Belum tau ya? Band #akebuleleng telah meluncurkan album kedua yang diberi judul “Semangat Berkarya”. Oh, sudah tahu? Hahahaha, tulisan ini memang telat.
Album kedua ini diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2019. Dalam
albumnya terdapat sembilan lagu. Album kedua #akebuleleng diluncurkan dalam
bentuk fisik CD audio. Penggarapan album kali ini membutuhkan waktu satu tahun.
Begitu kutipan yang diambil dari siaran pers yang dibagikan
saat peluncuran album, yang bertempat di Rumah Musik Demores, Pantai
Penimbangan, yang menjadi basecam #akebuleleng.
Jujur saja, saya
sangat senang ketika mendengar #akebuleleng akan meluncurkan album kembali.
Sebagai penikmat musik lokal buleleng, saya selalu bergembira ketika mendengar
ada grup band lokal yang berani meluncurkan single lagu meraka bahkan jika
sampai meluncurkan album. Hal Ini menandakan bahwa kehidupan kreatif
musisi-musisi Buleleng masih memiliki nyawa. Sebagai sebuah band dan musisi,
mempunyai album merupakan salah satu tonggak kekhidupan mereka, bukti dari
kesenimanan yang dimiliki.
Terlepas dari hal
positif yang dilakukan oleh #akebuleleng yang telah menghasilkan dua buat
album, saya yakin diluar sana (masih disekitaran Buleleng) pasti ada musisi
yang nyinyir kepada #akebuleleng. “Pantas aja bisa bikin dua album, mereka
punya studio rekaman toh!!!” (sekedar informasi bahwa Demores Rumah Musik
adalah studio rekaman yang dimiliki oleh Gde Kurniawan, pentolan
#akebuleleng”).
Walau punya studio musik sendiri, mari kita coba hitung
secara ekonomi, berapa kisaran dana yang dikelurkan oleh #akebuleleng untuk album
keduanya. Biaya rekaman di Buleleng satu lagu hingga mixing, ada pada kisaran
satu juta rupiah. Dalam album #akebuleleng ada sembilan lagu, jadi totalnya
sembilan juta rupiah. Biaya pembuatan keping cd audio lengkap dengan covernya,
kita perkirakan harganya dua puluh ribu rupiah, dengan minimal cektak 100
keping jadi harganya sekitar dua juta rupiah.
#akebulleeng saat launching album kedua
Untuk rekaman dan membuat keping CD saja dana yang
dihabiskan sudah Rp. 11.000.000. Ditambah dengan pembuatan satu video klip
sekitar empat juta rupiah, totalnya menjadi Rp. 15.000.000 setara dengan gaji
satu tahun seorang guru kontrak di Buleleng. Pantas saja jika banyak musisi
yang sedikit nyinyir dengan #akebuleleng. Segitu saja membahasnya ya…
Setelah melakukan
peluncuran album, saya diberikan satu CD album #akebuleleng, ada sembilan lagu,
1. Semangart Berkarya, 2. IKAKU, 3. Depang Anake Ngadanin 4.Sahabat Sejati 5.
Paedah 6. Lagu Luu 7. Suksma Meme Bapa, 8. Rasa Cinta Pertama 9.Perbedaan Bukan
Alasan. Semua lagunya sudah saya dengarkan, sebagai teman perjalanan di dalam
mobil (jika lagi bawa mobil karena pemutar CD cuma ada di mobil hehehe).
Saat mendengarkan lagu #akebuleleng seluruhnya, saya
langsung terbayang dengan ES ANCRUK. Es Ancruk adalah salah satu varian es
campur yang cukup melegenda di Buleleng. Kata ancruk sama dengan hancur, jadi
bisa dibayangkan tampilan esnya. Penjual Es Ancruk yang melegenda di Buleleng,
dulu ada di pasar senggol sebelah barat kantor Telkom Singaraja. Sudah lama
tidak beli es ancruk semoga masih ada dagangnya.
Isian dari Es Ancruk cukup banyak, saking banyaknya jadi
terlihat hancur. Didalam es ancruk, seperti es campur yang didalamnya, isi
bubur sagu, ongkoe, agar-agar, kolang paling, kolek, susu, kolek mutiara, dan
masih ada isi lainnya yang tidak jelas saya tau namanya. Seperti itulah isian
dalam lagu dan musik #akebuleleng di album “Semangat Berkarya”
Sekarang
#akebuleleng beranggotakan lima orang personil awalnya tujuh orang, dua orang
mengundurkan diri. Dengan berlima, materi lagunya menjadi Ancruk, padahal
mereka #akebuleleng mengaku dalam album kedua kali ini, materi lagu dibuat
lebih sederhana dan easy listening dan lebih real saat dibawakan saat live
perfomance.
Pengabungan berbagai genre musik dalam album kedua ini,
benar-benar dilakukan secara ancruk. Lagu yang paling saya suka, adalah lakgu
ke 5 yang berjudul paedah. Sentuhan gendang pantura dalam lagu paedah bikin
sangat menyenangkan, maklum saya orang indonesia dangdut is my life, dangdut is
the music of my country.
Kekhasan yang ada
dalam lirik lagu dialbum kedua #akebuleleng, mereka mencoba memperkanalkan
kata-kata lokal yang familiar di Buleleng, seperti kata gocingan yang artily
Rp. 5.000,- kata yang populer karena pengaruh warga cina yang ada di Buleleng.
Kata paedah menurut orang Buleleng dapat diartikan sedanga dalam keadaan banyak
uang. Dalam bahasa Indonesia kata paedah di tulis dengan huruf F “Faedah”.
Penggunaan huruf E dalam kata “Faedah” merupakan proses pengenalan dari bahasa
daerah. Kata Faedah merupaka serapan dari bahasa Arab. Wah malah jadi bahasa
kata nihhh…
Seperti itulah
lagu #akebuleleng yang benar-benar superit es ancruk. Berantakan hancur namun
nikmat untuk didengarkan.
Setelah
meluncurkan album kedua, saya yakin #akebuleleng akan banyak mengisi di
panggung-panggung musik yang ada di Buleleng, bain diacara Pemerintah maupun
acara swasta. Dengan bukti keseriusan dalam berkarya di dunia musik wajar
#akebuleleng mendapatkan banyak panggung, walau event di Buleleng lebih banyak
diselenggarakan oleh Pemerintah bukan berarti #akebuleleng adalag musisi plat
merah.
Dengan biaya produksi yang cukup banyak yang dikeluarkan
oleh #akebuleleng untuk menjaga eksistensinya, banyak job manggung menjadi
saluki satu usaha untuk balik modal. Jadi para musisi di Buleleng jangan
nyinyir ya… kalau #akebuleleng banyak ngisi di event pemerintah. Kalau ingin
kecipratan Paedah-nya, ayo bikin lagu sendiri, bikin album sendiri. Cukuplah
panggung-panggung musik di Buleleng di isi dengan band yang hanya bisa nyanyiin
dan ngenakin lagu orang lain yang sudah terkenal.
Mari ramaikan panggung musik di Buleleng dengan musisi dan
lagu karya sendiri. Jangan juga merasa sumbar setelah merilis satu, dua single
saja. Teruslah berkarya ramaikan blantikan musik buleleng dengan karya-karya
musisi Buleleng. Biar banyak punya follower di IG, jika sudah banyak job pasti
datang dan pasti jadi “PAEDAH”
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...