Ketika Alam Tak Lagi Pasti: Dari Newton ke Quantum
SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di al...
Demikianlah salah satu pemikiran hebat seorang pejuang kemerdekaan terkhusus di bidang pendidikan, yaitu pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara. Tak perlu kita ragukan lagi, betapa visionernya sosok negarawan rendah hati ini.
Tokoh-tokoh besar yang telah dikaruniai kebijaksanaan oleh alam, sepertinya mampu memandang jauh ke depan, bahkan melampau batas akhir usianya sendiri. Pemikiran ini, sungguh relevan dengn situasi kebangsaan di tanah air saat ini. Juga mungkin di bumi ini, dalam kancah pertarungan geopolitik maupun ideologi.
Pasti masih segar namun kelam, dalam ingatan kita tragedi kemanusiaan di negeri tentram Sleandia Baru maupun negeri yang memang tak usai terkoyak kekacauan, Srilanka. Seorang radikal anti imigran dengan brutal membantai umat yang sedang khusuk beribadah di masjid yang damai di kota Christcurch.
Lihat, betapa indahnya, di sebuah kota di pesisir timur Pulau Selatan di Selandia Baru bernama Christcurch yang “sangat Kristen”, di sana telah berdiri masjid, rumah ibadah umat Islam. Sebelum amarah itu datang yang menyalak lewat moncong senapan otomatis mirip Riffle PUBG, lalu seketika darah dan tangis berserakan. Teroris itu jelas orang cerdas dan terdidik.
Sama dengan pelaku bom bunuh diri di sejumlah gereja dan fasilitas umum, terutama hotel mewah di Srilanka saat perayaan Paskah. Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan terdidik. Maka cerdas dan terdidik saja, sejak dahulu, bukanlah jaminan seseorang menjadi baik dan toleran. Ia, harus terdidik dengan baik dan benar, dalam doktrinasi nilai-nilai universal yang humanis, bukan religius yang fanatis dan primordial. Wahid Istitute dalam risetnya pun telah menyimpulkan, di kalangan terdidik di Indonesia, sikap intoleransi kian meningkat.
Bukan hanya Ki Hajar Dewantara, sang proklamator Bung Karno pun pernah mengucapkan isi pikirannya, yang mungkin sebenarnya adalah ketakutan-ketakutan sang pendiri bangsa yang visioner itu.
Simaklah, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.
Sungguhlah begitu sehati kegundahan kedua tokoh besar bangsa yang sulit dicari penggantinya ini. Apa sih kurangnya mereka? Mereka yang telah menuliskan dengan tinta emas kemerdekaan bangsa ini namun tak setarikan nafaspun ingin memiliki negeri ini dalam ambisi pribadinya dalam nuansa primordialisme agama maupun suku. Segala-galanya adalah milik semua anak negeri, semua bangsa, semua suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.
Pendidikan yang baik dan tinggi, semestinya kian menguatkan spirit toleransi dan pluralisme insani. Mengapa? Karena, sangat jelas secara ilmiah, kita semua saat ini, telah terlahir dari satu untaian proses evolusi yang sama. Sir Charles Robert Darwin telah mengumpulkan ribuan spesimen untuk menguji teori ini, hingga menjadi fakta-fakta obyektif natural bukannya imaji subyektif yang tendensius.
Kecerdasan, harusnya menjadikan manusia kian humanis, bukannya rasis. Periksalah darah semua manusia (homo sapiens) di dunia, dari semua ras dan agama, juga jenis kelamin atau kasta. Maka hanya akan ada 4 golongan darah ABO dan 2 Rhesus untuk semuanya. Takkan ada golongan darah Mongol, darah Islam, darah darah pangeran, darah wanita, atau darah tukang becak.
Oleh karenanya, darah seorang Hindu akan dapat diberikan kepada seorang Kristen, darah seorang homoseksual untuk seorang janda, darah seorang tentara untuk seorang aktris, atau darah seorang Madura untuk seorang kaukasoid. Maka, bukanlah keliru, jika seorang Hellen Keller mengatakan, hasil tertinggi dari pendidikaan adalah sikap toleransi. [T]
BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:
SELAMA berabad-abad, manusia hidup dalam keyakinan bahwa alam semesta dapat dijelaskan secara pasti.Isaac Newton, dengan hukum-hukum geraknya, menunjukkan bahwa setiap benda di al...
CAHAYA temaram menimpa sesosok yang duduk bersila sambil memegang sebuah lontar tua lalu merapal semacam matra purba, tubuhnya nyaris menyatu dengan lantai pertunjukan. Dalam kesu...
PERNAHKAH kita scrolling timeline instagram dan secara tak sadar menyimpan begitu banyak postingan yang sering kali kita anggap penting? Atau mungkin, kita adalah bagian dari mere...
REFORMASI 1998 menandai pergeseran besar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia menuju desentralisasi kekuasaan. Namun dua dekade kemudian, semangat otonomi daerah itu justru menga...
Di salah satu sudut taman Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Padang, Sumatera Barat, Minggu sore, terasa sedikit berbeda. Di antara riuh anak-anak yang bermain dan ar...
I Made Suniartika, sineas Bali patut gembira karena film pendek yang disutradarainya tayang dalam sebuah festival di Korea Selatan. Film itu berjudul "Purusa: Wedding Sacred", den...
KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS...
KETIKA berbicara tentang keselarasan harmoni kita memijaki Bali yang dikenal sangat erat dengan keterhubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, diramu dalam filosofi hidup; “Tri Hi...
PEREMPUAN muda berbusana hitam itu bersimpuh sambil mengudar tali panjang yang kusut. Bersama musik yang tak nyaman didengar—setidaknya menurut saya—ia kemudian meliukkan tubuhnya...
SETIAP tanggal 10 November, bangsa ini menundukkan kepala mengenang perjuangan para pahlawan. Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan pertempuran Surabaya atau deretan nama di tugu...