Saksi PKB Sejak 1979: Mie Ayam Racikan ala Parman
Kamis, 9 Juni 2022, beberapa hari menjelang Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV tahun 2022. Parman (63) mengumpulkan sejumlah kayu rusuk, reng dan triplek. Bahan-bahan...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
Kamis, 9 Juni 2022, beberapa hari menjelang Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV tahun 2022. Parman (63) mengumpulkan sejumlah kayu rusuk, reng dan triplek. Bahan-bahan...
Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba yang memilih kisah Ibunda Bung Karno, Nyoman Rai Srim...
Para remaja dari Desa Sarimekar, Kabupaten Buleleng, menunjukkan rasa gembira mereka ketika memainkan gamelan angklung bilah kutus (delapan) dalam ajang Pesta Kesenian Bali...
Sempat vakum kurang lebih 2 tahun (karena pandemi Covid-19), akhirnya tahun ini acara pelepasan dapat digelar kembali oleh sekolah-sekolah baik dari tingkat SD, SMP maupun SMA/ SM...
Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Menampilkan tiga sekeha Gong Kebyar sekalig...
Di tengah gemuruhnya gong kebyar dan jenis-jenis musik tradisional lainnya di Bali, para seniman di Kabupaten Jembrana tetap setia merawat kesenian jegog. Ini jenis seni musik yan...
Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, melahirkan Dramatari Parwa sekira tahun 1950. Seni pertunjukan itu diciptakan oleh para dalang dengan berbagai ciri seni yang...
Membarung bersama tiga sekaa gong kebyar dari Kabupaten Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2022 dijadikan momentum penting bagi para senimannya untuk mempertunjukkan tabuh-tabuh keke...
Tidak hanya makanan dan minuman, salah satu acara yang ditawarkan Ubud Food Festival adalah film screening. Pada tanggal 26 Juni 2022 di hari terakhir Ubud Food Festival,...
“Do Kak Sek”. Begitulah panggilan akrab I Dewa Kompiang Pasek, seniman yang lahir di lingkungan Banjar Gede, Desa Batuan, Gianyar, pada tahun 1920. Jejak tokoh yang terla...