“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh: Komang Trisnadewi -- Batubulan, Gianyar Work from home, begitulah kata yang diserukan oleh pemerintah bagi para pekerja setelah merebaknya virus corona di Indonesia. Dili...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Oleh: Komang Trisnadewi -- Batubulan, Gianyar Work from home, begitulah kata yang diserukan oleh pemerintah bagi para pekerja setelah merebaknya virus corona di Indonesia. Dili...
Sudah lebih satu bulan jenis virus corona baru (Covid-29) menyebar sampai diputuskan sebagai pandemi global. Pengusaha wisata dan pekerjanya di Nusa Penida pun terdampak. Usaha sp...
Tahun 2020 ini, adalah tahun yang penuh dengan cobaan. Cobaan ini membuat masyarakat kalang kabut. Saat kondisi normal, beban hidup yang dirasakan masyarakat terutama yang tinggal...
Oleh: Made Suarbawa -- Jembrana Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya potongan-potongan yang aca...
Oleh: Nyoman Sukaya Sukawati -- Denpasar Saya melihat jam di tembok. Malam menunjuk pukul dua dini hari. Saya sedang menyendiri di kursi panjang dekat jendela, di ruan...
Pagi-pagi sekali setelah Nyepi kira-kira jam setengah 5 pagi, saya sedang enak tidur nyenyak setelah sehari penuh berdiam diri sambil main ceki. Tiba tiba, seseorang menggedor pin...
Saat ini, hampir semua kapal pesiar kini nasibnya sama, tidak ada tamu. Sebagian besar dari tamu merasa takut untuk berlayar akibat merebaknya virus corona. Ditambah pemerintah US...
Oleh: Amrita Dharma Darsanam -- SMAN 1 Kuta Utara Seperti pada tahun sebelumnya, aku begitu bahagia menyambut hari Raya Nyepi tahun Caka 1942. Karena teman-temanku saling berl...
Oleh: Komang Agus Subawa – Desa Pedawa, Buleleng Agus adalah nama akrabku yang dipanggil oleh orang-orang di sekitar rumah. Rambutku hitam ke kuning-kuningan dan sedikit botak...
A.A. Ngurah A. Windara -- Desa Serongga, Gianyar Jam sepuluh pagi, tanah basah, ada sedikit genangan di sana-sini, beberapa bagian berlumpur. Baru saja kampung ini di guyur huj...