Bukan Made Raka Sutama namanya kalau tidak menepati
janji. Salah satu sifat khas Pak Made Raka adalah selalu menepati janji. Sebuah
acara direncanakan, ditentukan tanggalnya, lalu pas hari H, acara yang
dijanjikan tersebut pasti terlaksana.
Setelah sukses mendaki 5 gunung dalam sehari demi
membayar kaul kemenangan Jokowi dalam pilpres, sekarang Pak Made Raka keliling
Bali dengan target waktu tempuh 24 jam. Bukan keliling Bali mengendarai motor
gede, tapi bersepeda. Mengandalkan otot dan stamina.
Beberapa tahun yang lalu, Pak Made Raka pernah sukses
menempuh jarak keliling Bali dengan sepeda gunung satu hari satu malam tanpa
istirahat tidur sebelum mencapai garis finis.
Sekarang beliau ingin mengulangi kesuksesan itu lagi. Tapi kali ini yang
dipilih adalah sepeda roadbike.
Roadbike
adalah jenis sepeda yang diperuntukkan di jalan raya yang mulus, dengan bannya
yang kecil. Biasanya si pengendara agak merunduk, karena frame sepeda roadbike memaksa
si pengendara merunduk. Ini tujuannya untuk mendapatkan kecepatan. Dengan
merunduk, kekuatan lebih optimal tersalur ke kaki.
Dulu jenis sepeda ini dikenal dengan istilah sepeda
balap, karena memang jenis sepeda ini dipakai untuk balapan. Kecepatan sepeda
ini bisa menyaingi sepeda motor, bisa 50-60 kilometer per jam. Tergantung
stamina dan otot si pengendara sepeda. Kalau saya sih kelasnya di angka 30
kilometer per jam saja di jalan mendatar…hehehe
Minggu, tanggal 19 Mei 2019, mereka berangkat dari
posko Kapal CC pukul 5 pagi. Melalui jalan timur. Tiga orang pesepeda: Pak Made
Raka, Nyoman Mertawan dan Wahyu Santosa. Dikawal oleh Made Guna Diarta (Bero)
pakai sepeda motor, sebagai marshal
untuk menjaga keselamatan para pesepeda. Di sepeda motor Bero terpasang bendera
merah-putih.
Info di grup WA dari sang marshal, pukul 7 pagi sudah mencapai Gowa Lawah. Mereka berfoto bersama sambil membentangkan spanduk yang bertuliskan: “KAUL ANAK NEGERI, JOKOWI NAIK LAGI, NAIK SEPEDA KELILING BALI.” Tulisan yang sangat baik. Pilihan kata-katanya bagus. Ada aura kegembiraan dan semangat pada tulisan itu.
Saat di Gowa Lawah, awalnya peserta gowes 3 orang
Rombongan mereka mencapai Tirta Gangga pukul 8 pagi.
Luar biasa. Sepagi itu sudah mencapai Tirta Gangga. Dari Tirta Gangga menuju
Pura Ponjok Batu, rombongan itu terpisah, mulai tercerai-berai. Saat inilah kekuatan
stamina itu sangat menentukan, atau istilah kerennya endurance, istilah yang sering kami sebut di komunitas sepeda. Di
jalur antara Tulamben sampai ke Pura Ponjok Batu, walaupun datar, udaranya
sangat panas.
Di sinilah nyali seorang pesepeda diuji. Saat
stamina menurun, udara begitu panas, momen inilah yang membuat nyali bisa ciut.
Bersepeda terasa begitu menyiksa. Sengatan matahari bisa menguras sekian persen
stamina tubuh. Tapi Pak Made Raka telah dibentuk oleh berbagai latihan.
Campuran sebagai seorang pelari, pendaki gunung dan pesepeda telah membentuk
tubuhnya demikian kokoh.
Staminanya begitu kuat, walau umurnya sudah semakin
senja di angka 53 tahun. Tantangan saat mendaki gunung telah membentuk
mentalnya untuk tidak gampang menyerah
sebelum menancapkan bendera merah putih di puncak.
Rombongan itu betul-betul terpisah. Pak Made Raka
dikawal oleh Bero sendirian. Sedangkan Nyoman Mertawan dan Wahyu Wibawa jauh di
belakang tanpa pengawalan. Kabarnya, Wahyu Wibawa mengalami kram kaki yang parah
dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Layanan taksi online Grab telah membawanya balik pulang.
Pukul 10.30 Made Raka sudah mencapai Pura Ponjok
Batu. Biasanya ini adalah tempat titik istirahat yang dipilih panitia Roda Jaya
gowes keliling Bali massal tiap tahun. Istirahat beberapa menit di sini, Pak
Made Raka melanjutkan perjalanan lagi, menuju kota Singaraja.
Sebenarnya, di samping dikawal oleh Bero sebagai marshal, ada dua teman Pak Made Raka
yang membuntuti dengan sepeda motor. Mereka betul-betul ingin menyaksikan
sendiri perjalanan Made Raka keliling Bali dengan sepeda. Mereka adalah teman-teman
Made Raka saat mendaki gunung.
Pukul 12.00 WITA, saat matahari betul-betul di
posisi lurus dengan kepala, Pak Made Raka berhasil mencapai kota Singaraja. Mereka
tiba di kota di utara Pulau Bali itu tepat pukul 12 siang. Nampak sebuah foto
yang dikirim ke whatsapp grup oleh
Bero, Pak Made Raka tidur telentang kelelahan. Paha dan betisnya yang penuh
otot, nampak licin berkeringat,
berkilatan ditimpa cahaya. Otot yang sedang dipaksa bekerja hari ini, seharian
penuh.
Sebenarnya menurut yang saya baca di google, tidak
boleh langsung tidur telentang seperti itu karena kelelahan, sebab bisa memicu
henti jantung. Tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi pada Pak Made Raka. Semoga rahayu sampai di rumah kembali, ketemu
sama anak dan istri dalam keadaan sehat. Segala doa dan komen bermunculan di whatsapp grup kami.
Saat tiba di kota Singaraja, peserta yang mengawal
Pak Made Raka tambah banyak. Ada Pak Made Puja, yang datang dari Marga, dan Pak
Made Darwi yang jauh-jauh dari Kuta. Mereka menunggu di kota Singaraja sambil
menikmati kuliner ala Buleleng, Siobak. Mereka mengawal dengan sepeda motor. Perjalanan
dilanjutkan lagi setelah makan siang. Rombongan itu pasti menarik perhatian
orang banyak. Lima pesepeda motor yang mengawal seorang pesepeda, yang sedang melaju
dengan mengandalkan otot dan stamina, di bawah sengatan matahari.
Konvoi memasuki Seririt, Pemuteran, Gerokgak. Mereka
seperti berkejaran dengan matahari yang pelan-pelan mulai turun di langit
barat. Sekitar pukul 5 sore mereka tiba di pertigaan Gilimanuk, setelah
melewati hutan Bali Barat yang panjang. Di sana disambut dua orang pesepeda
dari KMCC Jembrana, Putu Airlangga dan Ajik Bolang. Sekarang iring-iringan itu
bertambah lagi; 3 orang pesepeda yang dikawal 5 pengendara sepeda motor. Tambah
ramai, dan tambah meriah. Biar gaungnya bergema di sepanjang jalan menuju Kota
Jembrana.
Tiba di kota Jembrana pukul 7 malam. Beberapa kali
video-video pendek perjalanan diunggah ke grup whatsapp Kapal CC. Semua orang di grup kami memberi jempol.
Terbayang betapa capeknya keliling Bali dalam 24 jam. Capek dan pegal. Ini demi
Jokowi, begitu selalu ucap Pak Made Raka. Salah satu pendukung militan paslon
01 ini. Jauh-jauh hari Pak Made Raka telah mengucapkan kaul. Dan hari ini
dibayar dengan cara kesatria.
Istirahat di kota Singaraja untuk makan siang
Di kota Jembrana, kabarnya sempat mampir di rumah
Bli Sutha, sesepuh Kapal CC yang tinggal di Denpasar. Makan malam dulu. Mengisi
karbohidrat untuk cadangan energi. Perjalanan masih jauh.
Iringan-iringan melanjutkan perjalanan, meninggalkan
kota Jembrana yang indah di Bali Barat. Membelah malam, di antara lampu-lampu
kendaraan dan bising suara mesin. Lalu
lintas yang masih ramai pada jam itu. Bendera merah putih masih setia terpasang
di motor-nya Bero, sang marshal, yang setia mengawal dari pukul 5 pagi sampai
malam ini.
Itu dikenal dengan jalur maut, sebab dilewati
bus-bus besar dan truk yang membawa logistik. Tapi setelah Pak Made Puja
mengunggah video sudah berada di Pantai Soka, hati terasa lega. Sudah dekat.
Semoga tidak terjadi apa-apa di jalan. Pak Kadek Purwadadi juga ikut menyambut
mereka di Desa Mandung, pas di depan kantor radio Global, untuk selanjutnya
ikut di rombongan menuju posko Kapal CC.
Hampir pukul 11 malam. Kami semua memantau lewat whatsapp grup. Agaknya semua orang
begadang malam ini. Kami mengandalkan laporan dari Pak Made Puja, bagaikan
Widura yang sedang mengabarkan kondisi anak-anak Drestarasta di medan
Kurusetra…hehehe
Semua teman bergegas ke posko Kapal CC untuk menyambut
kedatangan mereka. Hanya saya yang masih berkutat dengan keyboard di rumah,
menyiapkan artikel tentang kesuksesan Pak Made Raka membayar kaul keliling Bali
dalam sehari. Semuanya bagi tugas. Ada yang mengawal dari A sampai Z, ada
menjemput di beberapa titik, ada yang menyambut di tempat finis, dan ada juga
yang menuliskan artikelnya.
Akhirnya pukul 11.15 malam, Pak Made Raka tiba di
posko Kapal CC. Teman-teman sudah banyak yang menunggu di posko. Karena
kabarnya teman-teman Pak Made Raka sesama pendaki gunung banyak yang menunggu
di puspem Badung, perjalanan lanjut lagi sampai puspem Badung.
Selesai sudah perjalanan Made Raka Sutama, membawa
misi merayakan kegembiraan pilpres dan terpilihnya Jokowi untuk yang kedua
kali, dengan gowes keliling Bali. Rencana awal menempuh waktu 24 jam, tapi
ternyata bisa dipangkas menjadi 18 jam 15 menit. Luar biasa. Keliling Bali
dengan bersepeda selama 18 jam 15 menit.
Di depan Puspem Badung, Pak Made Raka Sutama
disambut meriah oleh teman-teman pendaki
gunung dan juga teman-teman Kapal CC. Selebrasi kecil disiapkan. Sukses Pak De!
Saya betul-betul hormat dan salut. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...