Sungguh Diakui, Pesta Kesenian Bali Penting Bagi Bali
Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 resmi dibuka oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mewakili Presiden RI di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) Bajr...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 resmi dibuka oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mewakili Presiden RI di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB) Bajr...
TILEM Tilemcemasku laksana gadis dengan haid pertama gelisahku bak pengantin di tepian ranjang malam pertama Tilemkumohon jangan pergipergimu adalah pendar rembulan memantul...
“Pak, apakah ada alasan tertentu, kenapa Presiden Jokowi digantikan oleh Mendagri?” ujar seorang wartawan saat sesi tanya jawab Jumpa Pers terkait Pesta Kesenian Bali di Dinas Keb...
Seni rupa. Apa yang ada dalam bayangan Anda? Lukisan, patung, ukiran, atau sekumpulan karya seni yang terdapat di galeri-galeri seni? Tidak salah, memang. Namun seni rupa tak hany...
Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 akan digelar secara offline kombinasi daring mulai 12 Juni-10 Juli 2022. Berbeda dengan konsep sebelumnya, pawai tahun ini sekaligus dila...
"Siapa pun yang mempertahankan kemampuan untuk melihat keindahan, tidak akan pernah menjadi tua." - Franz Kafka. Penulis berpengaruh berdarah Yahudi, kelahiran Praha, Ceko,&nbs...
“Namaku Winda. Aku sedang hamil! Kau kenal Aditya? Ia pacarku, dan sekarang aku sedang mengandung anaknya! Kudengar kau pacaran dengannya!” Seketika mata gadis itu...
Invasi Rusia ke Ukraina sudah berlangsung beberapa bulan, tidak terdapat tanda-tanda wilayah Ukraina yang dijadikan target operasi oleh tentara Rusia akan segera jatuh dan dikuasa...
Sudah hampir dua jam Gede Sura mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Sesekali dia duduk, kakinya tak henti-hentinya digerakkan, kemudian bangun lagi. Belum beranjak jauh dari...
KOTA TAK PERNAH TIDUR kota tak pernah tidurjangan harap larut malam hadir di ranjangmukarena lampu-lampu kota menggantikan terangsebelum matahari menghilang kota tak pernah...