Apa yang spesial dari sebuah pesta dansa?
Saya
tidak tahu karena saya belum pernah berdansa. Bagaimana bergerak mengikuti
irama musik, melangkahkan kaki, gerak tangan dan juga gestur tubuh. Semuanya
harus cocok.
Saya
hanya senang memperhatikan jika dalam suatu film, ada adegan berdansa. Seperti adegan
dansa antara Lim Kwei Ing [dipanggil Ing] dan Kwee Tjie Hoei [dipanggil Hoei]
dalam film Love and Faith. Ing adalah anak perempuan seorang bangker yang kaya,
sedangkan Hoei adalah seorang lelaki yang menjadi guru di sekolah Ing. Ayah Ing
tahu, kalau Hoei menyukai Ing. Lalu Hoei diundang untuk mengikuti pertemuan
keluarga besar Ing.
Pada
pertemuan itulah ayah Ing mengatakan bahwa ada seorang perwira yang mapan menyukai
Ing. Ayah Ing berkata kepada Hoei, “Lihatlah Hoei, dia adalah seorang perwira
yang mapan, dia anak dari saudara saya, dan dia menyukai Ing. Saya tahu, kamu
juga suka pada Ing. Tapi seorang ayah tentu berharap yang terbaik untuk
anaknya”. Hoei hanya diam tidak bicara, dan tampak sedikit kaget. Lalu ayah Ing
melanjutkan, “Mungkin kamu menyukai Ing, tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk
membahagiakannya?”.
Hoei
menjawab, “Saat ini saya memang belum mapan, tapi saya akan berusaha. Sekarang saya
hanya punya cinta dan kesetiaan”.
“Saya
tahu kamu punya itu semua. Hanya satu saja yang kamu belum punyai, kekayaan”, kata
ayah Ing. Tanpa menunggu jawaban Hoei, ayah Ing berkata lagi, “Saya ini bukan
jenis orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya Hoei. Sekarang dekatilah
Ing, yakinkan dia”.
Hoei
tersenyum, memberi hormat dengan sekali anggukan, lalu mendekati Ing yang sedang
berdansa dengan perwira yang juga suka pada Ing. Musik masih terdengar sayup,
dan Hoei mencoba berdansa dengan Ing. “Saya tidak pernah berdansa”, kata Hoei Ing
hanya tersenyum, lalu berkata, “Kamu tinggal ikuti saja iramanya. Dan kemana
pun kakimu melangkah, Ing akan mengikutinya”.
Saya
tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ing kepada Hoei. Konon seorang perempuan
akan mengikuti kemana pun kaki pria yang disukainya melangkah. Apalagi yang lebih
romantis dari itu?
Tapi
itu juga berarti, seorang pria mesti bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya.
Sebab satu keputusan, tidak lagi tentang satu orang pria, tapi juga seorang perempuan
yang mengikutinya.
Saya
ini Cangak yang juga bertanggungjawab. Segala jenis keputusan yang saya ambil, akan
saya terima konsekuensinya. Kan dunia ini hanya milik mereka yang bernyali.
Nah, saya ini salah satunya.
Nyali
saya cukup besar untuk mengambil banyak resiko. Sebab hidup ini pada dasarnya hanyalah
kumpulan resiko-resiko. Sisanya hanya tinggal bagaimana menyiasati resiko itu. Tapi
bernyali tidak cukup. Orang harus punya kecerdasan, alias kebijaksanaan.
Percumalah
keberanian itu jika hanya mendatangkan musibah. Makanya, orang berani, harus juga
memiliki kecerdasan. Memangnya ada yang mau mati konyol? Tidak kan?
Oke.
Mari kita pikirkan kembali tentang pesta dansa. Saya mencoba mencari
rujukanrujukan sastra tentang dansa. Tapi tidak kunjung saya temukan. Yang saya
temukan adalah rujukan tentang tarian. Namanya Dharma Pagambuhan. Ada ungkapan
menarik di dalamnya. Konon, setiap penari mestilah berdoa terlebih dahulu kepada
Dewa Smara. Tujuannya, agar penonton merasa tertarik dan betah melihat tarian.
Kata
Smara berasal dari akar kata Smr dalam bahasa Sanskerta, yang artinya adalah
ingat. Kata Smara ini juga bersinonim dengan Asmara, sehingga antara cinta dan
ingat, berasal dari akar kata yang sama. Atau mungkin memang begitu? Orang yang
sedang jatuh cinta, akan selalu mengingat-ingat yang dicintainya. Jika ada
penari yang memuja Smara, barangkali tujuannya juga agar penonton selalu
membayangkan dan mengingat-ingat tariannya.
Biasanya,
pujaan kepada Dewa Smara juga disertai dengan pujaan kepada Dewi Ratih. Ratih
itu nama lain dari Bulan. Jadi pasangan dari cinta dan ingatan adalah bulan.
Wah, saya ini terkejut sendiri memikirkan itu. Tetapi ada yang belum jelas, kenapa
antara cinta dan bulan itu berhubungan?
Tentang
kedua tokoh ini, bisa kita cari-cari penjelasannya dalam kakawin Smaradahana. Kisahnya
sudah tersohor. Mengisahkan tentang Dewa Smara yang dibakar oleh Shiwa karena telah
berani mengganggu tapanya. Sedangkan Ratih, menunjukkan kesetiaannya. Ia dengan
sadar meminta ikut dibakar, agar bisa menyatu dengan Smara. Kurang setia apa
lagi Dewi Ratih itu?
Tentang
kesetiaan, ada banyak cerita yang bisa kita baca. Kesemua cerita itu, adalah tentang
kesetiaan wanita. Barangkali, wanita adalah perwujudan hakiki dari kesetiaan.
Entahlah, saya juga belum mengerti. Jika perempuan adalah wujud kesetiaan, lalu
apa sebenarnya keunggulan lelaki?
Kesetiaan Ratih cukup membuat hati Cangak saya yang suci ini terenyuh. Tahu tidak apa yang dia katakan sewaktu Smara baru saja dibakar oleh Siwa?
Kalau belum tahu, mari saya beritahu. Begini.
“Tuan,
Dewa Smara pujaan hati hamba. Ruang mana yang mesti hamba masuki, Tuan tak kunjung
nampak. Mungkinkah Tuan sembunyi pada cahaya bulan yang terang memandang lautan.
Atau pada pohon kelapa yang tinggi dan miring ke jurang seperti menusuk langit.
Apakah Tuan di sana, pada dawai pandan harum yang hamba tunggu membawa puisi”
“Tahukah
Tuan? Hamba selalu teringat pada Tuan, saat menyaksikan kabut lembut memeluk
gunung. Lebih lagi saat perlahan ia menghilang diterpa cahaya mentari, seperti
tanda bagi hamba ketika jiwa Tuan turut musna”
“Tidakkah
Tuan merasa terenyuh menyaksikan pohon-pohon berguguran, kering disengat cahaya
matahari. Ranting-rantingnya menggapai-gapai, mengharap datang hujan gerimis. Lihatlah
Tuan, tunas bunga Pudak yang tak sengaja dipukul oleh bambu yang digerakkan
angin. Ia patah seperti Tuan kini, dan tiada yang peduli”
Smara
yang tubuhnya telah dibakar, tapi suara-suaranya masih bisa didengar oleh Ratih
berkata, “Dinda penguasa nafasku. Lihatlah, nasibku kini yang hancur jadi debu.
Maafkan aku yang tak bisa membahagiakanmu”.
“Barangkali
takdirku kini berpisah denganmu Dewi. Tubuhku boleh saja tak mungkin kembali.
Tapi tidak dengan hatiku. Hanya dirimu, dan satu-satunya. Maafkan aku”.
Pesta
dansa tidak ada ketika Smara dan Ratih dipisahkan oleh keadaan. Tapi pada tiap pesta
dansa yang diadakan, Smara dan Ratih selalu bersemayam. Mereka bersembunyi di
sana, jauh di relung hati yang tidak mungkin kelihatan.
Mereka
sembunyi disana, pada tiap hamparan musik, langkah kaki, gerak tangan dan gestur
tubuh masing-masing. Jadi wahai sodara-sodaraku para ikan, mari kita buat pesta
dansa sambil berdoa agar hujan turun. Bukankah konon, hujan juga pertanda cinta
langit kepada bumi?
Sejujurnya, saya ingin bertanya kepada Bumi tempat saya berpijak kini. “Wahai Bumi, yang konon berputar-putar seperti tarian para sufi. Kenapa kau menari?” [T]
CANGAK YANG LAIN: