Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
“Gus, sampun megae?” Sudah bekerja?
“Tiang kari mahasiswa, Pak!” Saya masih mahasiswa, Pak.
Itu dialog teman saya dengan ayah dari pacarnya, suatu hari di hari yang tak begitu cerah. Teman saya menceritakan dialog itu kepada saya sembari menirukan mimik wajah orang tua kekasihnya yang berasal dari keluarga berada.
Itu terjadi ketika teman saya bermain ke rumah kekasihnya dan dijamu lumayan hangat oleh orang tuanya, hingga pertanyaan itu terlontar. Dan, jleb, teman saya merasakan gejala tidak kondusif terhadap kondisi perizinan orang tua kekasihnya terhadap dirinya yang sudah saling menyayangi selama kurang lebih satu tahun.
Hanya gara-gara masih mahasiswa, dan belum bekerja, maka izin pacaran pun terancam dicabut.
“Ape teh pelihne dadi mahasiswa? Apa sih salahnya menjadi mahasiswa?
Demikin teman saya bertanya-tanya dengan nada mengeluh. Kami tidak saling menatap satu sama lain, melainkan sibuk dengan layar ponsel masing-masing. Sebagai sesama lelaki ,kegiatan menatap satu sama lain secara berlebihan bisa saja dikatakan penyimpangan.
Sejenak saya berpikir, mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal kekasih teman saya itu juga masih mahasiswa, apakah salah menjadi mahasiswa?
Jika tolak ukurnya adalah dalam hal finansial saya rasa itu keliru, karena sudah banyak mahasiswa yang sudah berwirausaha dan meningkatkan kondisi finansialnya sendiri. Padahal mahasiswa itu adalah pekerjaan, bahkan pekerjaan yang mulia, yang tak digaji, justru membayar.
Sebuah guyonan dari dunia maya pernah mengatakan bahwa mahasiswa lebih rendah daripada budak. Kenapa? Karena mahasiswa itu harus bekerja, tidak dibayar, namun harus membayar. Sedangkan budak tidak membayar, tidak dibayar tapi harus bekerja.
Contoh yang paling sederhana adalah dalam akademik, mahasiswa membayar biaya operasional institusi yang akan mengakuinya sebagai sarjana, mahasiswa yang bekerja demi mendapat pengakuan sebagai sarjana dengan belajar dan mengerjakan tugas, namun ia tidak dibayar sama sekali.
Kalaupun disebutkan bahwa mahasiswa dibayar dengan nilai dan ijazah, perlu diketahui nilai dan ijazah itu didapat dari pemenuhan kewajiban membayar kepada institusi setelah mahasiswa itu belajar dan memiliki kemampuan cukup, kondisinya tetap sama kalaupun mahasiswa tersebut mendapat beasiswa.
Contoh lainnya, ketika mahasiswa tersebut dihadapkan dalam kewajiban bergabung dalam organisasi resmi kampus yang menurut saya seharusnya tidak perlu diwajibkan. Dengan iming iming pengalaman atau poin keaktifan yang berharga, mahasiswa terpaksa mengikuti organisasi itu.
Sekali lagi mahasiswa yang bekerja menggerakkan roda organisasi, setelah bergabung mahasiswa terkadang diwajibkan membayar secara finansial walau tidak selalu dan setahu saya lebih sering bersifat sukarela, kalaupun tidak rela membayar secara finansial setidaknya mahasiswa wajib membayar dengan waktunya menghadiri kegiatan organisasi. Dan tidak dibayar sama sekali.
Pada kolom pekerjaan di KTP tertera tulisan Mahasiswa. Di KTP saya. Itu berarti pekerjaan saya adalah menjadi mahasiswa, yang harus membayar, harus bekerja, namun tidak dibayar.
Terkadang saya tidak ikhlas menjalaninya, tetapi kini saya memenangkan rasa ikhlas menjalani pekerjaan sebagai mahasiswa.
“Anggap saja ngayah!” Begitu kata dosen saya kepada mahasiswanya yang mulia. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...