Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Leukemia, tak pernah memberi peringatan apapun. Gaya hidup, yang dapat kita kelola hingga pada batas-batas esensial bahkan tak pernah dikaitkan dengan penyakit mematikan ini. Atau kalaupun ada, dampaknya bisa dikatakan terlampau kecil.
Yang sering disebut-sebut misalnya pengaruh radiasi, virus tertentu, atau merokok. Ini akan mengingatkan kita pada kejadian kanker yang meningkat pasca peristiwa Hiroshima dan Nagasaki atau kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl. Seakan-akan aspek genetik telah mengunci horor ini. Urusan genetik berarti persoalan bawaan, urusan bawaan punya arti takdir.
Bolehlah sementara ini kita sebut, berhadapan dengan leukemia adalah berhadapan dengan Tuhan, bukan dengan dokter dan obat-obatan. Hingga suatu saat nanti, peneliti-peneliti hebat yang telah mendekam puluhan tahun di dalam ruang-ruang laboratorium canggih menemukan satu terobosan revolusioner di bidang terapi kanker.
Tubuh kita terbangun dari koordinasi berbagai sistem organ. Sebutlah sistem saraf, sistem pernafasan, sistem sirkulasi (jantung dan pembuluh darah), sistem pembuangan (ginjal dan saluran kencing) dan seterusnya. Sistem organ tersusun dari struktur organ dan regulatornya, misalnya sistem pernafasan diatur oleh bagian otak yang disebut sebagai medulla oblongata. Ialah yang mengendalikan seberapa sering peparu harus menarik oksigen saat kita dikejar anjing misalnya.
Atau, sistem reproduksi pada wanita dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh indung telur seorang wanita. Inilah yang membuat payudara seorang wanita bergelantung kian subur saat ia hamil sebagai persiapan menyusui anaknya kelak.
Sedemikian terukurnya sistem dalam tubuh bekerja. Tepat dan berkesinambungan hingga spesies kita lestari bestari. Begitulah pada umumnya. Hingga sebagian besar dari kita sangat meyakini, telah ada yang mengatur segala peristiwa ini. Dari yang terendah di tingkat sel mikroskopik, yang kemudian menjalin suatu untaian jaringan sebagai pembentuk berbagai organ selanjutnya. Ialah sang pengatur yang kita sebut sebagai Tuhan. Yang keberadaannya disangsikan oleh ilmuwan masyur Stephen Hawking.
Baginya segala peristiwa di jagat raya ini, juga di alam kecil tubuh kita ini adalah natural, spontan, tiada campur tangan satu kekuatan maha tinggi. Mungkin saja ia benar. Hingga sekali dua kali, tubuh kita lalu kemudian membuat kesalahan dan kekeliruan. Kesalahan kecil yang tak tampak, kesalahan sedang yang meninggalkan kecatatan hingga kesalahan besar yang telah membunuh tubuhnya sendiri. Sains menyebutnya sebagai mutasi gen. Kenapa Tuhan membiarkannya?
Seperti pertanyaan lugu, kenapa Tuhan membiarkan meteor bertabrakan? Hingga konon menghangus punahkan spesies dinosaurus. Spesies reptil raksasa yang kini hanya bisa kita lihat di layar lebar sinema dalam rekaan sutradara-sutradara hebat. Untuk apa gunung dibiarkan meletus begitu saja atau tsunami melibas ciptaannya tanpa belas kasihan? Segalanya masih misteri, belum ada yang mampu menjawab dengan jernih. Seperti halnya leukemia yang misterius. Ia menyambangi kita dengan pesan yang sangat jelas. “Bersiap-siaplah untuk kalah dan pulang dalam keabadian”
Sistem hematologi atau darah pun sesungguhnya begitu mengagumkan. Darah yang terlihat homogen merah begitu saja oleh mata kita, sebetulnya terdiri dari butir darah dan plasma, tempat butir-butir darah terbawa. Dapat dibayangkan sebagai segelas cendol. Butir darah terdiri dari sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit) dan keping darah pembeku (trombosit).
Ketiganya telah memiliki fungsi yang begitu spesifik dan terukur. Sel darah putih akan bekerja sebagai pertahanan tubuh untuk melawan segala infiltrasi mikroorganisme perusuh sebagai penyebab penyakit. Contoh paling klasik dari kerja sel darah putih adalah timbulnya bisul. Kuman yang masuk hendak mengganggu tubuh, oleh sel darah putih dilokalisir dalam struktur patologi yang dikenal sebagai abses atau bisul. Ke sanalah sel-sel darah putih mengepung berbagai mikroba patogen (penyebab sakit) agar tak menembus sistem sirkulasi tubuh (sistemik).
Sedangkan sel darah merah akan bertugas mendistribusikan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, sementara sel darah pembeku bertanggung jawab menutup luka dan menghentikan pendarahan. Demikian tertibnya mereka berbagi tugas sampai terjadi satu kekeliruan misterius yang sangat fatal.
Satu kekeliruan, saat entah kenapa sel darah putih yang dibentuk sumsum tulang sedemikian banyak melampaui pakem normalnya. Leukosit yang telah diproduksi begitu banyak hingga jumlahnya bisa puluhan kali dari yang seharusnya, namun tampil dalam struktur dan fungsi yang tak layak. Itulah lalu dinamakan leukemia, meski ia berlimpah namun tak berfungsi dengan baik, ia seakan-akan tak ada.
Keadaan ini sedemikian liar tak bisa dijinakkan walau dengan kemoterapi paling baik saat ini. “Ketiadaan” sel darah putih alias tentara ini membuat tubuh manusia rentan dan penuh kompromi terhadap berbagai mikroorganisme patogen. Tubuh akan digerogoti virus, bakteri hingga jamur oportunistik yang dapat menyerang paru-paru, usus atau saluran kemih. Membawa tubuh jatuh pada keadaan infeksi berat dan syok.
Sel darah putih yang terlalu banyak, menghimpit keberadaan sel darah merah dan keping darah pembeku. Menyebabkan jumlah kedua jenis sel yang begitu penting untuk tubuh itu menjadi sangat minimal. Dampaknya sudah tentu, asupan oksigen dan nutrisi untuk sel yang kian menyusut dan di lain pihak tubuh mudah mengalami pendarahan. Komplikasi yang sedemikian kacau ini adalah keadaan yang layak untuk sebuah kematian.
“Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian?” pertanyaan Siddharta Gautama ini dapat kita jawab dengan menjadi pertapa di bawah pohon bodi sepertinya, atau bertapa di laboratorium untuk menemukan formula yang efektif mengalahkan leukemia.
Selamat jalan ibu Ani, ibu negara kami tercinta, semoga beristirahat dengan tenang. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...