Tensi aktivitas manusia di kawasan pinggiran Kaldera Batur I sebelah barat selama pelaksanaan Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur tahun 2019 meningkat. Lautan manusia pun mengalir tiada putus hampir selama setengah bulan ritus terbesar di pura tersebut digelar.
Kondisi
ini hampir terjadi setiap tahun, menyebabkan Sasih Kadasa–bulan ke sepuluh tahun Saka– menjadi bulan yang paling
ditunggu-tunggu masyarakat di kawasan itu. Di kala normal, aktivitas manusia di
Perbukitan Kintamani biasanya akan terhenti seiring matahari pulang ke
peraduannya. Meski dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Bangli dan
Singaraja, jika tak ada urusan yang benar-benar penting dan mendesak, jalanan akan
sepi ditelan malam. Gugusan warung dan toko yang menyebar di kanan-kiri jalan
jarang yang buka sampai larut, selayaknya di kota-kota selatan dan utara Bali.
Manusianya, tentu saja satu per satu masuk rumah dengan pintu dan jendela
tertutup rapat. Segala aktivitasnya disembunyikan dalam dekapan halimun dingin
yang senantiasa bersetia pada Perbukitan Kintamani.
Namun, kebiasaan itu sontak didobrak saat ritus Ngusaba Kadasa dilaksanakan. Manusia-manusia yang biasanya bersembunyi di balik kabut bagai terdorong energi hebat memusatkan diri pada satu titik, Pura Ulun Danu Batur. Dalam rentang waktu tersebut, malam dan hawa dingin seakan tak menjadi ancaman yang serius sebagaimana di hari-hari normal. Ada pekerjaan dan tanggungjawab yang lebih besar yang harus mereka selesaikan, memastikan para pendoa yang datang bisa bersembahyang dengan nyaman, siang maupun malam.
Bagi penganut Hindu, khususnya di Bali, berdoa kepada Hyang yang bersemayam di Pura Ulun Danu Batur ketika perayaan Ngusaba Kadasa seakan meenjadi keharusan, telah mendarah daging. Entah sejak kapan hal itu berjalan, yang jelas pendoa selalu datang berduyun-duyun siang dan malam, menyulut terjadinya kemacetan berbelas-belas kilometer di sekitar kawasan itu.
Konon, menurut narasi sejumlah teks, sosok yang dihormati di Pura Ulun Danu Batur, yang merupakan representasi penguasa Gunung Batur memang berkuasa ataskeberlimpahanamretadan kesejahteraan Bali. Narasi itulah yang kemudian membangun jejaring antara masyarakat Bali di Pegunungan Kintamani dengan masyarakat di kawasan dataran. Bahkan, dalam sejumlah narasi ditegaskan bahwa mereka yang abai pada sosok penguasa Gunung Batur akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, sehingga menjadi keniscayaan mengupayakan sekeping waktu untuk sekadar menyembah di perayaan terbesar pura tersebut. Maka, terjadilah perayaan mahabesar yang tentunya banyak menguras energi, dan tak jarang melahirkan masalah yang justru kontradiktif dengan esensi perayaan, misalnya sampah.
Jejaring Kosmos
Dalam kalender ritual Desa Pakraman Batur, Ngusaba Kadasa bukanlah satu-satunya ritus yang ditujukan pada para Hyang yang dihormati di palinggih-palinggihdi kompleks pura itu. Ngusaba Kadasa hanyalah puncak perayaan. Namanya puncak, ia juga disokong oleh kaki dan badan ritus llainnya, yang dilakoni hampir sepanjang tahun. Dari 12 bulan –dalam keadaan normal– penanggalan Saka, hanya ada satu bulan yang bebas tanpa ada kegiatan upacara menyangkut hubungan manusia dengan Hyang. Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, hingga Jiesta semua adalah bulan-bulan upacara bagi masyarakat Batur.
Sibuk.
Tentu saja sangat sibuk. Belum lagi upacara-upacara khusus semacam Danu Kretih, Tribhuwana,atau Candi Narmada yang digelar dalam kurun waktu
tertentu. Semuanya itu ditujukan sebagai sebuah tanggungjawab terhadap Hyang,
penguasa atas Gunung Batur dan Danau Batur.
Sosok Hyang yang dimaksud, menurut hemat saya tidak kurang dari personifikasi terhadap energi ekologis yang berada di sekitar badan manusia. Energi itu dalam khazanah pengetahuan batin Bali kemudian dihormati sebagai Sad Kretih. Versi teks Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, enam energi yang harus dihormati itu meliputi Giri Kretih (pemuliaan terhadap gunung), Danu Kretih (pemuliaan terhadap danau), Wana Kretih (pemuliaan terhadap hutan), Sagara Kretih (pemuliaan terhadap laut), SwiKretih (pemuliaan terhadap sawah), dan Jagat Kretih (pemuliaan terhadap dunia atau negara).
Batur
sebagai salah satu “kepala” Pulau Bali tentu saja memiliki tanggungjawab yang
penting terhadap kelangsungan keenam unsur tersebut. Sebagai kawasan pegunungan
vulkanis, Batur memiliki Gunung Batur yang belum tidur. Ia siap kapan saja
memuntahkan aneka material dari perut bumi sebagaimana yang dilakukannya
beberapa kali, termasuk erupsi terdahsyat yang tercatat dalam sejarah terjadi
pada Agustus 1926, yang melahap Desa Batur Tua.
Merujuk sejumlah
teks tradisional seperti Usana Bali,
Gunung Batur konon merupakan potongan Gunung Mahameru di Jambudwipa, yang
dibawa oleh Hyang Pasupati sebagai paku Balidwipa. Gunung Batur dibawa
bersama-sama Gunung Agung, yang juga gunung berapi. Dengan adanya dua pasak
itu, Bali yang konon terombang-ambing di samudera luas dapat kembali harmonis.
Memantapkan keharmonisan itu, ditugaskan juga dua putra-putrinya sebagai
penguasa dua gunung utama, Hyang Putrajaya di Gunung Agung yang
bertanggungjawab atas jiwa manusia Bali dan Hyang Dewi Danuh di Gunung Batur
yang bertanggungjawab atas kesejahteraan manusia Bali.
Di
pinggir Gunung Batur, gugusan perbukitan Kaldera Batur I dan Kaldera Batur II
yang menumbuhkan hutan tak ditampik sebagai sumber resapan air bagi daerah di
bawahnya. Kini, pemuliaan terhadap hutan itu salah satunya dapat dijejak
melalui keberadaan Pura Alas Arum Batur. Sebagai daerah resapan air, keberadaan
kawasan Batur juga dikaitkan dengan mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah1
yang konon “berjualan” air ke sejumlah desa di kawasan Bali dataran.
Keberadaan
hutan menjadi penyebab utama lahirnya air, danau, sungai, dan juga berujung
pada isi perut manusia melalui keberadaan sawah. Di sinilah titik kunci
peradaban Batur modern, yang menghubungkan ratusan komunitas subak di
Balidwipa. Atas dasar jejaring inilah, Pura Ulun Danu Batur kemudian ditasbihkan
sebagaiPura PangulunSubak di Balidwipa2.
Konsep ketahanan
pangan yang melibatkan aliran air Batur ke masyarakat desa di bawahnya juga tersaji
daalam mitos Ida Ratu Kentel Gumi. Dalam mitos tersebut dikisahkan, akibat
pertengkaran hebat Hyang Putrajaya dan Hyang Dewii Danuh lahirlah hama, yang
kemudian merusak hasil panen masyarakat Bali. Hyang Pasupati harus turun tangan
mendamaikan kedua putra-putrinya, dan untuk menetralisir hama, maka hadirlah
sosok Ida Ratu Kentel Gumi. Kisah itu saat ini juga dicandikan dalam proses
ritus bernama NgusabaKalima atau NgusabaNangluk Merana yang digelar setiap
purnama Kalima di palinggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi di kompleks Pura Batur.
Dalam
catatan tentang kisah itu, Raja Purana Batur juga mengajukan konsep Kahyangan
Tri Guna, yang memunculkan Pura Besakih, Pura Kentel Gumi (Klungkung), dan Pura
Ulun Danu Batur sebagai tiga titik spiritual masyarakat Bali. Pura Besakih
berperan sebagai Pura Balem Bali, Pura Kentel Gumi sebagai Pura Puseh Bali, dan
Pura Ulun Danu Batur sebagai Pura Bale Agung Bali3.
Mengucilkan Pengetahuan
Jejaring
alam semesta, sistem kemasyarakatan, dan sistem ketuhanan sebagaimana
dinyatakan di depan memang cukup logis menggiring hati dan kepala manusia Bali
untuk “menyokong dan membenamkan” Batur dalam panggung ekospiritual penting di
Bali, tentunya selain titik-titik lain seperti Besakih, Batukaru, Lempuyang,
Beratan (Pucak Mangu). Melalui konsep tersebut, Batur sejatinya telah menjelma
menjadi kelas pengetahuan yang disabdakan langsung oleh alam semesta dan diramu
kekayaan pikir leluhur.
Namun,
di era kekinian, romantismepengetahuan yang disemai leluhur terdahulu tak
banyak mampu menjawab persoalan generasi penerus. Ada jarak dan keterpotongan
yang jauh antara pengetahuan leluhur dan generasi penerus, juga pada
penyimbolannyayang kinidiwarisi dalam wujud ritus.
Kini, di
balik megahnya proses berkebudayaan yang dilakoni masyarakat Batur (dan juga
Bali), tak banyak yang benar-benar termaknai secara komprehensif.
Pecahan-pecahan mutiara pemikiran itu tersebar dalam sejumlah bentuk, ada dalam
wujud mitos, artefak, ritus, hingga situs. Mereka terpenggal-penggal menurut
versi dan tafsiran masing-masing pengembaang.
Narasi-narasi
yang kemudian berevolusi menjadi mitos kadangkala menyebar secara brutal
tergantung kultur yang menumbuhkannya. Narasi-narasi itu tak jarang mengandung
kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan yang sarat akan pragmatisme.
Bodohnya, masyarakat awam tak jarang melahapnya secara mentah, dan
mempercayainya sebagai kebenaran absolut.
Situs
dan artefak dari waktu ke waktu semakin hilang otentisitasnya. Situs seringkali
dirombak sedemikian rupa atas nama kenyamanan. Bangunan yang berabad-abad
berdiri kokoh dibumihanguskan, diganti dengan bangunan pualam yang berkilauan.
Jika gerakan ini tak segera dihentikan, bukan tidak mungkin Bali yang awalnya
sangat beragam akan menjelma menjadi Bali yang seragam. Tak ada pembeda antara
langgam candi Bali Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Begitu juga pengarcaan dan
wujud lainnya.
Dari semua itu, yang paling mengerikan adalah ritus. Sudah menjadi rahasia dan kekhawatiran umum pelaksanaan upacara saat ini cenderung bersifat hura-hura. Upacara menjadi kaya wujud, namun miskin arti. Berbagai sarana upacara hanya dimaknai sebagai alat belaka, bukan simbol yang semestinya diteruskan di kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA:
Di kawasan Batur, meski krama Batur dan krama desa di sekelilingnya suntuk melakoni ritus yang sarat nilai ekologis, masalah lingkungan masih menjadi bayang-bayang menakutkan. Tambang pasir yang menghidupi sebagian besar masyarakat di kaki Gunung Batur berpeluang menjadi masalah lingkungan yang mengerikan. Begitu juga Danau Batur yang kini tergolong telah tercemar di level III, sehingga airnya tak layak lagi dikonsumsi. Belum lagi masalah perataan puncak Gunung Batur untuk kepentingan pariwisata, penggunaan zat kimia berbahaya untuk pertanian, pembuangan sampah plastik sembarangan di hutan, hingga alihfungsi lahan yang semakin tinggi guna memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan manusia.
Hingga
titik ini, masihkah saya harus berbangga melakoni berbagai bentuk adab leluhur
yang sarat nilai ekologis di tengah kondisi lingkungan yang berada di ambang
batas kelestarian? Hingga tulisan ini selesai ditulis, saya belum dapat
menentukan jawaban.
___________________
1lihatDuija,
I Nengah. 2009. “Mitos I Ratu Ayu Mas Membah (Pendekatan Theo-Antropologi)”.
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Antropologi Budaya pada
Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Denpasar: IHDN
Denpasar
2lihat Supartha,
Ngurah Oka. 1993. Karya Panca Walikrama di Danau Batur Sadhana
NyegjegangBhatari Danuh. Panitia Pelaksana Karya Agung Candi Narmada, Panca
Walikrama ring Segara Danu, Trubhuwana, dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung
Besakih Tahun 1993
3lihat Ariana, I Ketut Eriadi.
2016. “Kearifan Ekologis dalam Tradisi NgusabaKalima Desa Pakraman Batur
sebagai Upaya Kemandirian Pangan”. Makalah dibawakan dalam Pemilihan Mahasiswa
Berprestasi tahun 2016 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana