Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
Pura Pucak Bukit Sangkur, atau sering juga disebut Pura Pucak Resi. Saya tidak tahu, entah di wilayah mana pura ini terletak, apakah masuk wilayah Desa Candi Kuning atau Kembang Merta, di wilayah Baturiti, Tabanan, Bali. Atau mungkin di perbatasan kedua desa itu.
Yang jelas, kalau dari arah selatan, setelah obyek wisata Danau Beratan, ada jalan kecil menuju timur. Jalannya mulus. Pemandangan danau Beratan dengan airnya yang tenang menyambut kita ketika memasuki daerah itu. Perkebunan sayur di kanan kiri jalan. Apapun yang ditanam, sepertinya bisa hidup di tanah yang subur itu. Udara terasa dingin.
Kami menyusuri jalan itu. Kemudian ada posko di pertigaan jalan. Sebuah papan nama pura, memberi kami arah untuk belok kiri. Kami sampai di areal parkir pura. Sebuah pura yang terletak di tengah-tengah hutan lindung. Di kanan kiri nampak pohon-pohon menjulang tinggi, rasanya lebih tinggi dari pohon-pohon kelapa. Mobil-mobil dan motor para pemedek parkir di antara pohon-pohon itu.
Sebulan yang lalu, saat purnama, saya dan istri mengawali nangkil ke sini.Kami menyusuri tangga yang dihias hijau lumut di sis-sisinya. Di kanan kiri pohon-pohon, bukan hanya daun yang hijau, namun batang pohon pun beberapa tampak hijau disaput lumut. Bisa dibayangkan betapa sejuk daerah itu/
Tapi awas. Saat itu banyak kera. Mereka bergelantungan di pohon-pohon, mengintip kalau kami lengah. Saat itu banyak juga pemedek yang nangkil. Kami sembahyang secara bergantian.

Beberapa orang sembahyang dengan kusyuk, dan beberapa orang harus menjaga dengan membawa kayu. Sedikit saja lengah, kera-kera itu secepat kilat mencuri canang haturan. Kera-kera itu memang agak galak. Jero Mangku sampai sempat mengeluarkan ketapel untuk mengusir mereka. Tapi anehnya, hari ini, satupun tidak ada kera.
Hari itu saya, istri dan anak-anak nangkil. Personil lengkap. Kebetulan istri libur. Terpaksa anak-anak ijin di sekolah mereka. Ijin untuk nunas kerahayuan, ya tidak apa-apa. Awalnya kami sembahyang dulu di beji pura, kemudian lanjut di sebuah pelinggih sebelah beji. Kemudian sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta. Di pura itu ada patung Budha dan Dewi Kwan In.
Hari itu adalah rentetan piodalan yang jatuh saat Hari Raya Pagerwesi, salah satu hari raya umat Hindu di Bali. Nyejer 3 hari. Karena kebetulan hari Sabtu, 18 Mei ini adalah purnama, maka nyejer ditambah lagi satu hari.
Lantai pura terasa begitu dingin. Suasana betul-betul hening. Bau harum dari dupa-dupa yang terpasang di canang-canang yang dihaturkan. Suara genta dan mantra menghentak kesunyian hutan itu. Kami, para pemedek yang duduk bersila dan bersimpuh, dibawa ke suasana yang begitu kusyuk. Sesekali suara burung.

Selesai sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta, kami menuju pura Luhur Pucak Bukit Sangkur. Pura terletak di atas bukit. Kami menaiki 414 anak tangga. Saya menghitungnya dengan teliti. Saya sempat kawatir dengan Dek Prema, anak kami yang bungsu. Pas kondisinya sedang batuk pilek. Tapi saat menaiki ratusan anak tangga itu, dia justru ceria. Malah sempat berlari kecil memimpin rombongan. Sampai di atas dia tersenyum sambil ngos-ngosan.
Konon, menurut yang saya baca di google, Pura Pucak Bukit Sangkur itu adalah tempat pertapaan para resi dahulu kala. Mungkin karena itu, saya sempat melihat patung seorang resi di pelinggih pura saat sembahyang. Memang, di pura itu suasana begitu hening. Rasanya cocok mekemit sambil bermeditasi di malam hari.
Istri saya pernah cerita. Dulu, waktu masih kecil, dia pernah mengalami sakit yang aneh. Kuku-kuku tangannya tidak bisa menempel sempurna di kulit tangannya. Ke mana-mana sudah berobat, tapi tak kunjung sembuh. Terus ada kerabat yang mengajak nangkil ke pura ini. Berangsur-angsur, sakitnya itu sembuh.
Betul-betul ajaib. Puluhan tahun setelah itu, istri saya tidak pernah nangkil lagi ke pura ini. Dan tiba-tiba suatu ketika, terbersit keinginan untuk nangkil lagi ke Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur ini. Sebulan yang lalu, saat purnama, kami mengawali nangkil ke sini.
Istri saya mengucapkan syukur, mengucapkan rasa terima kasih, karena diberikan pengobatan secara gaib waktu dia masih kecil. Kalau tidak ada halangan, kami akan rutin nangkil setiap enam bulan sekali ke pura ini. Piodalan di pura ini begitu mudah diingat, yaitu saat Pagerwesi. [T]
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PEREMPUAN mana sih yang tidak menginginkan tubuh indah dan dipuji banyak orang? Memiliki tubuh indah adalah impian setiap perempuan di dunia. Tapi, bagaimana dengan perempuan yang...
“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door - Bob Dylan) JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung pe...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) seringkali menjadi senjata tajam yang dengan segala keunikannya dapat memisahkan pasangan yang bahkan telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Karena...
Catatan Harian Sugi Lanus 10 Agustus 2016 . APA Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "rahajeng dina otonan" dan "rahajen...
BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya just...
SIAPA pun yang bicara jalur shortcut Denpasar-Singaraja selalu tampak bersemangat. Optimis. Seakan-akan setelah jalur shortcut terwujud, masyarakat akan langsung sejahtera. Padaha...
SELEBRITI artinya orang terkenal, termasyur, tersohor. Untuk menjadi terkenal, banyak hal bisa dilakukan. Jika seseorang berbuat aneh-aneh, masuk dalam kategori pemecah rekor, dia...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mah...
Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0 PEREMPUAN...