‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Saya tidak tahu karena saya belum pernah berdansa. Bagaimana bergerak mengikuti irama musik, melangkahkan kaki, gerak tangan dan juga gestur tubuh. Semuanya harus cocok.
Saya hanya senang memperhatikan jika dalam suatu film, ada adegan berdansa. Seperti adegan dansa antara Lim Kwei Ing [dipanggil Ing] dan Kwee Tjie Hoei [dipanggil Hoei] dalam film Love and Faith. Ing adalah anak perempuan seorang bangker yang kaya, sedangkan Hoei adalah seorang lelaki yang menjadi guru di sekolah Ing. Ayah Ing tahu, kalau Hoei menyukai Ing. Lalu Hoei diundang untuk mengikuti pertemuan keluarga besar Ing.
Pada pertemuan itulah ayah Ing mengatakan bahwa ada seorang perwira yang mapan menyukai Ing. Ayah Ing berkata kepada Hoei, “Lihatlah Hoei, dia adalah seorang perwira yang mapan, dia anak dari saudara saya, dan dia menyukai Ing. Saya tahu, kamu juga suka pada Ing. Tapi seorang ayah tentu berharap yang terbaik untuk anaknya”. Hoei hanya diam tidak bicara, dan tampak sedikit kaget. Lalu ayah Ing melanjutkan, “Mungkin kamu menyukai Ing, tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakannya?”.
Hoei menjawab, “Saat ini saya memang belum mapan, tapi saya akan berusaha. Sekarang saya hanya punya cinta dan kesetiaan”.
“Saya tahu kamu punya itu semua. Hanya satu saja yang kamu belum punyai, kekayaan”, kata ayah Ing. Tanpa menunggu jawaban Hoei, ayah Ing berkata lagi, “Saya ini bukan jenis orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya Hoei. Sekarang dekatilah Ing, yakinkan dia”.
Hoei tersenyum, memberi hormat dengan sekali anggukan, lalu mendekati Ing yang sedang berdansa dengan perwira yang juga suka pada Ing. Musik masih terdengar sayup, dan Hoei mencoba berdansa dengan Ing. “Saya tidak pernah berdansa”, kata Hoei Ing hanya tersenyum, lalu berkata, “Kamu tinggal ikuti saja iramanya. Dan kemana pun kakimu melangkah, Ing akan mengikutinya”.
Saya tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ing kepada Hoei. Konon seorang perempuan akan mengikuti kemana pun kaki pria yang disukainya melangkah. Apalagi yang lebih romantis dari itu?
Tapi itu juga berarti, seorang pria mesti bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Sebab satu keputusan, tidak lagi tentang satu orang pria, tapi juga seorang perempuan yang mengikutinya.
Saya ini Cangak yang juga bertanggungjawab. Segala jenis keputusan yang saya ambil, akan saya terima konsekuensinya. Kan dunia ini hanya milik mereka yang bernyali. Nah, saya ini salah satunya.
Nyali saya cukup besar untuk mengambil banyak resiko. Sebab hidup ini pada dasarnya hanyalah kumpulan resiko-resiko. Sisanya hanya tinggal bagaimana menyiasati resiko itu. Tapi bernyali tidak cukup. Orang harus punya kecerdasan, alias kebijaksanaan.
Percumalah keberanian itu jika hanya mendatangkan musibah. Makanya, orang berani, harus juga memiliki kecerdasan. Memangnya ada yang mau mati konyol? Tidak kan?
Oke. Mari kita pikirkan kembali tentang pesta dansa. Saya mencoba mencari rujukanrujukan sastra tentang dansa. Tapi tidak kunjung saya temukan. Yang saya temukan adalah rujukan tentang tarian. Namanya Dharma Pagambuhan. Ada ungkapan menarik di dalamnya. Konon, setiap penari mestilah berdoa terlebih dahulu kepada Dewa Smara. Tujuannya, agar penonton merasa tertarik dan betah melihat tarian.
Kata Smara berasal dari akar kata Smr dalam bahasa Sanskerta, yang artinya adalah ingat. Kata Smara ini juga bersinonim dengan Asmara, sehingga antara cinta dan ingat, berasal dari akar kata yang sama. Atau mungkin memang begitu? Orang yang sedang jatuh cinta, akan selalu mengingat-ingat yang dicintainya. Jika ada penari yang memuja Smara, barangkali tujuannya juga agar penonton selalu membayangkan dan mengingat-ingat tariannya.
Biasanya, pujaan kepada Dewa Smara juga disertai dengan pujaan kepada Dewi Ratih. Ratih itu nama lain dari Bulan. Jadi pasangan dari cinta dan ingatan adalah bulan. Wah, saya ini terkejut sendiri memikirkan itu. Tetapi ada yang belum jelas, kenapa antara cinta dan bulan itu berhubungan?
Tentang kedua tokoh ini, bisa kita cari-cari penjelasannya dalam kakawin Smaradahana. Kisahnya sudah tersohor. Mengisahkan tentang Dewa Smara yang dibakar oleh Shiwa karena telah berani mengganggu tapanya. Sedangkan Ratih, menunjukkan kesetiaannya. Ia dengan sadar meminta ikut dibakar, agar bisa menyatu dengan Smara. Kurang setia apa lagi Dewi Ratih itu?
Tentang kesetiaan, ada banyak cerita yang bisa kita baca. Kesemua cerita itu, adalah tentang kesetiaan wanita. Barangkali, wanita adalah perwujudan hakiki dari kesetiaan. Entahlah, saya juga belum mengerti. Jika perempuan adalah wujud kesetiaan, lalu apa sebenarnya keunggulan lelaki?
Kesetiaan Ratih cukup membuat hati Cangak saya yang suci ini terenyuh. Tahu tidak apa yang dia katakan sewaktu Smara baru saja dibakar oleh Siwa?
Kalau belum tahu, mari saya beritahu. Begini.
“Tuan, Dewa Smara pujaan hati hamba. Ruang mana yang mesti hamba masuki, Tuan tak kunjung nampak. Mungkinkah Tuan sembunyi pada cahaya bulan yang terang memandang lautan. Atau pada pohon kelapa yang tinggi dan miring ke jurang seperti menusuk langit. Apakah Tuan di sana, pada dawai pandan harum yang hamba tunggu membawa puisi”
“Tahukah Tuan? Hamba selalu teringat pada Tuan, saat menyaksikan kabut lembut memeluk gunung. Lebih lagi saat perlahan ia menghilang diterpa cahaya mentari, seperti tanda bagi hamba ketika jiwa Tuan turut musna”
“Tidakkah Tuan merasa terenyuh menyaksikan pohon-pohon berguguran, kering disengat cahaya matahari. Ranting-rantingnya menggapai-gapai, mengharap datang hujan gerimis. Lihatlah Tuan, tunas bunga Pudak yang tak sengaja dipukul oleh bambu yang digerakkan angin. Ia patah seperti Tuan kini, dan tiada yang peduli”
Smara yang tubuhnya telah dibakar, tapi suara-suaranya masih bisa didengar oleh Ratih berkata, “Dinda penguasa nafasku. Lihatlah, nasibku kini yang hancur jadi debu. Maafkan aku yang tak bisa membahagiakanmu”.
“Barangkali takdirku kini berpisah denganmu Dewi. Tubuhku boleh saja tak mungkin kembali. Tapi tidak dengan hatiku. Hanya dirimu, dan satu-satunya. Maafkan aku”.
Pesta dansa tidak ada ketika Smara dan Ratih dipisahkan oleh keadaan. Tapi pada tiap pesta dansa yang diadakan, Smara dan Ratih selalu bersemayam. Mereka bersembunyi di sana, jauh di relung hati yang tidak mungkin kelihatan.
Mereka sembunyi disana, pada tiap hamparan musik, langkah kaki, gerak tangan dan gestur tubuh masing-masing. Jadi wahai sodara-sodaraku para ikan, mari kita buat pesta dansa sambil berdoa agar hujan turun. Bukankah konon, hujan juga pertanda cinta langit kepada bumi?
Sejujurnya, saya ingin bertanya kepada Bumi tempat saya berpijak kini. “Wahai Bumi, yang konon berputar-putar seperti tarian para sufi. Kenapa kau menari?” [T]
CANGAK YANG LAIN:
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...