Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
“Gus, sampun megae?” Sudah bekerja?
“Tiang kari mahasiswa, Pak!” Saya masih mahasiswa, Pak.
Itu dialog teman saya dengan ayah dari pacarnya, suatu hari di hari yang tak begitu cerah. Teman saya menceritakan dialog itu kepada saya sembari menirukan mimik wajah orang tua kekasihnya yang berasal dari keluarga berada.
Itu terjadi ketika teman saya bermain ke rumah kekasihnya dan dijamu lumayan hangat oleh orang tuanya, hingga pertanyaan itu terlontar. Dan, jleb, teman saya merasakan gejala tidak kondusif terhadap kondisi perizinan orang tua kekasihnya terhadap dirinya yang sudah saling menyayangi selama kurang lebih satu tahun.
Hanya gara-gara masih mahasiswa, dan belum bekerja, maka izin pacaran pun terancam dicabut.
“Ape teh pelihne dadi mahasiswa? Apa sih salahnya menjadi mahasiswa?
Demikin teman saya bertanya-tanya dengan nada mengeluh. Kami tidak saling menatap satu sama lain, melainkan sibuk dengan layar ponsel masing-masing. Sebagai sesama lelaki ,kegiatan menatap satu sama lain secara berlebihan bisa saja dikatakan penyimpangan.
Sejenak saya berpikir, mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal kekasih teman saya itu juga masih mahasiswa, apakah salah menjadi mahasiswa?
Jika tolak ukurnya adalah dalam hal finansial saya rasa itu keliru, karena sudah banyak mahasiswa yang sudah berwirausaha dan meningkatkan kondisi finansialnya sendiri. Padahal mahasiswa itu adalah pekerjaan, bahkan pekerjaan yang mulia, yang tak digaji, justru membayar.
Sebuah guyonan dari dunia maya pernah mengatakan bahwa mahasiswa lebih rendah daripada budak. Kenapa? Karena mahasiswa itu harus bekerja, tidak dibayar, namun harus membayar. Sedangkan budak tidak membayar, tidak dibayar tapi harus bekerja.
Contoh yang paling sederhana adalah dalam akademik, mahasiswa membayar biaya operasional institusi yang akan mengakuinya sebagai sarjana, mahasiswa yang bekerja demi mendapat pengakuan sebagai sarjana dengan belajar dan mengerjakan tugas, namun ia tidak dibayar sama sekali.
Kalaupun disebutkan bahwa mahasiswa dibayar dengan nilai dan ijazah, perlu diketahui nilai dan ijazah itu didapat dari pemenuhan kewajiban membayar kepada institusi setelah mahasiswa itu belajar dan memiliki kemampuan cukup, kondisinya tetap sama kalaupun mahasiswa tersebut mendapat beasiswa.
Contoh lainnya, ketika mahasiswa tersebut dihadapkan dalam kewajiban bergabung dalam organisasi resmi kampus yang menurut saya seharusnya tidak perlu diwajibkan. Dengan iming iming pengalaman atau poin keaktifan yang berharga, mahasiswa terpaksa mengikuti organisasi itu.
Sekali lagi mahasiswa yang bekerja menggerakkan roda organisasi, setelah bergabung mahasiswa terkadang diwajibkan membayar secara finansial walau tidak selalu dan setahu saya lebih sering bersifat sukarela, kalaupun tidak rela membayar secara finansial setidaknya mahasiswa wajib membayar dengan waktunya menghadiri kegiatan organisasi. Dan tidak dibayar sama sekali.
Pada kolom pekerjaan di KTP tertera tulisan Mahasiswa. Di KTP saya. Itu berarti pekerjaan saya adalah menjadi mahasiswa, yang harus membayar, harus bekerja, namun tidak dibayar.
Terkadang saya tidak ikhlas menjalaninya, tetapi kini saya memenangkan rasa ikhlas menjalani pekerjaan sebagai mahasiswa.
“Anggap saja ngayah!” Begitu kata dosen saya kepada mahasiswanya yang mulia. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...