Seorang Yang Tak Pernah Berbohong | Cerita Rakyat Afrika Selatan
Ditejemahkan Juli Sastrawan dari buku: Cerita Rakyat Afrika SelatanPenulis: Elphinstone DayrellDiterbitkan: 1910Penerbit: Longmans, Green and Co., London, New York, Bombay &...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Ditejemahkan Juli Sastrawan dari buku: Cerita Rakyat Afrika SelatanPenulis: Elphinstone DayrellDiterbitkan: 1910Penerbit: Longmans, Green and Co., London, New York, Bombay &...
Seberapa penting film Tjoet Nja' Dhien untuk generasi milenial? Seberapa dekat issu yang dikandung dalam film yang pernah meraih delapan (8) piala Citra dalam gelaran FFI 19...
Nitya Yuli Pratistha, gadis yang lahir dari keluarga Hindu Jawa, yang menjadi bintang dharmawacana di Pura-pura besar di Jawa Timur itu, akhirnya memperdalam ilmu agamanya di Sing...
Kita Art Friends (KAF) berkolaborasi dengan Alila Seminyak, menggelar sebuah pameran seni rupa yang menghadirkan karya-karya perupa kontemporer Indonesia. Pameran berlangsung sela...
Kita mau membangun tembok, atau mau membangun jembatan? Dunia tanpa kontroversi adalah dunia yang tenang namun akan membosankan dan menjemukan. Ungkapan ini menggambarkan sebua...
Di ruangan agung Kerajaan Astina ini, sebuah pesta besar sekaligus nasib tragis pernah berlangsung. Terlampau tragis bahkan, hingga mengubah sepenuhnya masa depan negeri ini. P...
Perempuan mahasiswa magang di bank umum – dalam artian bank yang mengelola uang, sepertinya sudah biasa. Ini ada tiga perempuan menjadi relawan di bank sampah, tepatnya di Bank Sa...
Ini bermula dari sebuah obrolan di depan Indomaret pada sebuah SPBU di jalan Gatot Subroto Timur, Denpasar. Dari tiga minuman dingin dan dua bungkus makanan ringan berbahan kentan...
Gili Menjangan | Sumber : http://puragilimenjangan.com/sejarah.html Sekilas memandang hasil foto udara di atas yang menampilkan potret area Gili Menjangan, Kecamatan Gerokgak,...
Suatu kali, saya mendengar kisah bahwa sungai di suatu negara mendapat hak asasi; sungai tersebut berhak tetap mengalir, tetap bersih. Orang melanggar hak-hak sungai itu bila memb...