Dibukanya Bali bagi pengembangan pariwisata yang cenderung massal berakibat kepada degradasi lingkungan dalam berbagai ranah; seperti berkurangnya ruang terbuka hijau, semakin banyaknya jumlah sampah, rusaknya puluhan sungai akibat dari pembangunan villa yang seringkali dilabel sebagai hunian yang kembali ke alam, padahal senyatanya merusak alam itu sendiri.
Tidak hanya itu, pariwisata juga menjadi stimulan bagi berkurangnya sawah di Bali. Bagimana tidak, di Bali kini lahan produktif yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian semakin menyusut. Setiap tahun ditenggarai sekitar 1000 ha lahan sawah beralih fungsi menjadi peruntukan nonpertanian. Pesatnya perkembangan pusat-pusat pertumbuhan bisnis pariwisata, membuat terdesaknya fungsi alamiah lahan sebagai penyangga daur ekologis.
Tentu ketika kita berbicara perihal pariwisata, tak bisa lepas begitu saja dari kebermanfaatanya. Inilah yang menjadi masalah dilematis bagi Bali sendiri. Di satu sisi pariwisata memberikan banyak sekali pendapatan, di sisi lain, lagi-lagi lingkungan alam harus menjadi tumbal atas keserakahan manusia yang tak pernah berkecukupan. Hal-hal yang dilematis inilah yang dihadirkan Made Adnyana Ole dalam puisinya Dongeng dari Utara.
Membaca puisi Made Adnyana Ole yang
berjudul Dongeng dari Utara, kita
dihadapkan oleh diksi-diksi yang dilematis. Puisi Dongeng Dari Utara menceritakan tentang seorang anak yang bercerita
ke ibunya tentang perubahan lingkungan hidup yang dulunya indah dan damai, tapi
kini berubah menjadi sumpek, runyam dan panas. Waktu berlalu, hari berubah, dan
perubahan-perubahan tak bisa kita dibendung, pun kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh keserakahan manusia itu sendiri.
Melihat bagaimana Made Adnyana Ole mengungkapkan kerusakan lingkungan beserta kenangan bagaimana keindahan Utara dulu akan saya lihat dari model analisis isotopi.
Menurut Otong Surotong, hahahaa, becanda. Isotopi adalah wilayah atau medan makna yang terbuka di sepanjang wacana. Secara sederhananya, kita (pembaca) dapat menangkap beberapa kata yang memiliki kesamaan makna. Masing-masing isotopi membentuk motif-motif dan motif-motif tersebut menunjukkan tema puisi.
Berdasarkan penjelasan di atas, puisi ini memperlihat perubahan lingkungan serta gambaran bagaimana Bali dulu dan kini. Asumsi ini pertama-tama dapat diperiksa dengan mencari isotopi. Isotopi “ketakutan” saya peroleh berdasakan adanya leksem: liar, hitam, memburu, sembunyi, sesat, jatuh, mati dan membusuk.
Isotopi “tempat” dijumpai pada bait kedua: hutan, goa, tapal batas, dan kampung pelacur. Pada bait ketiga ini terdapat isotopi “suara”: desis, lolong, raung dan tenggorokan. Pada bait selanjutnya terdapat isotopi “kenangan indah” hal ini bisa dilihat dari leksim: terkenang, dulu, hati, telaga bening, pelangi, bidadari. Bait terakhir isotopi “kerusakan”: menganga, lubang.
Berdasarkan isotopi yang telah ditemukan: isotopi ketakutan, isotopi tempat, isotopi suara, isotopi kenangan indah, dan isotopi kerusakan, maka dapat disimpulkan motif yang ada di dalam puisi di atas adalah motif ketakutan, motif kenangan, dan motif kerusakan.
Hal ini bisa dilihat dari bait pertama motif ketakutan (hutan bersuara liar, Punggung bukit hitam. Orang-orang Atas memburu titik lampu, Sembunyi, puing kota yang mati, membusuk di mulut ular!). Motif kenangan indah (kita terkenang, Dulu, Di sisi telaga bening. memperlihatkan pelangi, memanggil bidadari). Motif kerusakan (laut menganga, lubang matahari).
Buku kumpulan puisi "Dongeng dari Utara" karya Made Adnyana Ole
Puisi “Dongeng dari Utara” merupakan salah satu puisi dari buku kumpulan puisi Made Adnyana Ole yang memanfaatkan perlambangan yang sangat maksimal. Ini bisa dilihat dari bait pertama yang berkisah tentang orang-orang atas yang tinggal di balik perbukitan, yang gelap dan tanpa lampu. Sebuah perbandingan untuk melambangkan bagaimana jomplangnya model dan gaya hidup orang Utara dan Selatan.
Pemaknaan kerusakan lingkungan bisa dilihat pada bait ini juga, hal itu terdapat pada kalimat “Punggung Bukit Hitam” dimana bukit hitam ini memang benar adanya di Bali Utara. Seperti yang dikutip dari pernyataan Bupati Buleleng, Ribuan hektare lahan hutan di Kabupaten Buleleng, Bali, mengalami kerusakan yang cukup parah dan kondisinya sangat memprihatinkan. Ia menyebutkan secara keseluruhan luas hutan di wilayahnya itu mencapai 51.436,21 hektare, sedangkan 8.258,14 hektare di antaranya rusak parah.
Sepanjang tahun ini telah terjadi kebakaran hutan di wilayah Kabupaten Buleleng. Bahkan kebakaran hutan di Pulaki dan Tejakula telah merusak tanaman produktif di atas lahan seluas 56 hektare.
Awalnya ini hanya cocoklogi, mencocokan sana sini hahaha. Tapi ketika dicari, yih.. ade ternyata!
Leksim “ular” juga
kita banyak jumpai pada puisi Dongeng
dari Utara karya Made Adnyana Ole. Ia menggambarkan bentuk investor atau
pengembang pariwisata dengan pemaknaan ular rakus yang main lahap dan pemberi
janji-janji indah yang bisa dilihat pada kalimat (Ular-ular jinak
memperlihatkan pelangi). Suara
yang dibungkam dalam kalimat (simpan suaramu, ibu yang kemudian dilambangkan
dengan beberapa jenis suara binatang) adalah perlambang bagaimana aspirasi dari
masyarakat yang berbeda latar belakang coba dibungkam hanya untuk posisi aman.
Isotopi kerusakan lingkungan yang paling jelas terlihat terdapat dalam dua bait terakhir. Di bait ke empat, Made Adnyana Ole menggambarkan bagaimana Bali Utara dulu lewat kenangan-kenangan indahnya, kebun anggur, rambatan hati petani, telaga yang bening, air terjun yang bisu dalam artian tenang tergambar jelas dalam bait puisinya.
Leksim “bidadari” dan juga “pelangi” seakan menjadi unsur menambah kesan keindahan yang ingin disampaikan Made Adnyana Ole dalam puisinya. Sampai akhirnya puisi ditutup dengan bait ke lima yang menjelaskan tentang akhir kerusakan lingkungan dan bagaimana Utara kini. Hal ini bisa dilihat dari kalimat “laut kini menganga” dan tempat yang dulunya indah untuk ikan-ikan, hanya menjadi tempat bunuh diri. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...