“School from Home” | Menjadi Guru Sekaligus Menjadi Ibu Tunggal
Apa kabar di 2020 lalu? Baik? Ya baik, berusaha untuk tetap baik dan waras. Menjaga imunitas dan mental agar senantiasa segar bugar menghadapi segala macam terjangan dan gempuran...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Apa kabar di 2020 lalu? Baik? Ya baik, berusaha untuk tetap baik dan waras. Menjaga imunitas dan mental agar senantiasa segar bugar menghadapi segala macam terjangan dan gempuran...
Bulan Bahasa Bali akan dibuka secara resmi Gubernur Bali Wayan Koster dari Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (1/2/2021), disiarkan langsung melalui televisi dan me...
Seberapa sering kamu mendengar kalimat "bersyukurlah atas apa yang kamu punya", sambil kamu kebingungan menggambarkan "apa" yang seperti apa dan "apa" yang bagaimana di pikiranmu....
Kumpulan cerpen Nglekadang Meme (Melahirkan Ibu) karya Komang Berata tampil sebagai karya terbaik yang mendapat Hadiah Sastera Rancage 2021 untuk sastra Bali modern. Apakah keungg...
Makian atau umpatan tampaknya bukan merupakan sesuatu yang tabu lagi. Banyak tokoh politik atau pemuka agama yang melanggar kesantunan dalam berbahasa. Figur publik tersebut secar...
BATU DAN POHON Ada batu-batu yang kita lukis sepanjang jalan Batu-batu yang menjadi hujan air mata Batu-batu yang memiliki nama di keningnya Batu-batu setua bumi yang...
Cermin itu memantulkan wajahnya dengan sempurna. Tiada yang kurang, semua nyata. Sebuah wajah yang cantik, agung, lembut tetapi juga berwibawa. Pelan-pelan Sanggrama Wija...
Seribu seratus tujuh tahun lampau Raja Kesari Warmadewa menulis sebuah prasasti yang terhitung sebagai kelompok prasasti tertua di Bali, dengan hari dan tahun 'saptāmyāṁ sita' Pha...
Banyak pekerjaan yang menguras tenaga. Tapi menjadi supir truk, selain menguras tenaga, juga menguras perasaan. Saya sendiri tidak secara langsung merasakan bisa &...
PEMANGKU [pamangku] dalam konstruksi kehidupan masyarakat Bali menjadi posisi yang tidak hanya penting, tapi juga perlu. Di desa adat, kehadiran pemangku menjadi ujung tombak pela...