“Historical 65 City Tour”: Sisi Kelam Gemerlap Pariwisata Bali
JIKA ada yang beranggapan bahwa Bali memiliki pantai yang indah, sawah yang asri, dan budaya yang lestari; tentu tidak keliru. Namun anggapan itu belum seutuhnya lengkap. Bali jug...
PERKENALAN saya dengan dunia film pendek sebenarnya dimulai pada 2016 lalu. Sebelumnya saya hanya sebatas menjadi penikmat film bioskop. Sangat jarang bersentuhan dengan film pendek dokumenter.
Pada 2016, kantor menugaskan saya di desk hiburan dan budaya. Di desk ini saya mulai bersentuhan dengan film pendek dan dokumenter. Saat itu saya baru mengenal Minikino – organisasi yang fokus pada film pendek.
Tatkala itu saya baru paham bahwa film bukan hanya sebatas film bioskop semata. Ada berbagai macam film. Mulai dari fiksi, dokumenter, animasi, hingga eksperimental.
Tahun itu, Minikino membuka sebuah pelatihan menulis dan menyusun program film. Pelatihan yang tak ingin saya lewatkan sia-sia. Apalagi pelatihannya tak berbayar. Tentu saya langsung mendaftarkan diri. Apalagi saya masih sangat awam dengan film.
Dari pelatihan yang digelar Minikino, saya belajar banyak. Dari Luh De Suriyani, saya belajar bagaimana cara menulis berita terkait film agar tak terlalu banyak spoiler. Dari Ayu Diah Cempaka saya belajar bagaimana mengulas dan mengkritik sebuah film.
Selain dari mereka berdua, saya juga belajar dari Program Director Minikino, Fransiska Prihadi. Saat belajar sebagai programmer, hasilnya gagal total. Saya tak begitu ahli menyusun film menjadi sebuah rangkaian program.
Setelah pelatihan dan menyaksikan sekian banyak film, saya tersadar. Saya sudah cukup banyak menulis straight news dan feature. Namun ternyata tak semuanya bisa disajikan secara gamblang lewat media tulisan. Terkadang media audio-visual, seperti film, bisa memberikan narasi dan feel yang lebih lengkap. Saya pun memutuskan belajar membuat film.
Keinginan itu saya utarakan pada Kardian Narayana alias Cotek. Saya melamarnya sebagai penata gambar. Karena saya sadar pengetahuan saya tentang sinematografi tak seperti Cotek. Saya cukup yakin dengan kemampuannya. Apalagi kami pernah bernaung dalam satu stasiun TV yang sama, meski berbeda divisi.
Saya kemudian menyampaikan keinginan membuat film pada istri saya, sekaligus melamarnya sebagai produser. Alasannya sederhana saja. Membuat film pasti butuh biaya yang tak sedikit. Siapa tahu istri bisa menyisihkan sedikit uang dapur untuk membiayai keinginan ini.
Saya juga meminta Komunitas Mahima, agar mereka membuat divisi baru. Divisi film. Hanya untuk menampung keinginan saya membuat film. Keinginan yang diamini dengan cepat oleh pasangan suami istri Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti.
Gayung bersambut, kami pun memproduksi film.
* * *
SETAHUN lalu kami berkenalan dengan Rita. Nama lengkapnya Putu Rita Erviana. Dia salah satu siswa di SLB Negeri 1 Buleleng.
Rita merupakan salah satu siswa berbakat di sekolahnya. Dia menguasai beberapa tarian Bali. Hal ini cukup unik, karena Rita sebenarnya mengalami disabilitas rungu-wicara.
Dalam kesunyian, ia menari dengan baik. Kami berupaya mendokumentasikan tiap proses yang ia jalani.
Kami berupaya menghadirkan feel seperti apa penari disabilitas rungu-wicara menari. Bukan hal yang mudah. Begitu banyak tantangan teknis yang kami alami. Terutama tantangan bahasa. Beruntung ada Dian Suryantini yang menjembatani masalah ini. Tak percuma ia menjadi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra.
Setelah mendapat beberapa masukan, akhirnya film itu tuntas. Film itu kami beri judul “Rita”. Sesuai nama dengan subjek penari yang kami dokumentasikan.
Film itu kami daftarkan di beberapa ajang diskusi sinema. Kami juga ikutkan di beberapa lomba. Tak semuanya berbuah. Hanya di Denpasar Film Festival, film kami mendapat nominee.
* * *
Tahun ini, film Rita kami daftarkan di program Indonesia Raja 2019 yang digelar Minikino. Kami hanya ingin film ini ditonton oleh lebih banyak orang. Bila tak lolos, paling tidak pernah ditonton programmer dan film ini sudah masuk direktori Minikino.
Jumat lalu (31/5/2019), saya menerima email dari Minikino. Pesan itu sudah masuk tengah malam, tapi baru saya baca keesokan paginya. Ternyata film kami terpilih dalam Program Indonesia Raja 2019 Bali.
Terpilihnya film ini dalam program Indonesia Raja, membuat ingatan saya melayang ke tahun 2016 lalu. Tahun dimana saya masih baru mengenal lembaga ini. Tahun dimana saya tak pernah membayangkan film saya akan diputar dalam salah satu programnya. [T]
JIKA ada yang beranggapan bahwa Bali memiliki pantai yang indah, sawah yang asri, dan budaya yang lestari; tentu tidak keliru. Namun anggapan itu belum seutuhnya lengkap. Bali jug...
SUASANA di Lovina Haven Resort itu, diselimuti rasa bahagia yang tumpah di mana-mana. Sekitar seratus orang hadir di sana, dan nyaris dipenuhi oleh ibu-ibu dengan pakaian endek be...
SEBUAH kampung dengan lima puluh rumah, dan kampung itu dipagari gunung-gunung batu. Rumah-rumah itu berdinding kulit kayu, beratap daun sagu dan berlantai belahan kayu yang di...
SEMBILAN tahun jadi bupati Badung, Nyoman Giri Prasta sepertinya nyaris tidak ada gebrakan di bidang pertanian. Terutama di bidang peternakan. Lebih khusus lagi soal peternakan ka...
MOMEN purnabakti adalah peristiwa yang penuh makna, terutama bagi seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk negeri ini. Namun, tidak jarang terjadi kekeliruan dalam menyampa...
ORANG itu jadi viral. Seluruh media sosial membahas dia. Bahkan, ia menjadi trending topik yang panas. Kesalahan dia—yang menyebabkan viral—itu adalah karena ia mengucapkan sepata...
Ibu Penjual Tipat Cantok: “Belakangan ini hujan turun tiada henti ya bu?” Ibu Penjual Sate Babi: “Iya bu, dari pagi sampai malam jeggg hujan melulu.” Ibu Penjual Tipat Canto...
Ada yang hilang dan takkan kembaliNamun waktu memaksamu trus jalaniLewati kerasnya hariPenuh kerikil duri Saya menulis catatan ini, sambil mendengar lagu “Hilang” Karya Justin...
SETELAH Buleleng dinyatakan sebagai Kabupaten Kreatif oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tahun 2024, Dinas Pariwisata melanjutkan usahanya lebih seriu...
FILM pendek "When Cening Meets Kawa, the Magical Forest" berhasil mencuri perhatian publik setelah resmi menjadi Official Selection pada Jogja-NETPAC Asia...