Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Pameran di Bentara Budaya Bali, 17-28 Mei 2019, ini mencerminkan dinamika seni rupa sebelum dan sesudah era Pita Maha– didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis asal Jerman), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda).
Bentara Budaya Bali wadah berkumpulnya suatu kreasi dengan sentuhan modern yang mengandung kekuatan ekspresi terpilih, di mana ikonografi Bali direvisi atau dikreasi sedemikian rupa melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional. Karya-karya tersebut, baik para pendahulu maupun generasi yang lebih kini, mencirikan adanya pergulatan kreatif menyikapi tematik, stilistik sekaligus estetik.
Ini adalah sebuah upaya transformasi yang mempribadi, boleh jadi merefleksikan pula transformasi masyarakat Bali dari ragam budaya agraris komunal yang guyub hangat menuju masyarakat modern dengan kecenderungan individual.
Kawitan dalam upaya transformasi meraih karya yang mempribadi, menemu keautentikan di tengah simpang pilihan dan kemungkinan, termasuk “tuntutan” tetap berakar pada kultur leluhur atau tidak berpaling dari kawitan; tentulah menyita energi kreatif para perupa Bali, yang entah bersetia dengan ragam tradisi atau secara sadar memilih ekpresi modern/kontemporer.
I Wayan Sutarma menyampaikan pameran lukisan lintas generasi menjaga estafet seni lukis Bali. Pameran “Kawitan” ingin menyodorkan fakta bahwa perjalanan seni lukis tradisi masih ajeg, kendati semakin sedikit generasi muda yang meminatinya kini. Melihat kondisi itulah, mencoba untuk memberikan semangat dan mendorong para pemilik talenta agar bisa melanjutkan kiprah para seniman pendahulu.
“Modal kami melakukan semua ini adalah semangat untuk melanjutkan cita-cita ayah, almarhum I Made Damping, untuk mencintai seni rupa dengan sepenuh hati. Pilihan untuk memberi perhatian lebih terhadap seni lukis tradisional Bali didorong oleh lingkungan keluarga dan masyarakat yang memang potensial untuk mengembangkan minat dan bakat seni rupa,” katanya.
“Karena kesabaran dan keuletan para seniman, kami bisa saling meyakinkan bahwa seni rupa tradisi akan tetap hidup dan memberi warna perkembangan seni rupa kita. Pasar seni rupa yang sedang lesu pun kami sikapi dengan tetap berjuang dan berharap seni lukis tradisi bisa menggapai zaman kejayaan, “ ujar Pemilik Damping Gallery.
Sementara Dr. I Wayan Kun Adnyana Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengatakan Seni rupa tradisional Bali masih hidup dan bertumbuh di sela belantara kesenian masa kini yang berkembang lebih pesat. Pameran Seni Lukis Lintas Generasi “Kawitan” membuktikan hal itu. Tapak para pendahulu bisa dirunut jejaknya hingga kini. Oleh karenanya, seni rupa tradisional Bali memerlukan perhatian lebih dan dukungan semua pihak baik itu pecinta seni, lembaga seni rupa, kolektor dan khalayak luas. Pameran ini menunjukkan bahhwa tongkat estafet seni rupa tradisional Bali masih berlanjut dari generasi ke generasi. Karya para pesohor yang telah lanjut usia atau bahkan telah meninggal dunia menginspirasi dan memiliki pewaris.
Tak hanya mengembangkan teknik, gaya, ikonik, maupun citraan para pendahulunya, bahkan memperkaya dengan cara pandangnya sendiri dan mengembangkan pembacaan sesuai perkembangan zaman.
Selain menjadikan tradisi, menurut Kun Adnyana, seni, dan budaya sebagai identitas dalam segala aspek kehidupan Krama Bali. Sedangkan program untuk memajukan kebudayaan tersebut di antaranya melalui peningkatan pelindungan, pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan objek-objek pemajuan kebudayaan Bali.
Kolaborasi Bentara Budaya Bali dan Damping Gallery seperti ini semakin memperkaya pemaknaan untuk memahami seni lukis Bali. Kami berharap terus diperluas dengan melibatkan banyak pihak. Apresiasi yang tinggi kepada para seniman yang berpameran dan doa bagi para seniman yang telah almarhum.
Pameran Kawitan yang berpartisipasi 23 seniman antara lain Ida Bagus Made Nadera, Dewa Putu Mokoh, I Wayan Asta, I Wayan Djujul, I Wayan Serati, I Nyoman Sinom, I Wayan Tohjiwa, I Nyoman Tulus, I Nyoman Ridi, I Ketut Gelgel, I Ketut Ginarsa, I Ketut Kicen, I Wayan Bendi, I Made Tubuh, I Gusti Agung Galuh, Pande Ketut Dolik, I Made Rasna, I Wayan Rapet, I Wayan Jumu, Dewa Sugi, Ida Bagus Sena, Gusti Putu Joni, I Wayan Sukarta, I Made Madra, I Wayan Mantra Arjana, I Nyoman Manggih, I Ketut Suarsa, I Wayan Gandera, I Ketut Kebut, I Ketut Roji, I Ketut Madri, I Made Suryana, I Ketut Sadia, I Wayan Diana, I Made Sunarta, I Made Warjana, I Wayan Wijaya, I Wayan Suardika, I Nyoman Winaya, Gusti Ayu Natih Arimini, I Gde Ngurah Panji, I Gusti Agung Kepakisan, I Gusti Agung Wiranata & I Gede Pino.
Seperti karya I Gde Ngurah Panji dan I Gede Pino, bukan semata berhasil mewujudkan filosofi Bali yang mengagungkan keharmonian, akan tetapi mencerminkan pula keberhasilannya mempertautkan estetik tradisi dan modern. Di dalam tradisi seni rupa pra kolonial Bali, kehadiran garis adalah hal yang esensial, umumnya berlapis-lapis dan sangat padat, mengisi ruang kanvas secara penuh. Garis-garis itu pun berfungsi menyempurnakan sosok-sosok yang diciptakan secara repetitif, terutama tokoh-tokoh pewayangan dari narasi mistis wiracarita Ramayana, Mahabarata dan lain-lain.
Ragam estetika khas Bali tersebut terefleksikan secara utuh pada karya I Gde Ngurah Panji – yang jejaknya dapat dilacak seturut karya-karya seniman tradisional Kamasan, terutama Ubud dan Batuan - sejalan waktu narasi-narasi mistis itu digantikan ragam deskripsi kehidupan keseharian masyarakat setempat. Pameran lintas generasi di Bentara Budaya Bali ini, menggambarkan pula alih pengetahuan atau transfer of knowledge yang terjadi pada masyarakat seni rupa di Bali, khususnya Ubud. Baik stilistik, tematik, bahkan estetik, para pelukis yang lahir belakangan, disadari ataupun tidak, mengacu proses ciptanya pada para pendahulu masing-masing.[T]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...