Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
---
Penyair Reina Caesilia, adalah nama akrab dari Caesilia Nina Yanuariani, hingga berpulangnya pada 2 April 2019, belum sempat menerbitkan buku antologi tunggal puisinya. Dilahirkan di Surakarta, 29 Januari 1965 tapi besar di Singaraja hingga tamat di SMAN 1 kota tersebut, sosok pendiam ini sesungguhnya terbilang produktif menciptakan karya-karya puisi dan esai sedini masa SMA-nya.
Sebagai penyair, Reina terbilang gigih, aktif bergaul dalam berbagai komunitas sastra serta kerap menghadiri berbagai pertemuan, termasuk di Jatijagat Kampung Puisi (JKP) Bali di bawah arahan Umbu Landu Paranggi. Puisi-puisinya terbit di berbagai media serta terangkum dalam berbagai kumpulan bersama, semisal “Saron” (2018), “Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta” (2016), “Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut” (2015), “Dendang Denpasar Nyiur Sanur” (2013), “Pedas Lada Pasir Kuarsa” (2009) dll.
Bakatnya mulai terasah dengan perhatian yang lebih sungguh setelah terlibat di dalam tahapan pawai, kompetisi dan budaya di Bali Post, di mana Umbu Landu Paranggi sebagai mentor atau redaktur yang tak segan memuat karya-karyanya secara “solo run” atau sendiri dengan sejumlah karya pilihan yang unggul.
Jauh sebelum mengemuka perdebatan perihal feminisme dalam susastra Indonesia, Reina, melalui karya-karya puisinya yang bersudut pandang perempuan, telah meluapkan gugatan terhadap budaya patriarki yang dirasa tidak adil dan menghalangi kebebasan berekspresinya sebagai kreator.
Karya-karyanya tak hanya bersifat soliloqui, yang soliter, melainkan juga menyuratkan pesan-pesan yang bersifat solider, sebentuk kepedulian pada hal-hal sosial—namun tetap diungkap dengan bahasa yang segar penuh metafor.
Dibandingkan angkatan kompetisinya di Bali Post, puisi-puisi Reina Caesilia tak sedikit yang bersifat naratif dengan deskripsinya yang terjaga. Hal ini mengingatkan sisi dirinya yang sempat mendalami secara sungguh bidang jurnalistik sebagai wartawan hingga posisi redaktur dari mulai di Bali Post, Nusa Bali hingga media-media online belakangan.
Sosoknya yang terbilang pendiam dan penyendiri namun juga kukuh dan keras atau tegas, tergambar pada keputusannya untuk meninggalkan posisi-posisi di berbagai media, termasuk keputusannya untuk berpindah jurusan dari Sastra Inggris ke Sastra Indonesia, di Fakultas Sastra Universitas Udayana, bahkan kemudian memilih keluar (tidak tamat). Ia kemudian menyelesaikan sarjana (S1) di FIKOM Universitas Dwijendra, Denpasar.
Karya-karya dan sosok Reina Caesilia akan dibahas oleh sastrawan Wayan Jengki Sunarta, adapun kiprah dan pergaulan kreatifnya akan ditimbang oleh penulis dan pengamat seni budaya Hartanto Yudo Prastyo. Termasuk bahasan pentingnya sebentuk Lembaga Solidaritas bagi peseduluran susastra di Bali.
Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Buday Bali.
Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya.
Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar, maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga dan sastrawan NH. Dini.
Para Pembicara
Hartanto Yudho Prastyo lahir di Surakarta, 1958 dan tinggal di Denpasar. Ia pernah bekerja sebagai wartawan majalah Matra. Menulis sejak SMP, karya-karyanya dimuat Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Karya, majalah Hai dan Jurnal Kebudayaan CAK. Puisinya terbit dalam antologi Ladrang (1995). Belakangan menjadi “petani” di Bali Utara.
Wayan “Jengki” Sunarta, lahir di Denpasar, 1975. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Menulis sejak awal tahun 1990-an, karya-karyanya dimuat Bali Post, Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia.
Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama seperti Nyanyian Fajar(1993), Getar (1995), Kidung Kawijayan (1996). Buku puisi tunggalnya Pada Lingkar Putingmu (2005), Impian Usai (2007), Malam Cinta (2008) dan terkini Petualang Sabang(2018). Meraih penghargaan Widya Pataka oleh Gubernur Bali (2007). [T] [*]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...