Pura Besakih, Kekuasaan, dan Gering Agung
Pura Agung Besakih akan direnovasi dengan anggaran yang sangat besar, hampir mencapai Rp 1 triliun. Anggaran ini disumbangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementeria...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Pura Agung Besakih akan direnovasi dengan anggaran yang sangat besar, hampir mencapai Rp 1 triliun. Anggaran ini disumbangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementeria...
Tampaknya belum banyak yang tahu rencana pembangunan industri perfilman bertaraf internasional di Bali. Belakangan rencana ini kembali mengemuka saat salah satu akun portal berita...
Permata Peradaban Pegunungan Kintamani sejak dahulu kala telah dinobatkan sebagai salah satu pusat orientasi hidup manusia Bali. Jejak-jejak orientasi itu dapat dibaca melalui...
Pandemi Covid-19 yang dimulai di Wuhan, Tiongkok tahun 2019 telah melanda seluruh dunia dan diumumkan secara resmi sudah masuk ke Indonesia sekitar Maret 2020. Di Indonesia Covid-...
Dari sisi politik ketatanegaraan Gajah Mada berhasil menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara, sedangkan dari sisi budaya polkitik keagamaan telah berhasil menanamkan keyakinan aga...
Selasa, 27 Juli, saya ditemani sdr. I Gede Kusuma Wahyudi berkunjung ke kediaman Bapak I Made Pageh ; salah satu staff dosen di lingkungan Jurusan Sejarah Sosiologi dan Perpustaka...
Pertama, ijinkan saya mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia pada HUT yang ke-76, semoga Indonesia benar-benar bisa bangkit dari keterpurukan pandemi ini. Dalam rangka mempering...
Ada beberapa arti kata pemangku menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang masuk dalam kelas kata nomina (kata benda) Orang yang memangkuOrang yang mewakili (Raja dan seb...
Tanggal 17 Agustus 2021 ini merupakan hari ulang tahun (HUT) ke-76 kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Usia kemerdekaan Republik Indonesia sudah 76 tahun. Kalau dibandi...
Tulisan ini sangat lama sekali tercipta. Entah karena penulis yang penuh kesibukan diterpa ganasnya kuliah onlen atau penulis sedang sangat malas untuk menulis karena bahan yang a...