Beberapa waktu lalu, 7 Mei 2019, saya menonton satu nomor pertunjukan berjudul, Pentas Drama Musikal Pan Balang Tamak, dipentaskan Yayasan Pendidikan Dria Raba di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Sutradara Rasta dan Dramaturg-nya Mas Hendra Utay. Sebagai catatan penting kawan-kawan aktor dan pemusik adalah penyandang tunanetra, dan dari pengamatan saya ada yang tunanetra total ada pula low vision.
Suatu pertunjukan yang
menakjubkan, dan penuh perjuangan saya pikir.
Tapiiiii….., tentu ada
tapi. Sebagai penonton yang baik dan budiman, saya hendak memberi beberapa
catatan, beberapa masukan, ulasan kecil, sebagai bentuk autokritik teater Bali
pada umumnya, sebab saya pun berada di dalam lingkaran tersebut.
Kadang saya sulit untuk
menempatkan diri jika menonton pementasan, yang mana sebagai pelaku, dengan
kepala penuh pemahaman, yang mana sebagai penonton tanpa tedensi apapun.
Kadang-kadang jika kepala sudah penuh tahu, kemudian menonton pementasan,
ketegangannya selalu terletak pada alam bawah sadar dan imaji yang menginginkan
lebih.
Contohnya Pementasan
Pan Balak ini. Sampai tulisan ini dibuat, kepala saya masih dibayangi
pementasan tersebut. Masih terbayang saya duduk di sebelah kanan panggung,
beberapa kali ngedumel saat stage manager-nya nggak bekerja
maksimal. Beberapa kali saya ketawa terpingkal-pingkal saat pemain ngelawak, bahkan berulang kali
saya memberi tawaran adegan, sebenarnya bisa diginiin, bisa digituin. Sayang
saja kalau tidak tercatat, apalagi usai pentas tidak ada diskusi terbuka untuk
penonton.
Kisah Pan Balang Tamak
menceritakan seseorang raja yang membenci tokoh Pan Balang Tamak. Raja ingin
membunuhnya, karena anak raja mencintai si tokoh kita. Tapi untung saja
kejahatan raja digagalkan oleh patih raja yang melihat tingkah raja sudah
menyimpang.
Terus terang yah wan
kawan, saya begitu berjarak secara sosial dengan kawan kawan penampil. Labeling
tunanetra yang melekat adalah pekerjaannya sebagai tukang pijat, dengan
kacamata hitam, tongkat petunjuk jalan, dan tas selempang. Stereotype ini sudah mengerak di kepala, sejak sejumlah sinetron,
atau film di TV, membekukan imaji ini.
Tidak pernah
terbayangkan kawan-kawan akan bermain
sandiwara di atas panggung, memberi suguhan yang mengocok perut, diiringi oleh
sejumlah lagu, tarian. Sudah barang tentu setiap penonton yang hadir malam itu, sepakat
pementasan berhasil dan sukses.
Saya menyusur sejumlah
penonton, mereka adalah kawan-kawan SMP, SMA dan mahasiswa yang tergabung dalam
kelompok teater di sekolahnya masing-masing, dan bapak-bapak ibu-ibu PNS yang
harus hadir, karena pementasan itu didanai pemerintah.
Ait tunggu dulu. Bagi
saya pribadi. Menonton pertunjukan; teater, tari, musik, dan jenis kesenian
lainnya, adalah sebuah cerminan atau sepenggal kisah dari masyarakat, yang kemudian
diolah dan dibawa ke atas panggung. Mampu menyentuh memori kolektif penonton,
sebab penonton adalah produk masyarakat itu sendiri. Memberi penyadaran, bahkan
lebih ekstrim sampai pada tahap empati dan mengintimidasi penonton, alam sadar penonton yang abai karena pengaruh
rutinitas berulang atau mekanis,
dikejutkan, sehingga efeknya berhasil, dan dibawa pulang ke rumah, diceritakan,
lalu menjadi tanggung jawab bersama.
Dari pemilihan judul
pementasan di poster, saya sudah diimingi-imingi menonton Drama Musikal. Kepala
saya ini dipenuhi ekspektasi drama musikal ala Broodway, atau mendekati broodway-lah,
dengan teknik dialog bernyanyi, teknologi panggung yang mengejutkan, alur
adegan yang mempesona. Nyatanya pementasan
lebih mirip Drama Gong, yang sempat ngetop pada tahun 80-90-an di Bali.
Aiiiiih saya rindu sekali
nonton Drama Gong. Kelompok-kelompok drama gong waktu itu, sangat mempengaruhi setiap lini masyarakat. Kenangan
saya langsung meluncur ke zaman SD dulu. Bagaimana Drama Gong tokoh Petruk dan
Dollar selalu dibicarakan di kelas, di tempat bermain, di posko, waktu jam
istirahat. Seolah-olah tontonan Drama Gong menjadi syarat tingkat keren. Karena
joke-joke mereka kami bawakan dan adaptasi di lingkungan sekolah.
Masih ingat juga,
sewaktu perpisahan sekolah SD, saya memimpin grup drama gong, mencukil beberapa
adegan dari Drama Gong yang kita tonton bersama, masih menggunakan VCD.
Pementasan Pan Balang
Tamak memang berisi tarian, musik, lagu, tapi tidak lebur menjadi satu kesatuan
utuh, persis seperti Drama Gong, setiap pemainnya keluar ada lagu yang
mengiringi, pilihan lagu pun, kekinian dan ngetop saat ini. Beberapa lagu malah
nampak berjarak dari tema yang diusung. Jika
saja kata-kata Drama Musikal itu diganti dengan Drama Gong, mungkin akan
menyentuh pasar yang berbeda, tidak hanya kalangan anak anak sekolah saja. Embel
embel drama musikal mungkin terlalu berat dan ambisius atau sekedar menjadi
dalih marketing saja.
Pemain musik dalam pementasan drama musikal Pan Balang Tamak
Pembacaan saya yang
lain, Sutradara dan Dramaturg-nya kurang berhasil melakukan observasi yang mendalam
terhadap kawan-kawan tunanetra serta mengaitkannya ke konteks masyarakat dewasa
ini. Hal ini terlihat, bagaimana pola lantai yang kurang jelas, keluar masuk
pemain tanpa perhitungan dan pertimbangan, kejaranannya hanya pada bentuk utuh,
dan eksistensi di atas panggung. Padahal jika digali lagi, mengadaptasi cara
kawan-kawan tunanetra dalam kesehariannya, banyak hal yang dapat
dipertimbangkan jadi bentuk adegan.
Misalnya begini, saya
tahu betul bagaimana tingginya tingkat hapalan kawan tunanetra. Kelebihan ini
semestinya diturunkan menjadi skor pola bergerak di atas panggung. Panggung
ditata sedemikian rupa, diisi benda-benda untuk mengingat struktur ruang. Pasti
dasyat. Atau tambahkan saja dua pemain
cameo, yang keberadaannya remang-remang, kadang jadi aktor, kadang jadi
penegas, kadang membantu pemain untuk menentukan ruang gerak.
Karena beberapa kali
pemain salah jalan, menabrak kain, menabrak hiasan, bahkan salah tempat duduk.
Penonton dapat memakluminya dari sisi kemanusiaan, tapi dari sudut pandang pertunjukan
dan teknis, hal ini dapat diselesaikan, jika saja lebih teliti, cermat, dan
berproses panjang.
Pertunjukan malam itu
hampir tidak lepas dari lawakan, mulai dari umpatan khas Bali yang nyelekit,
hingga sampai bahasan-bahasan yang sedang viral saat ini. Penonton diberi ruang
untuk melompat-lompat dalam imaji, kemanakah iya harus menyimpulkan,
diterbangkan antara dongeng dan realitas. Nampaknya Dramaturg Mas Hendra Utay
sedang hendak bermain-main di ranah ini, strateginya wacana kebanyakan, agar
kawan-kawan penonton tidak terlalu berjarak.
Tapi kadang-kadang
terlalu nampak menjauhkan konsep, membantingnya begitu saja, misalkan pakaian
pemain sangat bagus dengan mengusung tema Bali kontemporer, namun ditabrak
begitu saja dengan properti-properti
maenan, pedang mainan, ayam mainan, botol plastik tuak. Jadi gerimutan cang.
Konteks benturannya
sudah saya rasakan, dari penggunaan bahasa Bali, Indonesia, dan diselingi bahasa Inggris. Kemudian lagu-lagu pun saya
rasakan benturannya, lagu Bali, lagu Indonesia kini, bahkan dibentur dengan
dangdut. Maksud saya haruslah satu diteguhkan, sebab yang lain sudah mix. Betapa kerennya patih-patih itu
menggunakan keris beneran, tapi lagunya dangdut. Bayangkan saya sih begitu.
Satu lagi menilik pengalaman-pengalaman
bersoal kerjasama dan kolektifan dalam membangun pementasan, harus disadari
sebuah pertunjukan memiliki rencana jelas ke depan. Setelah pentas mau ke mana
lagi, apa selanjajutnya, bisakah menghadirkan pentas mandiri.
Satu adegan dalam pementasan drma musikal Pan Balang Tamak
Kata kawan saya, jika
suatu pergerakan didanai oleh pihak ketiga, hampir 80 persen, maka niscaya
gerakan itu perlahan tenggelam. Saya rasa ini tanggung jawab bersama, khususnya
yang berkolektif, agar berkarya tidak pada satu moment saja. Saya memiliki
mimpi kecil, jika saja kelompok pentas itu membentuk kelompok Drama Modern, kan
menarik, lalu dikelola dengan managemen yang baik. Bisa jadi gerakan besar itu.
Ya saya setuju dengan
istri bapak gubernur yang saat itu memberi sambutan, bahwa memang benar seni
dapat menyalurkan bakat anak-anak muda sehingga berlaku positif, tapi kan tidak
cukup di situ. Harus dipikirkan juga seberapa jauh seni mampu mengubah cara
pandang, membangun masyarakatnya dengan baik, tidak menjadi kelompok eksklusif.
Melibatkan penonton sampai kesadarannya.
Saya jadi ingat pernah
membaca satu tulisan pementasan Margi
Wuta oleh Teater Gardanalla, sutradara dan penulis naskah nya Joned Suryatmoko, bekerja sama dengan Ari
Wulu Penata Musik dan Bunyi, tahun 2011 di Yogjakarta. Bagaimana Mas Joned
sebagai sutradara mampu menghadirkan eksistensi kawan-kawan tunanetra hingga
berdampak pada nurani penonton. Ini eksperimen yang panjang tentunya, dengan
observasi dan skala trial error berulang. Tidak hadir sebagai eksplorasi
estetik, apalagi eksploitasi semata.
Anggoang
mone ah, Heri ngantosang di sisi, ajakine minum. Pedalem ye sing ngelah timpal,
hehe
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...