Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan" di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunj...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
SENI pertunjukan yang ditampilkan Dewa Soma Wijaya saat “Repertoar Kekecewaan" di Neka Art Museum Ubud pada 18 April 2025 memiliki elemen yang sangat menarik untuk dikaji. Pertunj...
DALAM salah satu pengantar buku puisinya, penyair M. Aan Mansyur menulis begini: "Percakapan adalah salah satu perihal paling manusiawi, dan memanusiakan, yang bisa kita lakukan u...
"Om Angga kerjanya santai, ya?" Ibu pemilik sebuah warung makan berkata pada saya, sekitar dua bulan lalu. Pertanyaan itu terlontar, mungkin, karena saya sering makan di warungnya...
KALA Teater yang didirikan di Makassar pada Februari 2006 hingga kini tak henti bekerja, di atas panggung atau di luar panggung pementasa, Tahun ini, Kala Teater memproduksi...
BELUM juga malam. Sinar matahari masih tersisa di antara barisan awan di langit barat. Para undangan mulai memenuhi areal Pendopo Lobby The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Bali....
PULAU Peninsula, The Nusa Dua, Bali akan menjadi pusat perhelatan “Kartini Fest 2025”. Event yang digelar Gloria Event Organizer dan Yayasan Gloria ini mengusung tema “Semangat Ka...
BELAKANGAN ini saya melihat ibu saya makin tertarik pada berbagai promosi jamu pelangsing yang muncul di media sosial, terutama di facebook. Klaim-klaim seperti "turun berat badan...
BUS bergerak pelan, terkadang sangat perlahan, membuat kami yang duduk di dalamnya bisa dengan leluasa melihat keluar—lewat jendela—pemandangan ramai kota. Rumah-rumah, gedung, ta...
SUASANA di Fashion Hall, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store Day Market Bali 2025 digelar pada Sabtu-Minggu...
Perspektif politik hukum tanah masyarakat adat di Bali; tanah bukan bagi turisme tetapi bagi kesejahteraan masyarakat Bali * Foucault di dalam power/knowledge, apa yan...