Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi
Judul: Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Made Adnyana Ole ISBN: 978-623-98282-4-0 Tebal: x + 100 halaman...
PERKENALAN saya dengan dunia film pendek sebenarnya dimulai pada 2016 lalu. Sebelumnya saya hanya sebatas menjadi penikmat film bioskop. Sangat jarang bersentuhan dengan film pendek dokumenter.
Pada 2016, kantor menugaskan saya di desk hiburan dan budaya. Di desk ini saya mulai bersentuhan dengan film pendek dan dokumenter. Saat itu saya baru mengenal Minikino – organisasi yang fokus pada film pendek.
Tatkala itu saya baru paham bahwa film bukan hanya sebatas film bioskop semata. Ada berbagai macam film. Mulai dari fiksi, dokumenter, animasi, hingga eksperimental.
Tahun itu, Minikino membuka sebuah pelatihan menulis dan menyusun program film. Pelatihan yang tak ingin saya lewatkan sia-sia. Apalagi pelatihannya tak berbayar. Tentu saya langsung mendaftarkan diri. Apalagi saya masih sangat awam dengan film.
Dari pelatihan yang digelar Minikino, saya belajar banyak. Dari Luh De Suriyani, saya belajar bagaimana cara menulis berita terkait film agar tak terlalu banyak spoiler. Dari Ayu Diah Cempaka saya belajar bagaimana mengulas dan mengkritik sebuah film.
Selain dari mereka berdua, saya juga belajar dari Program Director Minikino, Fransiska Prihadi. Saat belajar sebagai programmer, hasilnya gagal total. Saya tak begitu ahli menyusun film menjadi sebuah rangkaian program.
Setelah pelatihan dan menyaksikan sekian banyak film, saya tersadar. Saya sudah cukup banyak menulis straight news dan feature. Namun ternyata tak semuanya bisa disajikan secara gamblang lewat media tulisan. Terkadang media audio-visual, seperti film, bisa memberikan narasi dan feel yang lebih lengkap. Saya pun memutuskan belajar membuat film.
Keinginan itu saya utarakan pada Kardian Narayana alias Cotek. Saya melamarnya sebagai penata gambar. Karena saya sadar pengetahuan saya tentang sinematografi tak seperti Cotek. Saya cukup yakin dengan kemampuannya. Apalagi kami pernah bernaung dalam satu stasiun TV yang sama, meski berbeda divisi.
Saya kemudian menyampaikan keinginan membuat film pada istri saya, sekaligus melamarnya sebagai produser. Alasannya sederhana saja. Membuat film pasti butuh biaya yang tak sedikit. Siapa tahu istri bisa menyisihkan sedikit uang dapur untuk membiayai keinginan ini.
Saya juga meminta Komunitas Mahima, agar mereka membuat divisi baru. Divisi film. Hanya untuk menampung keinginan saya membuat film. Keinginan yang diamini dengan cepat oleh pasangan suami istri Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti.
Gayung bersambut, kami pun memproduksi film.
* * *
SETAHUN lalu kami berkenalan dengan Rita. Nama lengkapnya Putu Rita Erviana. Dia salah satu siswa di SLB Negeri 1 Buleleng.
Rita merupakan salah satu siswa berbakat di sekolahnya. Dia menguasai beberapa tarian Bali. Hal ini cukup unik, karena Rita sebenarnya mengalami disabilitas rungu-wicara.
Dalam kesunyian, ia menari dengan baik. Kami berupaya mendokumentasikan tiap proses yang ia jalani.
Kami berupaya menghadirkan feel seperti apa penari disabilitas rungu-wicara menari. Bukan hal yang mudah. Begitu banyak tantangan teknis yang kami alami. Terutama tantangan bahasa. Beruntung ada Dian Suryantini yang menjembatani masalah ini. Tak percuma ia menjadi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra.
Setelah mendapat beberapa masukan, akhirnya film itu tuntas. Film itu kami beri judul “Rita”. Sesuai nama dengan subjek penari yang kami dokumentasikan.
Film itu kami daftarkan di beberapa ajang diskusi sinema. Kami juga ikutkan di beberapa lomba. Tak semuanya berbuah. Hanya di Denpasar Film Festival, film kami mendapat nominee.
* * *
Tahun ini, film Rita kami daftarkan di program Indonesia Raja 2019 yang digelar Minikino. Kami hanya ingin film ini ditonton oleh lebih banyak orang. Bila tak lolos, paling tidak pernah ditonton programmer dan film ini sudah masuk direktori Minikino.
Jumat lalu (31/5/2019), saya menerima email dari Minikino. Pesan itu sudah masuk tengah malam, tapi baru saya baca keesokan paginya. Ternyata film kami terpilih dalam Program Indonesia Raja 2019 Bali.
Terpilihnya film ini dalam program Indonesia Raja, membuat ingatan saya melayang ke tahun 2016 lalu. Tahun dimana saya masih baru mengenal lembaga ini. Tahun dimana saya tak pernah membayangkan film saya akan diputar dalam salah satu programnya. [T]
Judul: Memilih Pohon Sebelum Pinangan -- Kumpulan Puisi Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Made Adnyana Ole ISBN: 978-623-98282-4-0 Tebal: x + 100 halaman...
NUSANTARA, sebagai bagian dari peradaban agung Sindhu–Saraswati, menyimpan begitu banyak ajaran luhur yang menuntun manusia menuju kesadaran dan kebijaksanaan sejati. Peradaban in...
DI tengah lanskap musik Indonesia yang penuh warna dan eksperimen, nama .Feast menempati posisi yang unik. Band ini bukan sekadar kumpulan musisi yang pandai memainkan instrumen,...
SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan sebagai s...
SETELAH sukses menyelenggarakan Indonesia Performance Camp (IPC) 2024 dengan menghadirkan seniman Butoh Mutsumi-Neiro dari Jepang–Yugoslavia, IPC 2025 akan kembali digelar pada 9–...
RAZAN masuk ke dalam kain persegi merah muda (“aneh) yang menyerupai sarung kasur beritsleting dan berbulu tebal. Ia lalu beringsut ke panggung pementasan dengan merangkak, bergul...
PEMBANGUNAN di universitas dan fakultas telah mengubah wajah kampus sebagai tempat menimba ilmu yang nyaman. Perlahan tapi pasti, gedung-gedung tua di tiap fakultas mulai dibongka...
Anak-anak setingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP sudah biasa menggambar. Tetapi, ketika diajak menggambar bersama mengunakan media baju, mereka tampak bersemangat. Mereka menuangkan...
Zaman semakin maju. Teknologi, seperti kamera digital telah mengubah cara produksi dan distribusi film. Hal ini menciptakan peluang bagi generasi muda untuk membuat dan menonton f...
“Hyang Ratih: Ode untuk Bulan, Perempuan, dan Semesta” dari Komunitas Seni Bumi Bajra, Bali, menjadi salah satu penampil terpilih dalam Festival Musik Indonesia 2025 yang berlang...