Upaya Mengenggam Kebahagiaan | Ulasan Novel "Gas" Nanoq da Kansas
Kebahagiaan adalah hal-hal yang kerap menjadi derita. Kita selalu berusaha untuk memiliki sesuatu atau berkompetisi mencapai titik tertentu. Kita kuyup dalam persaingan di ajang p...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Kebahagiaan adalah hal-hal yang kerap menjadi derita. Kita selalu berusaha untuk memiliki sesuatu atau berkompetisi mencapai titik tertentu. Kita kuyup dalam persaingan di ajang p...
Melihat Italia menjadi tim pertama yang mengunci tiket ke babak 16 besar Euro 2020, jadi teringat Jhumpa Lahiri. Entah kenapa. Gli Azzurri, Roberto Mancini, lalu Jhumpa Lahiri. Pe...
Kanekuro adalah sebuah band bergendre post punk/dark surf. Band ini beranggotakan empat orang truna-truni (dibaca; muda-mudi). Di antaranya ada Andre Tovan sebagai vokal, Gesta di...
Di Banjar Tubuh, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, saya beberapa kali bertemu Uwa Cening. Setiap bertemu, rasanya tak ada yang istimewa. Ia perempuan sederhana yang mengerj...
Tahu Rumah Plastik? Sayang sekali jika tidak tahu. Rumah Plastik adalah sebuah lembaga pengelola sampah pastik yang berdiri sejak 2016. Tempatnya di Desa Petandakan, Keca...
Diterjemahkan dari “The Farmer and Badger” dalam “Japanese Fairy Tales” karya Yei Theodora Ozaki Dahulu kala, hiduplah seorang petani tua dan istrinya yang membuat rumah di peg...
Zaman boleh terus berkembang, makin modern hingga postmodern. Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem, sebagai representasi dari Desa Bali Aga hingga kini masih me...
Jika kebetulan melintas dari Singaraja menuju Kintamani, siapa pun tentu akan melintasi beberapa desa, salah satunya Desa Mengening yang masuk wilayah Kecamatan Kubutambahan, Bule...
“Aku baru tiga bulan ketika itu. Semua orang di Denmark tahu apa yang terjadi pada 92. Sampai dibuatkan berbagai film, semua pemain-pemain itu masih sangat terkenal di Denmark, it...
Namanya Luh Evi. Usianya masih muda. Di desa tempat ia tinggal, di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, ia biasa naik motor melewati jalan berliku, menanjak dan menurun, sesek...