Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
Becanda dengan Tuhan adalah capaian tertinggi dalam hidup manusia. Ia melampaui capaian seseorang yang sudah meraih doktor atau profesor. Kenapa demikian? Karena sampai saat ini belum ada yang melakukan penelitian tentang Tuhan dan mendapatkan S3 dari sana. Tuhan, menurut tafsir agama yang lebih nyaring kita dengar, sedemikian sakralnya, sebegitu jauhnya, hingga untuk menemuinya manusia harus menggapai gunung yang tinggi, samudera yang luas atau kuil terpencil juga tempat pemujaan di negeri lain nan jauh.
Bagaimana kita mau becanda dengan-Nya jika situasinya demikian?
Maka rasa jarak yang jauh antara manusia dengan Tuhan pun telah membuat jarak manusia dengan sesama manusia kian bertambah jauh pula. Karena kita harus bertarung untuk merebut perhatiannya. Semakin banyak pesaing semakin sedikit sayang Tuhan untuk kita. Lalu, patutlah orang-orang itu kita binasakan. Hanya dengan demikian, Tuhan akan menjadi milik kita, bukan kepunyaan mereka. Untuk itu manusia butuh modal kebencian, kecemburuan, rasa takut dan kebengisan untuk menyingkirkan yang lain.
Ya mereka harus direnggutkan dari muka bumi, jika tidak, Tuhan akan jatuh dalam pelukan mereka.
“Ku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno
Tiada tanda apa saja di dalam-Nya
Nuju ke pegunungan Herat kumelangkah
Dan ke Kandahar kumemandang
Dia tak di dataran tinggi
Tak pula di dataran rendah
Ku pergi ke puncak gunung Kaf yang
menakjubkan
Yang ada Cuma tenpat tinggal burung Anqa
Kutanya pula Bu Ali Sina, tiada jawaban, sama saja
Ku pergi ke Kakbah di Mekkah
Dia tak disana
Lalu kejenguk dalam hatiku sendiri
Di situ kulihat diri-Nya
Di situ, tak di tempat lain”
(Jalaluddin Rumi)
Untaian kata-kata indah ini tertera pada sampul belakang album kedua band Enigma (1994) bertajuk The Cross Of Changes. Membuat kita terperangah dan takjub. Seakan-akan pujangga besar itu ingin melontarkan pertanyaan, “Apa yang engkau lakukan saat berdoa atau saat sembahyang? Menemui Tuhan? Bagaimana rasanya bertemu dengan-Nya? Bagaimana tampaknya?”
Mari coba kita jawab dan jelaskan. Saat kita memutuskan untuk berdoa, kita akan menutup mata kita. Sebagian orang akan menciptakan hening dalam kesendirian di tempat yang sepi. Namun setidaknya, menutup mata dan “meninggalkan sekitar”, hanya bersama diri sendiri. Kita berpisah dulu dengan istri tercinta dan anak tersayang. Juga sahabat-sahabat karib, sementara kita lupakan. Jangan-jangan, mungkin juga selingkuhan kita, mau tak mau harus kita campakkan saja dulu. Juga dengan mobil atau properti lain yang telah merawat image kita selama ini.
Semua kita lepaskan. Hanya ada pikiran yang kosong, desau nafas kita dan tubuh ini yang kian ringan. Saat semua penghalang hidup telah kita enyahkan, walau sesaat, kita perlahan dapat menemui secara utuh dan jujur diri kita sendiri, jati diri kita. Terekam dengan jelas bagai video dalam kamera 40 megapixel yang jernih dan detail. Kejernihan hanya milik Tuhan.
Lalu terpampanglah, hal-hal baik apa yang telah kita perbuat di hari itu. Tersenyum, membantu orang miskin, melayani pelanggan dengan baik. Atau, dosa apa saja yang telah kita lumurkan. Sinis, dengki, fitnah, intimidasi, berselingkuh? Hanya Tuhan yang dapat melihatnya dengan jelas. Maka, saat berdoa atau saat sembahyang kita sejatinya melakukan hal yang sedemikian sederhana. Menemui diri sendiri. Karena kitalah Tuhan itu. Astaga, kita semua adalah Tuhan!
Pantaslah orang-orang bijak lalu bertututur, hati manusialah kuil tempat Tuhan itu bersemayam. Hingga setiap orang harus menjaga kebersihan “kuil-kuil”-nya tersebut. Konon, kata-kata yang keluar dari kuil yang suci itu akan masuk ke dalam hati yang mendengarnya, namun kata-kata yang datang dari lisan hanya akan sampai pada pendengaran.
Terimakasih sastra, telah mengantarkan Sang Maha Sempurna ke singgasananya di setiap hati insan, hingga kita boleh becanda dengan-Nya dalam kehangatan rindu yang tiada berujung. [T]
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...