– Catatan Harian Sugi Lanus, 17 Mei 2019.
.
Alkisah, Sang Jiwa diperintahkan Sang Hyang Titah pencipta dan pengatur semesta turun ke dunia.
Lalu Sang Jiwa bertanya:
"Bagaimana aku turun ke dunia?"
Sang Hyang Titah memberi penjelasan:
"Engkau akan turun dalam bentuk aksara".
Sang Jiwa kembali bertanya:
"Apa itu aksara?"
Sang Hyang Titah memberi jawab:
"Aksara adalah keabadian. Aksara adalah hening sebelum
penciptaan semesta. Di dalamnya bertumbuh suara aksara. Ia adalah benih-benih
terjadinya alam semesta. Ketika semesta diciptakan, yang muncul kepermukaan
adalah suara dan biji-biji suara, dalam dengung. Dalam berbagai suku kata
berkumandang di alam raya. Om adalah yang tertinggi dan abadi. Lalu pecah
menjadi berbagai dengung suara yang terbagi menjadi suara aksara-aksara yang
menjadikan unsur-unsur penciptaan terjadi. Waktu, ruang, jiwa dan alam raya.
Jiwa adalah aksara dan suaranya. Jika jiwa ingin mendapat tubuh, ia berdengung
dalam berbagai ragam aksara, suara-suara itu yang akan menjadi material tubuh.
Tubuh yang tercipta dari dengung ini mengikat dan mewadahi jiwa."
Sang Jiwa merasa perlu dijelaskan lebih jauh:
"Jika aksara menjadikan aku bertubuh, apakah aku akan
terikat dan tak terlepas? Apakah aku kehilangan kesucianku?"
Jawab Sang Kuasa:
"Tubuhmu adalah suara aksara yang mengental. Jika
engkau ingin menyucikan tubuhmu, dengungkan kembali aksara-aksara itu sampai
bersuara. Suara aksara itu akan melembekkan semua kebekuan jiwa, meluluhkan
kekeruhan hati dan jiwa. Sebagaimana air jika ingin memisah diri dari berbagai
kotoran yang kadang melewati atau mengambang di atasnya, ia harus menyusup ke
dalam pertiwi, begitu juga tubuh yang tak lain suara aksara, ia akan kembali ke
kualitas aksara ketika kembali berbagai aksara itu diucapkan dan tata ulang
kembali dalam ucap suara aksara. Tubuh disusupkan kembali ke dalam suara
aksara. Air disucikan dengan menyusup dalam pertiwi atau diuapkan dalam akasa;
tubuh disucikan kembali dengan menyusup dalam suara aksara".
Sang Jiwa pun berangkat mendengar titah Sang Hyang Titah.
Sebelum berangkat, Sang Jiwa bertanya kembali:
"Jika aku ingin kembali berjumpa denganMu, bagaimana
caranya?"
Jawab Sang Hyang Titah:
"Sama seperti saat engkau ke dunia, turun dalan bentuk
dan berbekal aksara. Maka ketika kembali kepadaku, kembalilah dalam bentuk
aksara."
Sang Jiwapun turun bertangga dan berpusar dalam aksara.
Menjadi putaran suara aksara dan menjelma tubuh.
-----
Demikianlah kisah turunnya Sang Jiwa.
Sang Jiwa tak lain dari aksara yang menjelma tubuh. Untuk
kembali Sang Jiwa dikembalikan ke dalam bentuk aksara dan suara aksara.
Upakara atau ritual kematian, di Bali, untuk mengembalikan
Sang Jiwa dikenal dengan nama Upakara
Ngeringkes (atau Ngelelet).
Melalui tata cara Ngeringkes
(atau Ngelelet) tubuh orang yang
telah berpulang disucikan kembali ke asalnya, yaitu: aksara suci. Sang Jiwa
yang turun ke dunia dengan sarana aksara, dikembalikan ke titik muasalnya yaitu
suara suci.
Demikian juga isi dari Kajang (Kain putih bertulis berbagai
aksara suci) adalah jalan mengembalikan tubuh kembali ke hakikat suara aksara,
yang menjadi muasalnya sebelum terbentuk dan masuk dalam tubuh yang dibentuknya
sendiri dengan dengung suara aksara.
Sang Hyang Titah adalah Ongkara Mula. Inilah ditulis dan
diucapkan kembali suaranya. Tubuh sang Jiwa di dalam suara dalam Aksara
Krakah-Mudra, Aksara Wrestra-Nuriastra dan Aksara Swalalita.
Ketiga pembagian aksara itu dikenal sebagai Tri Kona yaitu
esensi perjalanan Sang Jiwa ketika mengalami kehidupan bertubuh: Utpti, Stiti,
Pralina (lahir, hidup, mati). Sang Jiwa yang lahir, tumbuh bertubuh, dan
ketika berpulang tangga kembalinya adalah suara aksara.
----
Sang Jiwa yang bertubuh, jika ingin selaras dengan muasal
dan Sang Hyang Titah, ia harus menjalankan doa harian menghayati dan
mendengungkan kembali berbagai suara aksara tubuhnya.
Pesan ajaran itu mengatakan: "Suarakan, pahami posisi,
hayati, hidupkan sampai bergetar semua aksara-aksara itu".
1. A =
dengung suara aksara Ati Putih
2. Na =
dengung suara aksara Nabi (pusar)
3. Ca =
dengung suara aksara cekoking gulu (ujung leher)
4. Ra =
dengung suara aksara tulang dada (tulang keris)
5. Ka =
dengung suara aksara pangrengan (telinga)
6. Da =
dengung suara aksara dada
7. Ta =
dengung suara aksara netra (mata)
8. Sa =
dengung suara aksara sebuku-buku (persendian)
9. Wa =
dengung suara aksara ulu hati (madya)
10. La
= dengung suara aksara lambe (bibir)
11. Ma = dengung suara aksara cangkem
(mulut)
12. Ga
= dengung suara aksara gigir (punggung)
13. Ba
= dengung suara aksara bahu (pangkal leher)
14. Nga
= dengung suara aksara irung (hidung)
15. Pa
= dengung suara aksara pupu (paha)
16. Ja
= dengung suara aksara jejaringan (penutup usus)
17. Ya
= dengung suara aksara ampru (empedu)
18. Nya
= dengung suara aksara smara (kama)
Ajaran "Hanacaraka ring sarira" (ha-na-ca-ra-ka dalam anatomi tubuh-jiwa) adalah salah satu metode memasuki hening dengan memahami dan menggetarkan anatomi suara aksara tubuh yang beririsan dengan Sang Jiwa.
Ajaran suci suara aksara tubuh yang lebih luas menjelaskan
anatomi tubuh Sang Jiwa terdiri dari 112 simpul suara aksara, secara umum
manusia memiliki 108 suara aksara yang membuatnya terkoneksi dengan proses
penciptaan awal, Sangkan Paraning Dumadi.
Sang Jiwa turun ke dunia dalam bentuk suara aksara, kembali
lagi ke Sang Hyang Titah sebagai suara aksara. [T]