Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Itulah kesimpulan dari sebuah penjelasan tentang tubuh di suatu tempat yang tidak akan saya sebutkan namanya. Yang memberikan penjelasan itu, juga tidak saya beritahu namanya disini. Barangkali, jika membaca tulisan ini, beberapa pembaca akan membayangkan satu atau dua orang. Itu terserah. Saya tidak punya hak untuk melarang. Sebagaimana juga saya tidak punya hak untuk mengarahkan penilaian-penilaian yang lahir atas Cangak seperti saya. Jadi, tidak ada masalah dengan itu.
Bagi yang masih bertanya-tanya, akan saya jelaskan kenapa tubuh disebut olehnya seperti kuburan. Bagi yang sudah tahu dan paham, ini hanya pengulangan. Pengulangan itu penting juga, gunanya untuk mengingat-ingat.
Tubuh disebut kuburan karena tubuh inilah tempat segala macam bangkai. Ada bangkai babi guling, ada bangkai sapi yang sudah dilawar, ada bangkai ikan pindang yang telah diisi sambel matah, ada juga bangkai daun kelor yang dicampur celengis.Intinya, bangkai itu bukan hanya dari hewan tapi juga tumbuhan. Di dalam tubuhlah semua bangkai itu berkumpul dan terurai.
Bangkai-bangkai yang terurai itu kemudian menjadi darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir itu, adalah salah satu penyebab tubuh bisa hidup. Artinya, tubuh hidup karena bangkai. Karena tubuh hidup dari bangkai, maka ia dipengaruhi oleh bangkai-bangkai yang menghidupinya. Bagi yang suka makan babi guling, maka babi guling itu yang mempengaruhinya. Biasanya jika makan babi, mata jadi cepat ngantuk. Apalagi ditambah tuak bertuang-tuang.
Sampai disana, saya akhiri dulu tentang tuak bertuang-tuang. Karena hanya dengan memikirkannya saja, saya sudah mabuk. Maklumlah, saya ini jenis burung yang tidak suka minum-minuman sejenis itu. Terkecuali dipaksa dan gratis.
Makan dan minum memang perlu diatur agar tidak sembarangan. Karena makanan dan minuman mempengaruhi tubuh. Lapisan tubuh yang terbuat dari makanan dan minuman adalah lapisan paling luar. Konon ada lima lapisan tubuh. Dan kelima lapisan itu memiliki fungsinya masing-masing. Mari kita bicarakan nanti saja lapisan-lapisan tubuh itu. Soalnya, membicarakan yang begitu-begitu disini, takutnya nanti dikiranya saya ahli agama. Kalau sudah dikira ahli, disuruhlah saya berdharma wacana kemana-kemana.
Suara saya akan terdengar di radio-radio. Wajah saya akan dilihat di tipi-tipi. Kalau sudah begitu, terkenallah saya ini. Kalau sudah terkenal, banyak orang yang akan mendekat dan ingin tahu latar belakang. Padahal sesungguhnya saya bukan ahli. Apalagi ahlinya ahli.Kalau terkenal ada ruginya juga. Soalnya kalau terkenal, akan banyak orang yang percaya dengan kata-kata saya. Itu tidak bagus. Karena makin banyak yang percaya, makin banyak pula yang tertipu.
Dari pada menipu, lebih baik kita belajar dulu. Pada tulisan kali ini, kita akan membicarakan tentang makanan. Makanan dalam paragraf di atas, kesimpulannya adalah bangkai. Terdengar kasar memang, tapi itu kenyataan. Kenyataan lainnya adalah bahwa kehidupan ini ada karena adanya kematian. Jadi berterimakasihlah pada yang mati-mati itu, karena mereka kita bisa hidup.
Manusia banyak berterimakasih kepada alam. Dari langit turunlah hujan, karenanya tanah jadi basah dan subur. Tanah yang subur menyebabkan tumbuhan bisa hidup. Tumbuhan rumput yang hidup itu dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan. Hewan pemakan tumbuhan dimakan oleh hewan pemakan daging. Hewan pemakan daging dan pemakan tumbuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan dimakan oleh manusia. Maka kepada merekalah manusia mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara, salah satunya adalah upacara.
Pepohonan menyediakan makanan bagi manusia, maka manusia mengucapkan terimakasih kepadanya. Para hewan juga menyediakan makanan bagi manusia, dengan cara yang serupa manusia kemudian berterimakasih. Matahari menyediakan sumber cahaya, dan cahaya matahari adalah energi. Dari energi itu tumbuhan, hewan dan manusia bisa hidup. Maka kepadanya juga diucapkan terimakasih.
Begitulah terus-menerus, manusia berterimakasih kepada alam dan kepada dirinya. Terimakasih kepada diri, bisa berupa ucapan selamat ulang tahun atas hari lahir. Ada juga yang mengucapkannya enam bulan sekali. Tergantung keinginan. Tapi jika manusia mati, tidak ada yang mengucapkan selamat mati. Padahal konon, mati itu sama dengan pulang. Apa yang lebih indah dari pada pulang dan istirahat?
Begitulah tumbuhan dan hewan menjadi makanan dan sekaligus salah satu sumber kehidupan manusia. Meskipun karena makanan dan minuman, hidup itu bisa ada. Bukan berarti orang boleh makan dan minum sesuka hatinya. Ada jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan sembarangan. Contohnya kacang-kacangan, nanti asam urat. Daging dan lemak terlalu banyak juga tidak boleh, nanti kolesterol. Itu berarti, meskipun boleh dimakan, tetap dalam batas-batas tertentu. Itu semua untuk kesehatan.
Ada juga minuman berupa ramuan yang disebut loloh. Loloh itu baik diminum jika panas dalam. Contohnya adalah loloh samiroto atau loloh sembung. Jika keduanya diminum dalam takaran yang pas maka akan menjadi obat. Sedangkan jika diminum banyak-banyak, tidak baiknya karena tensi turun dan kepala jadi puyeng. Mirip orang mabuk karena tuak.
Tidak hanya kesehatan yang menjadi salah satu faktor makanan dan minuman itu mesti diatur. Makanan dan minuman yang bisa dinikmati, juga tergantung dari perilaku hidup. Ada yang melakukan janji diri tidak akan makan daging. Ada yang berjanji tidak makan garam. Bahkan ada juga yang berjanji tidak makan-makan. Itu terserah yang berjanji, pasti ada suatu hal yang melatarbelakangi janji itu dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. Yang tidak berjanji, tidak boleh sinis.
Sama seperti saya, Cangak yang sudah berjanji tidak makan ikan. Bagi saya, kini ikan tidak saya lihat sebagai ikan semata. Tetapi tubuh yang berjiwa. Saya punya jiwa dan ikan-ikan juga punya jiwa. Tidaklah sesuai dengan norma jika saya memakan sesama yang berjiwa. Tentu saja terkecuali saya terpaksa. Pemaksaan itu bisa jadi oleh situasi, keadaan, kondisi dan sebagainya yang lain.
Cara melihat makanan, juga sama dengan melihat lawan jenis. Karena saya lelaki, maka saya akan memberikan contoh makanan seperti wanita. Bukan berarti wanita adalah makanan, nanti saya dimarahi oleh kawan-kawan yang suka membela. Ucapan sastranya begini: bagi seorang pemuda, wanita adalah pasangan hidupnya yang harus dicintai. Bagi seekor serigala, wanita adalah makanan. Sedangkan bagi seorang yang sudah berjanji untuk berlaku suci, seorang wanita adalah anak. Contoh itu bisa juga dibalik, dengan merubah kata wanita menjadi pria.
Jadi satu objek bisa berarti berlainan tergantung yang memandang. Wanita bagi pemuda adalah cinta. Bagi serigala adalah makanan. Bagi orang bijaksana, ia adalah anak. Menarik juga ungkapan bahwa wanita adalah anak bagi seorang yang bijaksana. Mungkin karena anak, orang tua tidak boleh mengawininya. Bagaimana kalau anaknya mau dikawini? Wah, maaf saya tidak bisa menjawab itu. Kasus seperti itu susah untuk diselesaikan. Sama seperti kasus apakah surga dan neraka itu ada?
Kalau menurut cerita, ada banyak yang mengatakan itu ada. Bagi yang belum percaya, salah satu jalan membuktikannya adalah dengan mati terlebih dahulu. Begitu logikanya. Karena mana mungkin orang belum mati bisa bercerita tentang kematian. Tapi, kalau membaca teks-teks Bali yang sedikit agak kuna, ada teks yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian, proses mati, bahkan ciri-cirinya. Silahkan tanyakan kepada yang tahu-tahu. Jangan pada yang pura-pura.
Mari kita lanjutkan pada makanan dan minuman. Dengan begitu, berarti makan dan minum itu perlu diatur. Wajarlah jika orang mengambil jalan kesucian, mulai menata makanan dan minumannya. Bagi mereka, ada banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Untuk tahu ini, ada buku-buku yang bisa dibaca contohnya adalah Wrati Sasana, Siwasasana, Purwaka Weda Buddha, dan mungkin ada lagi yang lain.
Ada satu teks bernama Aji Brata, yang mengatakan bahwa ada aturan hanya makan nasi satu kepal tiap-tiap purnama kasanga [kesembilan]. Brata itu dilakukan selama tiga kali purnama atau tiga tahun. Tujuannya adalah wajah cantik, ganteng dan merona. Juga kaya. Benar atau tidak, harus dialami dulu.
Di antara segala yang boleh dimakan itu, ada satu jenis yang tidak boleh dimakan bernama teman. Tentu saja teman tidak boleh dimakan. Jika teman dimakan, siapa lagi yang akan kita ajak berkeluh kesah tentang ini dan itu? Mungkin kalau sudah punya banyak teman, teman lama akan dimakan dengan lahap. Caranya? Oh, jangan tanya saya. Saya ini Cangak yang satya mitra. Artinya, saya ini setia pada teman.
CANGAK YANG LAIN:
Ajaran sastra tidak memperbolehkan teman makan teman. Teman yang memakan temannya sendiri disebut durmitra. Menurut sumbernya, ada tiga yang “kotor” di antara sewangsanya masing-masing. Di dalam wangsa burung, yang “kotor” adalah burung gagak. Di antara wangsa hewan, yang “kotor” adalah arddha bheka. Ardha bheka barangkali adalah keledai. Di antara wangsa pikiran, yang “kotor” adalah kemarahan. Sebab kemarahan menghilangkan kebijaksanaan dan rasa pemaaf. Dan di atas semua itu, yang paling “kotor” adalah ia yang durmitra.
Jadi begitulah kawan-kawan para ikan. Saya adalah Cangak yang sudah berjanji diri tidak akan makan sembarangan, apalagi makan ikan yang telah jadi teman. Saya sedang meniru-niru para bijaksana yang terlihat teduh dari pandangan mata dan sikap duduknya. Tidak mungkin saya akan menghianati janji diri itu.
Saya tidak mau disebut durmitra. Durmitra itu bukan teman, tapi pura-pura teman. Terus terang, setelah saya tinggalkan semua yang saya miliki untuk menjadi Cangak yang bijaksana, tidak ada lagi yang saya punya kecuali kesetiaan. [T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...