Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
Pura Pucak Bukit Sangkur, atau sering juga disebut Pura Pucak Resi. Saya tidak tahu, entah di wilayah mana pura ini terletak, apakah masuk wilayah Desa Candi Kuning atau Kembang Merta, di wilayah Baturiti, Tabanan, Bali. Atau mungkin di perbatasan kedua desa itu.
Yang jelas, kalau dari arah selatan, setelah obyek wisata Danau Beratan, ada jalan kecil menuju timur. Jalannya mulus. Pemandangan danau Beratan dengan airnya yang tenang menyambut kita ketika memasuki daerah itu. Perkebunan sayur di kanan kiri jalan. Apapun yang ditanam, sepertinya bisa hidup di tanah yang subur itu. Udara terasa dingin.
Kami menyusuri jalan itu. Kemudian ada posko di pertigaan jalan. Sebuah papan nama pura, memberi kami arah untuk belok kiri. Kami sampai di areal parkir pura. Sebuah pura yang terletak di tengah-tengah hutan lindung. Di kanan kiri nampak pohon-pohon menjulang tinggi, rasanya lebih tinggi dari pohon-pohon kelapa. Mobil-mobil dan motor para pemedek parkir di antara pohon-pohon itu.
Sebulan yang lalu, saat purnama, saya dan istri mengawali nangkil ke sini.Kami menyusuri tangga yang dihias hijau lumut di sis-sisinya. Di kanan kiri pohon-pohon, bukan hanya daun yang hijau, namun batang pohon pun beberapa tampak hijau disaput lumut. Bisa dibayangkan betapa sejuk daerah itu/
Tapi awas. Saat itu banyak kera. Mereka bergelantungan di pohon-pohon, mengintip kalau kami lengah. Saat itu banyak juga pemedek yang nangkil. Kami sembahyang secara bergantian.

Beberapa orang sembahyang dengan kusyuk, dan beberapa orang harus menjaga dengan membawa kayu. Sedikit saja lengah, kera-kera itu secepat kilat mencuri canang haturan. Kera-kera itu memang agak galak. Jero Mangku sampai sempat mengeluarkan ketapel untuk mengusir mereka. Tapi anehnya, hari ini, satupun tidak ada kera.
Hari itu saya, istri dan anak-anak nangkil. Personil lengkap. Kebetulan istri libur. Terpaksa anak-anak ijin di sekolah mereka. Ijin untuk nunas kerahayuan, ya tidak apa-apa. Awalnya kami sembahyang dulu di beji pura, kemudian lanjut di sebuah pelinggih sebelah beji. Kemudian sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta. Di pura itu ada patung Budha dan Dewi Kwan In.
Hari itu adalah rentetan piodalan yang jatuh saat Hari Raya Pagerwesi, salah satu hari raya umat Hindu di Bali. Nyejer 3 hari. Karena kebetulan hari Sabtu, 18 Mei ini adalah purnama, maka nyejer ditambah lagi satu hari.
Lantai pura terasa begitu dingin. Suasana betul-betul hening. Bau harum dari dupa-dupa yang terpasang di canang-canang yang dihaturkan. Suara genta dan mantra menghentak kesunyian hutan itu. Kami, para pemedek yang duduk bersila dan bersimpuh, dibawa ke suasana yang begitu kusyuk. Sesekali suara burung.

Selesai sembahyang di Pura Pusering Jagat Panca Tirta, kami menuju pura Luhur Pucak Bukit Sangkur. Pura terletak di atas bukit. Kami menaiki 414 anak tangga. Saya menghitungnya dengan teliti. Saya sempat kawatir dengan Dek Prema, anak kami yang bungsu. Pas kondisinya sedang batuk pilek. Tapi saat menaiki ratusan anak tangga itu, dia justru ceria. Malah sempat berlari kecil memimpin rombongan. Sampai di atas dia tersenyum sambil ngos-ngosan.
Konon, menurut yang saya baca di google, Pura Pucak Bukit Sangkur itu adalah tempat pertapaan para resi dahulu kala. Mungkin karena itu, saya sempat melihat patung seorang resi di pelinggih pura saat sembahyang. Memang, di pura itu suasana begitu hening. Rasanya cocok mekemit sambil bermeditasi di malam hari.
Istri saya pernah cerita. Dulu, waktu masih kecil, dia pernah mengalami sakit yang aneh. Kuku-kuku tangannya tidak bisa menempel sempurna di kulit tangannya. Ke mana-mana sudah berobat, tapi tak kunjung sembuh. Terus ada kerabat yang mengajak nangkil ke pura ini. Berangsur-angsur, sakitnya itu sembuh.
Betul-betul ajaib. Puluhan tahun setelah itu, istri saya tidak pernah nangkil lagi ke pura ini. Dan tiba-tiba suatu ketika, terbersit keinginan untuk nangkil lagi ke Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur ini. Sebulan yang lalu, saat purnama, kami mengawali nangkil ke sini.
Istri saya mengucapkan syukur, mengucapkan rasa terima kasih, karena diberikan pengobatan secara gaib waktu dia masih kecil. Kalau tidak ada halangan, kami akan rutin nangkil setiap enam bulan sekali ke pura ini. Piodalan di pura ini begitu mudah diingat, yaitu saat Pagerwesi. [T]
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...