Program Gelis Diksi Toska, Usaha Merawat Pohon Literasi
SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska, Two South Kuta) sebagai penyelenggara Program Sekolah Penggerak Angkatan II sejak 2022 terus menggali kearifan lokal Bali untuk membuat program t...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska, Two South Kuta) sebagai penyelenggara Program Sekolah Penggerak Angkatan II sejak 2022 terus menggali kearifan lokal Bali untuk membuat program t...
PENGADUKAN lautan susu, Ksirarnawa oleh para dewa dan raksasa dimaksudkan untuk mendapatkan tirta amrta yang berarti tidak mati atau abadi. Raka Swari dan Adhi Swara pemilik pa...
Balada Buruh Kecil Di bawah langit revolusi,Dengan dada mungil kemerahan,Pancaran, sensasi murni;Terbakar, sepotong demi sepotongDalam bahasa yang keliru. Oh, hidup selalu d...
KETIKA saya mengunjungi Pura Pesiraman di Banjar Petapan, Desa Aan, klungkung, pengalaman yang saya rasakan benar-benar mendalam. Pura ini bukan hanya sekadar tempat sembahyang, t...
DI bawah cerah langit kemarin, ruang-ruang kelas di SMPN 2 Sawan tampak kosong. Segala suara ramai yang lalu-lalang, suasana romantis yang bikin histeris, sampai sepilihan kata-ka...
IA, pemuda tambun dan gondrong itu, memegang dan mengangkat Tualen yang tingginya hampir satu meter. Lalu ia memberi wayang tersebut semacam ruh, sehingga dapat bergerak dan berbi...
KONDISI permainan rakyat di Bali belakangan ini, sudah kehilangan peminat dan hilangnya ruang bermain. Kalau pun ada anak-anak yang masih melakukannya, itu cendrung dipaksa....
MENYOROTI persoalan di dunia pendidikan tidak akan pernah ada habisnya. Mungkin ini disebabkan karena adanya harapan yang besar dengan aksioma pendidikan adalah wahana pembentukan...
DISKUSI terpumpun atau focus group discussion (FGD) pada hari itu berlangsung dengan hangat, serius namun tidak kaku. Forum tersebut membahas berbagai hal terkait tradisi lisan da...
SEORANG kakek berjongkok dan mengeluarkan perkakas dari dalam tas karungnya. Di sana ada palu kayu dan tatah berukuran sedang, tampak juga meteran. Sesaat setelah mendapati alat-a...