Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Pura Pucak Bukit Sangkur, atau sering juga disebut Pura Pucak Resi. Saya tidak tahu, entah di wilayah mana pura ini terletak, apakah masuk wilayah Desa Candi Kuning atau Kembang Merta, di wilayah Baturiti, Tabanan, Bali. Atau mungkin di perbatasan kedua desa itu.
Yang jelas, kalau dari arah selatan, setelah obyek wisata Danau Beratan, ada jalan kecil menuju timur. Jalannya mulus. Pemandangan danau Beratan dengan airnya yang tenang menyambut kita ketika memasuki daerah itu. Perkebunan sayur di kanan kiri jalan. Apapun yang ditanam, sepertinya bisa hidup di tanah yang subur itu. Udara terasa dingin.
Kami menyusuri jalan itu. Kemudian ada posko di pertigaan jalan. Sebuah papan nama pura, memberi kami arah untuk belok kiri. Kami sampai di areal parkir pura. Sebuah pura yang terletak di tengah-tengah hutan lindung. Di kanan kiri nampak pohon-pohon menjulang tinggi, rasanya lebih tinggi dari pohon-pohon kelapa. Mobil-mobil dan motor para pemedek parkir di antara pohon-pohon itu.
Sebulan yang lalu, saat purnama, saya dan istri mengawali nangkil ke sini.Kami menyusuri tangga yang dihias hijau lumut di sis-sisinya. Di kanan kiri pohon-pohon, bukan hanya daun yang hijau, namun batang pohon pun beberapa tampak hijau disaput lumut. Bisa dibayangkan betapa sejuk daerah itu/
Tapi awas. Saat itu banyak kera. Mereka bergelantungan di pohon-pohon, mengintip kalau kami lengah. Saat itu banyak juga pemedek yang nangkil. Kami sembahyang secara bergantian.

Beberapa orang sembahyang dengan kusyuk, dan beberapa orang harus menjaga dengan membawa kayu. Sedikit saja lengah, kera-kera itu secepat kilat mencuri canang haturan. Kera-kera itu memang agak galak. Jero Mangku sampai sempat mengeluarkan ketapel untuk mengusir mereka. Tapi anehnya, hari ini, satupun tidak ada kera.
Hari itu saya, istri dan anak-anak nangkil. Personil lengkap. Kebetulan istri libur. Terpaksa anak-anak ijin di sekolah mereka. Ijin untuk nunas kerahayuan, ya tidak apa-apa. Awalnya kami sembahyang dulu di beji pura, kemudian lanjut di sebuah pelinggih sebelah beji. Kemudian sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta. Di pura itu ada patung Budha dan Dewi Kwan In.
Hari itu adalah rentetan piodalan yang jatuh saat Hari Raya Pagerwesi, salah satu hari raya umat Hindu di Bali. Nyejer 3 hari. Karena kebetulan hari Sabtu, 18 Mei ini adalah purnama, maka nyejer ditambah lagi satu hari.
Lantai pura terasa begitu dingin. Suasana betul-betul hening. Bau harum dari dupa-dupa yang terpasang di canang-canang yang dihaturkan. Suara genta dan mantra menghentak kesunyian hutan itu. Kami, para pemedek yang duduk bersila dan bersimpuh, dibawa ke suasana yang begitu kusyuk. Sesekali suara burung.

Selesai sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta, kami menuju pura Luhur Pucak Bukit Sangkur. Pura terletak di atas bukit. Kami menaiki 414 anak tangga. Saya menghitungnya dengan teliti. Saya sempat kawatir dengan Dek Prema, anak kami yang bungsu. Pas kondisinya sedang batuk pilek. Tapi saat menaiki ratusan anak tangga itu, dia justru ceria. Malah sempat berlari kecil memimpin rombongan. Sampai di atas dia tersenyum sambil ngos-ngosan.
Konon, menurut yang saya baca di google, Pura Pucak Bukit Sangkur itu adalah tempat pertapaan para resi dahulu kala. Mungkin karena itu, saya sempat melihat patung seorang resi di pelinggih pura saat sembahyang. Memang, di pura itu suasana begitu hening. Rasanya cocok mekemit sambil bermeditasi di malam hari.
Istri saya pernah cerita. Dulu, waktu masih kecil, dia pernah mengalami sakit yang aneh. Kuku-kuku tangannya tidak bisa menempel sempurna di kulit tangannya. Ke mana-mana sudah berobat, tapi tak kunjung sembuh. Terus ada kerabat yang mengajak nangkil ke pura ini. Berangsur-angsur, sakitnya itu sembuh.
Betul-betul ajaib. Puluhan tahun setelah itu, istri saya tidak pernah nangkil lagi ke pura ini. Dan tiba-tiba suatu ketika, terbersit keinginan untuk nangkil lagi ke Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur ini. Sebulan yang lalu, saat purnama, kami mengawali nangkil ke sini.
Istri saya mengucapkan syukur, mengucapkan rasa terima kasih, karena diberikan pengobatan secara gaib waktu dia masih kecil. Kalau tidak ada halangan, kami akan rutin nangkil setiap enam bulan sekali ke pura ini. Piodalan di pura ini begitu mudah diingat, yaitu saat Pagerwesi. [T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...