni Borbás, Hungaria), "Évora, a city that" (Maria Ciobanu, Portugal), "If you had one day in Galle fort" (Sandaru Silva, Sri Lanka), "Amazing city – Baku" (Nihad Nebili, Azerbaijan), "Join me, in Jongno" (Yueun Baek, Korea), "Kazan, love in differences" (Adilya Sharafieva, Russia), "Kraków 2019" (Laura Basiaga, Polandia), "One day in Kutna Hora" (Josef Krcil, Republik Czech), "Olinda, that’s where I see" (Marcela Cavalcanti & Pedro Ramos (Brazil), "Brotherly Love" (Lindsey Cooper & Carly Dunbar, Amerika Serikat), "St. Petersburg is…" (Aleksandra Tereschenko, Rusia), "The River City" (Grace Goen, Amerika Serikat), "Visitando un día MI CIUDAD" (Rodrigo Verdugo Vicente, Spanyol), dan "Vienna - A World Heritage" (Tobias Katlein, Austria).


Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang hadir pada acara tersebut merasa bangga menyaksikan karya-karya dokumenter remaja Denpasar bisa berbicara di kancah internasional.
“Ini menunjukkan bahwa potensi perfilman di Denpasar sangat luar biasa,” ujarnya.
Rai Mantra hadir memimpin rombongan pada acaraKongres OWHC ke-15 tersebut karena Denpasar merupakan anggota OWHC yang telah tergabung sejak Oktober 2012. Tahun ini kongres OWHC mengusung tema “Warisan dan Pariwisata: Komunitas dan pengunjung lokal - berbagi tanggung jawab”. Sebuah komite ilmiah bekerjadi bawah arahan Profesor Jacek Purchla, Presiden Komisi Nasional Polandia untuk UNESCO, dan Peter Debrine sebagai Project Officer merancang Program Pariwisata Berkelanjutan di Pusat Warisan Dunia UNESCO.
Sementara itu Maria Ekaristi,Manager for the local part of the Video Competition of the OWHC, yang mengawal para siswa tersebut sejak seleksi, pelatihan, pendampingan produksi, hingga pengiriman karya, mengatakan bahwa tampilnya karya-karya remaja Denpasar sebagai finalis di ajang kompetisi video OWHC bukan yang pertama. Pada 2015 terpilih sebagai finalis “Layang-layang” (Resha Arundari, SMPN 3 Denpasar) dan “Warisan Nak Lingsir” (Made Arya Wibawa, SMAN 3 Denpasar). Sedangkan pada 2017 tampil sebagai finalis Sang Penjaga Beji (AAI Sari Ning Gayatri, SMAN 3 Denpasar) dan “Tradisi Turunan” (I Putu Sathyana Rayana, SMKN 1 Denpasar)
Menurut Ekaristi, keterlibatan para siswa Denpasar dalam ajang OWHC merupakan arahan dari Walikota Denpasar pada awal 2012 untuk memperkenalkan Denpasar sebagai kota pusaka melalui karya dokumenter. Namun, Denpasar belum bisa mengikuti kompetisi video (yang diselenggarakan setiap tahu ganjil) pada tahun 2013, karena syarat utama untuk ikut serta adalah telah menjadi anggota OWHC sedikitnya selama tiga tahun. Maka pada Mei 2012 dimulailah proses pendaftaran Kota Denpasar untuk menjadi anggota OWHC. [T] [***]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...