Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian
SENIN Pon Pahang, 28 Oktober 2024, dalam rangka memperingati 96 Tahun Sumpah Pemuda, SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) menggelar acara bincang buku karya siswa. Sebuah antol...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
SENIN Pon Pahang, 28 Oktober 2024, dalam rangka memperingati 96 Tahun Sumpah Pemuda, SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) menggelar acara bincang buku karya siswa. Sebuah antol...
SORE itu, Tan Lioe Ie tampak menjinjing gitarnya dari pintu masuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) menuju stage Taman Puisi, ia juga sempat menyapa beberapa kawan-kawann...
SEBUAH wujud seni sebagai bentuk representasi budaya tidak hanya dinilai dari pengejawantahan pengetahuan adiluhung dari pengayom melalui bentuk-bentuk yang indah dalam rupa-rupa...
“Ini yang paling ramai sejak hari pertama,” ucap Erma yang berdiri di samping saya. General Manager UWRF ini harus berdiri dengan saya di sisi luar Alang-Alang Stage karena kursi...
“A historis!” demikian penilaian seorang dosen penguji terhadap tulisan mahasiswa sejarah dalam suatu ujian skripsi pada perguruan tinggi negeri di Bali di ujung senja era Orde ba...
PADA awal tahun, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Buleleng menggelar Lomba Inovasi Kuliner Berbahan Pangan Lo...
KENCANA Resto & Garden, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, malam itu tampak sangat ramai, tidak seperti hari-hari biasanya. Orang-orang lintas usi...
DISKUSI atau Ulas Buku “Representasi Ideologi Sastra Lekra” karya I Wayan Artika, setidaknya telah memperkenalkan sastrawan-sastrawan Lekra dahulu, di mana karya-karya mereka memi...
DI Vietnam, di Kawasan Songhong—sekitar abad 500 SM, terdetek sebuah peradaban Dong Son, yang sudah lebih dulu menggunakan logam sebagai kebudayaan fisik mereka. Berupa artefak al...
JANGAN kaget kalau sering menyaksikan pementasan Okokan dalam pawai budaya, festival atau acara penyambutan tamu penting. Termasuk hiburan kepada para turis. Okokan sebagai salah...