Soal Wisata Desa, Bali Bisa Belajar dari Banyuwangi
KAMIS, 19 September 2024, saya berangkat dari Bali ke Kabupaten Banyuwangi. Saya ke sana dalam rangka menghadiri undangan Kemenparekraf dalam acara “Beli Kreatif Desa Wisata” yang...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
KAMIS, 19 September 2024, saya berangkat dari Bali ke Kabupaten Banyuwangi. Saya ke sana dalam rangka menghadiri undangan Kemenparekraf dalam acara “Beli Kreatif Desa Wisata” yang...
PEKAN Seni Mahasiswa Nasional 2024 di Universitas Negeri Jakarta yang berlangsung dari tanggal 2 sampai 6 September 2024 telah berakhir, seluruh kontingen lomba dari 38 provinsi d...
FILM animasi tak selamanya bercerita tentang hal-hal konyol, lucu, menghibur, dan mengundang gelak, sebagaimana film-film kartun liburan di akhir pekan atau di hari Natal. Banyak...
TIMBIS Paragliding (Paralayang Timbis)di atas ngampan adalah sport tourism yang ditawarkan Desa Adat Kutuh di Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan. Atraksi wisata terbang layang ini me...
KESENIAN ogoh-ogoh merupakan representasi simbolis dari kepercayaan dan budaya masyarakat Bali yang berhubungan erat dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh akan diarak mengeli...
NOVEL Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) pada mulanya adalah novel yang terbit terpisah. Yang pertama memang judulnya adalah Ronggeng Dukuh Paruk dengan anak judul “Catatan...
COBA dijawab, pecel lele yang biasa kalian makan di warung tenda tepi jalan itu berasal dari mana? Makanannya apa? Perkembangbiayakannya seperti apa? Kemukinan besar kalian tak...
SEJUMLAH seniman dan pelaku budaya lintas usia duduk berdampingan di sebuah gedung megah di Jakarta. Mereka saling cakap tanpa rasa canggung satu sama lain. Beberapa memang sudah...
PERJALANAN pulang pergi dari Desa Adat Kutuh ke Desa Adat Bualu untuk mabraya pada era sebelum 1980-an hanya satu jalan dan satu jalur, yaitu Jalan Darmawangsa namanya, kini. Se...
BUKAN Nosstress namanya jika tidak menyuguhkan sesuatu yang sederhana namun mengesankan. Pada 31 Agustus 2024 lalu, mereka menggelar pesta rilis album keenam yang bertajuk “Lebih...