Jam satu dini hari. Aku ingin bertemu denganmu. Kepalaku sakit, Sri. Sakit yang menusuk, hingga ke hati. Wisnu lupa, betapa aku sangat mencintaimu!
Dulu, aku pikir,
semakin tua hidup akan semakin tenang. Menikmati sisa waktu hingga ajal
menjemput, entah kapan. Bermain bersama cucu. Berkebun mentimun dan katalia. Atau
duduk dipematang bersamamu, Sri.
Ternyata tidak.
Kian hari aku makin tak
sepakat dengan Wisnu tentangmu.
Tega-teganya dia ingin memisahkanku denganmu diumurku yang hanya menunggu
waktu. Anak macam apa itu? Padahal dia tahu, aku sangat mencintaimu. Apakah dia
sudah lupa, kaulah yang mengasuhnya di masa kanaknya dulu. Kau biarkan dia
berlarian diantara lumpur dan jernih air pematang. Mengacak tubuhmu sesuka
hati. Tak ada amarah darimu.
Kubaringkan tubuh
diatas dipan. Pikiranku liar dan panas. Namun kaki terasa dingin. Angin menelusup
melalui celah jendela dan juga celah pintu. Sakit dikepalaku makin menjadi.
Otakku mengirimkan denyar rasa sakit keseluruh tubuhku. Sesaat aku layu. Serupa
putri malu yang tersentuh jemari, serentak mereka melunglaikan diri.
Aku berusaha memejamkan
mata. Tapi tiap kali terpejam, yang terbayang adalah elok hijau liukanmu,
berbalapan dengan teriakan Wisnu, “Besok akan datang tanah tiga truk.”
“Pak, kita harus
memutuskan yang terbaik untuk keluarga kita. Semua orang sekarang begitu. Saya
tidak mau keluarga kita tertinggal jauh. Begini-begini saja. ” Wisnu berteriak.
Denyut di kepalaku makin hebat. Napasku memburu. Tapi aku terdiam. Dia ternyata
tidak mengerti bapaknya. Aku lelah dengan pertengkaran ini yang makin hari
membuatku makin tidak berdaya.
Pagi datang, merambat
susah payah. Bening, oranye hangat. Aku menyeret langkahku bersama kepala yang
berdenyut tak henti, untuk menemuimu.
Kubiarkan tanganmu yang
kuning gading menyentuh tubuhku. Membelai dan menjawab rasa rinduku. Mengenyahkan
teriak-teriakan Wisnu yang menghuni telingaku. Membawaku pada kenangan masa
lalu.
Aku merunduk,
mendekatkan wajahku pada wajahmu. Sisa embun dan seekor pipit mencuri pandang,
lalu berkabar pada capung merah yang mengapung. Merekalah pewarta kemesraan
kita.
Kanak-kanak adalah masa
awal pertemuan kita. Diantara kapu-kapu, gelagah, dan ali-ali. Jariku menyentuh
jarimu. Tak jarang menimbulkan baret luka, karena kulitmu tidaklah lembut.
Menyadarkanku bahwa kita hanyalah jelata.
Kau, Sri, mengajarkanku
bagaimana menangkap siput sawah dan ikan kecil yang berlarian diantara kita. Karenamu,
aku tahu dimana rumah si tuan belut. Membedakan dengan rumah si ular sawah. Aku
masukkan tangan ke lubang, lalu menggeliatlah belut diantara genggamanku. Aku
beteriak kegirangan, sedangkan kau menari meliuk seirama angin.
Kau juga yang
mengajarkan hal yang sama kepada Wisnu. Aku pikir dia akan memberikan cinta
yang sama kepadamu. Setidaknya aku pernah berharap seperti itu. Aku ingin dia
menjagamu, seperti aku yang menjagamu. Mewarisi dan meneruskan. Itulah mengapa
aku menamakannya Wisnu.
Tiga truk tanah yang
akan datang pagi ini adalah jawaban atas cinta itu, Sri.
Sri, betapa sepi masa
tua. Rengas dan Karda, karibku, lebih dulu meninggalkanku. Merekalah yang mengantarku bertemu denganmu. Rengas menunggang
kerbaunya, sedangkan Karda mencabuti biah-biah untuk makan siang bebek
peliharaannya. Sesudahnya kami akan berlarian menerbangkan layang-layang
diantara pematang.
Rengas meninggal dua
tahun yang lalu. Serangan jantung dini hari. Setelah dia tidak punya tempat
untuk mengajak kerbaunya merumput.
Karda pergi setahun
yang lalu. Serangan stroke yang kedua kalinya. Dia tak punya tempat untuk
mencari biah-biah untuk bebek peliharaannya. Kandang bebeknya sudah lama
kosong.
Aku mulai merasa sepi,
sendiri. Kekasih yang termangu memandangmu, Sri, yang terhimpit kios di sebelah
kanan dan rumah kost disebelah kiri. Kaulah pemandangan yang indah diantara
mereka.
“Pak, garasi mobil lebih menjanjikan.
Penghasilan lebih pasti setiap bulan. Dengan tanah seluas 8 are, kita bisa
membuat lebih dari 20 garasi mobil. Uangnya lebih banyak dari pada hasil panen
yang tidak tentu. Bapak juga tidak perlu lelah setiap hari pergi ke sawah. ”
Wisnu benar-benar tidak mengerti bagaimana sayangnya aku padamu, Sri.
Deru truk terdengar
mendekat. Mungkin inilah perpisahan. Sakit dikepalaku makin hebat, bersama
hatiku yang semakin sepi.
“Ong Bhatari Sri, Sri Wastu ya namah swaha.”
Kubisikan sebait puisi cinta untukmu. Lembut lumpur membalur kakiku kemudian
tubuhku, Rengas dan Karda yang menggapai tanganku.
Biarlah kenangan hidup
di hati. [T]