1. Latar Belakang
Pembacaan/ kaji singkat karya Majalah ini di HP dimana
mata tidak awas, mengakibatkan banyak pemikiran yang tertinggal dalam
pembahasan ini. Kesulitan penulis dalam mencari sudut pandang penulis, karena
tidak ada karya akademik sejarah yang patut saya bongkar secara keilmuan.
Sehingga saya seperti menilai “bunga mawar dengan ukuran bunga melati”. Namun
sebagai sarana pengembangan nalar, saya rasa tidak masalah.
Sebagian
besar karya di Majalah ini menggunakan oral
tradition and oral history dalam
penulisan sejarah. Yang sesungguhnya ada kajian tersendiri dalam keilmuan,
sehingga dalam sejarah masih berupa masalah hiuristik, masih bergulat dalam
kritik sumber yang lembek dan terlegitimasi oleh keyakinan, sehingga dianggap
bermasalah kalau dikritik, padahal banyak relasi kuasa (politik, agama,
budaya,ekonomi, tradisi, dl.) yang tersembunyi di balik bukti itu.[1] Persoalan perspektif dan sumber sejarah yang ada
sebagai bahan dasar mengkonstruksi makna dalam wacana/diskursus penulisan sejarah,
merupakan sumber perbedaan wacana yang dikonstruksi.
Kesadaran
saya bahwa telah “menilai bunga mawar dengan ukuran bunga melati,--menilai
karya non-sejarah dengan ilmu sejarah--”. Berlaku juga untuk membesarkan “Majalah “Batur: Kata Penyambung Peradaban” (Batur:KPP edisi selanjutnya).
Sekecil apapun sumbangan pikiran ini diharapkan dapat menyumbang untuk kemajuan
Batur: KPP, yaitu menghasilkan ontologi wacana sejarah lebih kritis bermakna
secara struktural fungsional kritis”. Di samping itu, vista ini berguna untuk
menyatukan persepsi kita dalam literasi Batur: KPP, di “Tat Kala Rumah Pintar”
asuhan wartawan senior kita Bapak Adnyana Ole ini.[2]
2.
Teori dan Metodologi
2.1
Vista dalam Sejarah
Pertama, tidak ada kebenaran tunggal
dalam diskursus sejarah, karena kebenaran ditentukan oleh perspektif, teori,
filosofi, personal/groups bias, dan relasi kepentingan dalam penulisannya. Sejarah adalah pengetahuan tentang
peristiwa berdasarkan kronologis waktu --ilmu urut waktu berkausal-- yang
berusaha menemukan genealogi, ideologi, pola budaya dan relasi kuasa sumber
daya sebuah peradaban.
Kedua, Cessur atau periodisasi dalam sejarah adalah pemenggalan waktu yang secara
rial terus bergerak bagai air mengalir (eskatologi). Periodisasi secara
pilosofis adalah usaha --sia-sia-- menghentikan “cakra mandiling” untuk
memenggalnya untuk dapat mengkonsentrasikan jnana
secara terfokus dalam penggalan waktu. Peristiwa sejarah adalah unik (bersifat
ideografis) karena kejadiannya hanya terjadi sekali tidak terulang lagi (enmalig). Untuk dapat memahami peristiwa
yang sudah lewat dan unik itu, sejarawan hanya dapat berdialog dengan jejak
yang tersisa, sehingga membutuhkan bantuan filsafat kritis, teori-teori sosial.
Ketiga, Di sini dicoba menggelar teori verstehen dalam peradaban dengan
memahami zeitgeist and cultuurgebudenheid
(jiwa zaman dan ikatan budaya zaman)(Weberian) dan teori strukturasi
Giddens (2010) yang merambatkan hubungan maknawi antara “waktu—agensi—dan
struktur”.
Keempat, sebuah efistimologi (konsep, teori,
sintak), diharapkan dapat memberikan pelita pada kajian oral tradition and oral history” ini,--kecuali Suryawan dengan sumber prasasti dan artefak zaman
kolonial--, pada Majalah Batur: KPP edisi 1,2. Jadi ada berbagai efistemologi,
karyanya populer dalam karya ini, santai tapi sukses.
2.2
Definisi Beberapa Konsep
- Batur:
Kata Penyambung peradaban, dalam pemahaman penulis adalah produk
“pemolaan peradaban”, dalam bentuk bangunan pura, relief, pematungan, posisi,
ritus, tari, tradisi, lembaga, prosesi, dsb, dengan fokus peradaban air sekitar
Batur.
- Teori adalah relasi dari beberapa konsep
kemudian membentuk pemahaman, yang memiliki perspektif, dasar, asumsi, dan
persepsi-persepsi, yang menjadi isi dasar paradigma penulis.
- Setiap zaman (periodisasi) memiliki “zeitgeist dan cultuurgebudenheid”, jiwa
zaman dan ikatan budaya zaman yang melingkupinya (weberian). Jiwa zaman disebut
ideologi (Altussers,2014) yang mengarahkan, menjadikan, mempengaruhi, membimbing
manusia bertumbuh.
- Unsur sejarah difokuskan pada waktu, agensi,
dan struktur. Struktur terkait juga dengan kultur, tempat, dan hibridasi/mimikri berupa pola
budaya, politik, sosial, kehidupan masyarakat yang menjadi jati diri masyarakat
setempat secara umum, sehingga dapat dibongkar relasi kuasa yang ada di
dalamnya (bertimbang dengan Martono, 2014).
2.3
Landasan Teori
Penjelasan: Bagan
Alir Cessur:[3]
- Tife
Megalitik,: Pohon besar, Menhir, Funden Berundak, Sarkopagus, Tahta Batu (Batu
Kursi) dll. Dengan Cultus Leluhur (konsep Bhtar sebagai pelindung).
- Tife
S-2 (Struktur 2/Rwabhineda), ideologi Rsi Markandeya, masuk abad ke-8 (dari Gn
Raung Jatim), Bali Aga. Pemaduan Lokal Genius pemujaan Leluhur dengan
Hinduisme, Cultus Dewa Raja.
- Tife-S-3
(Trimurti), ideologi Mpu Kuturan (zaman raja Udayana dan Mahendradatta, pabad
11), Pemolaan zaman Jaya Pangus (1178 M-1181 M)[4]
dengan manunggalkan Bhuda-Hindu. Cultus Dewa Raja berlanjut, dengan pembangunan
Meru sebagai legitimasi kuasa.
- Ideologi
Danghyang Nirartha, Ciwa Sidanta. Cultus Rsi Dewa, dominasi penunggalan couter ideology dengan Islam di Jawa,
Padmasana (Ciwa-Sada Ciwa-Parama Ciwa).
2.4
Asumsi-asumsi perlu dibuktikan:
1.
Ada hegemoni zaman megalitik, cultural hero, dan agensi yang berkontestasi
dalam peradaban air yang berkembang di sekitar Batur.
2.
Bentuk peradaban yang berkembang dari zaman ke zaman, secara teori dapat
dipahami genealoginya dalam tradisi lisan dan artefak, ritus, sistem budaya (bentuk,
fungsi, dan makna) peradaban di sekitar Batur, dalam bentuk hibridasi, mimikri
dalam peradaban atau sistem religi yang berkembang di daerah Batur.
4.
Kultus Dewa Raja, Leluhur, Dewa/Dewi Raja, Rsi dan catur sanak dalam relasi
kuasa dari sistem peradaban di Batur. Seperti Banwa, Kang Ceng Wie/Bhuda,
Jayapangus, Cultural Heroes) dan
sebagainya. Kontestasi budaya air
(pertanian), dan perdagangan (Cina-Bali) menghegemoni peradaban Batur, dan
sejarah di sekitar Batur.
Cerita
sejarah konstruksi masa lalu yang unik (as
actuality/enmalig) dasar
penyusunannya perlu dikritisi, bukan ceritanya baik atau buruk, memang ada problem
pilihan bahasa di dalamnya, tetapi persoalan terpenting adalah uji kritis
sumbernya (artefak megalitik, tradisi lisan, sejarah lisan, tulisan, dll).
Karena benar tidaknya sejarah ditentukan oleh dasar ini. Subjektivitas dan
relativitasnya dapat dilihat dalam keberpihakannya dalam diskursusnya. Bentuk
fungsi dan makna sangat bergantung pada bahan baku pembuatan cerita. Berikut
akan dicoba sebuah diskursus kecil tentang Batur yang di dalamnya melihat
relasi tife-tife sistem religi, relasi kuasa sumber daya, jiwa zaman dan ikatan
budaya zaman dalam bentuk hibidasi/memekri di dalamnya.
3. Model dan Hasil Pembahasan
3.1 Model Cerita: Sejarah Sebagai Dasar Berpikir
Peradaban
Air Batur yang terkesan hanya merupakan peradaban untuk menghargai air (Ritus Penghormatan air, oleh I K.
Eriadi Ariana (B: KPP, 1: 2018), tergolong dalam kategori masyarakat Bali Aga
(hibridasi tife S3). Perbedaan Bali Aga dengan Bali Mula dapat dipahami dari
sistem religi yang dijadikan pemolaan. Bali
Aga diwarnai oleh sistem pemaduan “agama melayu Austronesia/huruf kecil
disebut juga adat-budaya lokal), dengan Agama Hindu dari Gunung Agung Raung.
Sedangkan Bali Mula adalah masyarakat dengan sistem religi pemujaan roh
leluhur, dan saktinya Sang Catur Sanak yang sudah ada sejak zaman Megalitik
(peradaban Melayu Austronesia).[5] Sejarah
Agama Hindu di Bali dengan kedatangan agen Rsi Markandeya, pada abad ke-8,[6]
terjadi hibridasi antara agama lokal dengan Agama Hindu sekta Waisnawa yaitu penghormatan
air untuk pertanian sawah dengan mendirikan subak pertama di Taro (Desa
Sarwada), tempat pendirian Pasraman pertama, kini menjadi Pura Agung Raung di
Taro. Air sebagai sumber pertanian, sumber kehidupan, menjadi “Dewa Wisnu”,
pemujanya disebut sekta Waisnawa.
Fakta
sejarah ini dapat penjelasannya diperluas dengan mengembangkan wacana sebagai
berikut, “Waisnawa sebagai sekta menjadi dasar sistem religi masyarakat
(zeitgeist) dihibridasikan dengan agama lokal Bali pemujaan roh leluhur dalam
bentuk Lingga-Yoni (Meme-Bapa keluarga), menjadi Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi,
dengan demikian sesungguhnya ada perluasan wawasan dari realistik ke pilosofis.
Sedangkan Sang catur Sanak memiliki fungsi Nyaga
Satru (penjaga/pelindung) nyatur napak dara (ritual kebalian di Catus
Pata). Sedangkan dalam fungsional palemahan desa dijadikan penjaga nyaga satru (atau bhatara): (1) Sang
Prajapati di ulum Setra –pelindung desa--; (2) Sang Anggapati di pekarangan –
tugun karang--; (3) Banaspati di Merajan – Anglurah--; Sang
Banaspatiraja—dimana-mana/ di lebuh dan pintu masuk.[7]
Jika
uraian ini dapat dijadikan dasar berpikir, maka Bapa Akasa (Lingga/
bersinar/Div) sedangkan ibu-pertiwi (saktinya/agama lokal saktinya, di dunia
ini/sebagai bhatara). Adalah usaha hibridasi hanya memposisikan sakti di bawah
dan pepberi anugrah di atas (Bulan-bintang teranggana), adalah sekta yang
dianut dengan posisi gunungnya Pucak Penulisan dan pasihnya Goa Gadjah (sekta
gajah adalah sekta Ganapati (pemujaan Ganapati), juga “pahami dengan hati-hati”
ada relif Bhuda di Goa Gajah. Konsep Rwabhineda- Sakti Nyatur (1/5 India: 4/5
Bali).
Bapa
Akasa+ Ibu Pertiwi, memiliki sakti catur sanak/dewa sebagai bhatara. Jika berpikir berdasarkan fakta sejarah ini
maka: penyebutan dewa-dewa (representasi panunggalan Brahman dengan Atman/agen
(Brahman Atma Aekyam), terutama
raja/resi ada relasi penegtahuan cultural
hero dan kuasa raja).[8]
Dengan dasar berpikir historis ini, kemungkinan besar --kalau dikaji ulang
tradisi lisan dan sejarah lisan serta babad yang memuat: pantion dewa seperti:
-Dewi danuh Batur (Ibu/Pertiwi); sedangkan Manik
Galang/ Genijaya. Dengan --saktinya--
Putranjaya (anak), Hyang Tugu, manik G-um-awang,
T-um-uw/buh. Dapat disederhanakan Batur sebagai Ibu Pertiwi (Yoni, Bulan/Sasih), sedangkan Manik
Galang di Pejeng (sinar)/Genijaya/Gni atau Api/Surya (cocok dengan Pelinggih
Hyang Api, Manik Geni, dan ritual Agni Sala di Sukawana/ di Satra (Pasraman di
Kintamani). Saktinya itu sama dengan sekta-sekta yang berkembang di lain daerah
(berperadaban Waisnawa) atau Rama-Sinta sebagai dasar pemolaannya, terutama adanya
monyet riil dan pematungannya di pura yang memiliki relasi sistem religi Bali
Aga.
Dengan
uraian interpretasi tradisilisan dan beberapa sumber lainnya, maka peradaban
air bukan hanya terkait dengan subak dan pertanian, tetapi juga sebagai sekta
penguasa yang mengajegkan relasi kuasa dalam sistem religi itu, agar raja tetap
diakui sebagai titisan dewa wisnu. Seterilisasi dan mimikri dari cerita
Ramayana tentang Rama dan Sinta serta pasukan wanaranya, perlambang sektarian ketika
Waisnawa dijadikan dasar arus besar
(ideologi) benegara. Prasasti “inilah telapak kaki yang mulia Purnawarman
menguasai dunia sebagai telapak wisnu”, ada relasi kuasa dengan membuat “Batu
Lukisan Dua Kaki/Enjekan Kaki dipahat oleh Kebo Iwa” pada palinggih-palinggih
kontestasi Ramayana pada Pelinggih tua, seperti di Pura Kehen, Angsri Tabanan,
Pucak Padang Dawa, Batu Megaang Busung biu, dll.
Menyimak
Pura Batur ditemukan banyak patung Wanara, ada Bale Gajah, Batara di Batan
Bingin, Pelinggih dengan Batu Besar di atas tudu yang dibangun di pura Batur,
serta adanya meru berjejer representasi: roh leluhur; pejabat banwa; medue gama
(pengembang sekta/ Markandea); raja, resi, danghyang dsb. Dan adanya pelinggih
Ratu Ayu Mas Syahbandar (Ratu Gede Subandar: gender), adalah representasi dari
Cung-Kang/ Kang Ceng Wie istri muda Jayapangus. Jadi dapat dipahami terjadi
pertentangan antara Dewi Danuh (ulun Danu Songan) dengan Kang Ceng Wie di Ulum
Danu Batur di Desa Batur. Saling tidak ingin didominasi sebagai istri raja
dapat dilihat dari 40 prasasti yang dikeluarkan oleh Jayapangun sekitar tahun
1181 selalu menyandingkan dua istrinya in, yang satu Bhuda dan yang Satu Hindu
Waisnawa, pada zamannya. Prasasti yang banyak ini adalah negosiasi politik pada
banwa-banwa (balai Agung penandanya) dengan membebaskan bebeapa pajak, agar
tetap dapat diakui sebagai raja, bahkan menjadikan dirinya sebagai sungsungan
desa dengan “menjadikan dirinya sebagai representasi Dewa legal yaitu Barong
Landung”. Bahkan sampai membuat pemukiman (puri baru) di Dalem Balingkang,
pindah dari puri sebelumnya di Bata Anyar daerah Bedulu. Dapat dipahami dari
ritus odalan di Ulun Danu batur dengan mendak dan ngantukan dari dank e Dalem
Balingkang saat purnama ke dasa, sebagai puncak ngusaba (Kapat dan Kedasa,
representasi Subak Bawah dan Subak Atas dalam konteks pembagian penggunaan air/
gadon-masa di subak). Raja bersikeras
tetap menikahi Kang Ceng Wie selanjutnya nampaknya Nyegara-Gunung pun
akhirnya terpecah (ada dua segara di Pegonjongan di Bll, dan Goa Gajah di
Gianyar. Rakyat ada yang berpihak
pada Dewi danuh dan ada yang berpihak pada Kang Ceng Wie. Desa-desa yang
namanya “bernuansa bahasa cina” di daerah Kintamani sekitarnya sampai ke
Payangan tembus Goa Gajah (Pohon Leci penanda Cina, Konco, dan lampion adalah
penanda kecinaan sejak zaman lampau. Persetruan ini dapat dibaca dalam Prasasti
Cempaga, yang mengakibatkan desanya dibakar habis oleh Banwa rakyat Bintang Danau Batur (Songa, Trunyan, Kedisan, dan
Buahan) Ki Buahan sebagai pemimpin banwanya. Penduduk Cempaga migrasi ke
Cembaga sekarang di bangle dekat kota, sebagaian lagi ke banua SCTP.
Muncul
lingga kembar, ditemukan di Penulisan (Hinduismedan Bhuda), masuk uang kepeng
dalam ritual, tradisi kerauhanpun di batur sering menggunakan bahasa cina.
Namun bukan berarti Bhuda baru ada sejak Jayapangus beristri bhuda. Banyak
bukti sejarah baru ditemukan setelah beredarnya tulisan barat bahwa bhuda
pertama berkembang di daerah sekitar pusat kerajaan Bali Aga yaitu Pejeng.
Bukti baru jauh sebelum abab kedelapan, sekitar abad ke-7 ditemukan situs bhud
di kalibukbuk dan Kalang Anyar Buleleng (Bali Utara) tersebar sampai ke
pedalaman Prasasti Gobleg menyebut Siwasogatan (Bhuda Mahayana).
3.2
Mising link Pusat Kerajaan Singhamandawa.
Dimana
sesungguhnya pusat keraton Singhamandawa? Pembuatan Cincin Singabersayap
(Singaraja) sudah disebut dalam Prasasti Tamblingan (Bulian Sanding Tamblingan)
zaman Jayapangus (1181 M). Kalau dianalisis menggunakan studi perbandingan,
maka dapat dikatakan Singabersayap adalah binatang hibridasi (Hindu zaman Bali
Aga (Garuna-Wisnu-Kencana) dengan Bhuda
(ke dunia berupa raja hutan) dapat dipahami dari cerita pada relief Candi Sukuh
Jatim.[9]
Jadi
Singhamandawa juga adalah kerajaan bertanda-tanda nama Bhuda Mahayana (Gaja (h)
yana berarti “perjalanan gajah” di Jatim, ketika itu, di Bali dalam cerita
rakyat disebut Gaja (h) wahana), bermakna “wahana/tempat Gajah), menjadi Sekta
Ganapati. Apakah ini dapat dikaitkan dengan Batur sebagai parhyangan memiliki
Bali Gajah dan Gong Bery penanda sekta dan cinanya. Kalau diselusuri Pura Batur
(Jayapangus dan Cung-Kang, penyatuan politik) memiliki kesamaan dengan Gelgel
(zaman Dalem Ketut Ngelesir menjadi Pura Dasar/penyatuan politik), dan Besakih
(zaman Dalem Waturengong, penyatuan politik. Sekaligus couter ideology Islam
saat itu). Apakah Batur sebagai Besakihnya jaman Jayapangus dengan pusat
kerjaannya di Dalem Balingkang (sebelum dipugar, penandanya Gundukan Tanah di
Pojok selatan menghadap ke Barat, Pura Bali Aga). Paling awal adalah Penulisan
dan Dalem Balingkang, kemudian Bandingkan dengan Penataran Sasih dan Pancering
Jagat Pejeng (struktur rwabhineda, nyatur. Padma Trilingga memberikan tanda
sudah zaman Kuturan, sedangkan Panda Capah, Bebataturan, dan Surya, panda Tiga,
Padma Tiga, dan Padmasana adalah genealogi perjalanan tahta batu zaman
megalitikum.
Cerita
yang dituliskan dalam Majalah Batur: KPP
sudah ada bahan tradisi lisan, ritus, dan artefaknya, namun sudah banyak
dihegemoni oleh sistem religi berikutnya, sehingga mengaburkan kita dalam
menganalisis dan memaknainya, karena disampaikan oleh orang yang memiliki
wibawa di Batur, dan dilontarkan, dipuranakan, dan diceritakan dari mulut
kemulut, terutama “menyimpang dari pagu pemolaan”, sehingga lama-lama menjadi
dianggap benar – nasi telah menjadi bubur”.
3.3 Literasi “Batur
: Kata Penyambung Peradaban
“
4.
Simpulan dan Saran
4.1
Simpulan
Pembahasan
tradisi lisan dan sejarah lisan sekitar daerah batur, dapat digunakan jalan
pikiran historis dengan melihat waktu, agennya dan struktur masyarakatnya,
karena dari sana akan dapat diketahui sistem dan peradanan yang menjadi tradisi lisan. Tokoh Jayapangus, Dewi
Danuh (Ulun Danu Batur di Songan) dan Kang Ceng Wie/ Cina/Bhuda Mahayana)
menjadi tokoh sentral dalam peradaban sekitar Batur. Tradisi megalitikum dan
tradisi Bali Aga masih sangat kental di daerah Penulisan (dualitas/Rwabhineda),
dan nyatur, rwabhineda, dan trimurti Mpu Kuturan berkontestasi di Batur. Hanya
saja butuh pelan-pelan memahami, karena di Batur juga merupakan peradaban
perlawanan dengan kerajaan pusat (Kelungkung), sehingga perlu hati-hati
menganalisisnya.
Pemujaan Api (Agni
sala) prasasti Sukawana (tahun 882 M), adanya penampakan budaya cina, seni
cina, dan nama-nama dengan bahasa cina di sekitar Puncak Penulisan—ke selatan
Catur- Payangan- ke Gua Gajah membuktikan memang pengaruh peradaban cina/bhuda
sangat kuat di zaman kuasa batur, bahkan menjadi pura dasar pemolaan religi di
Bali.
Jangan-jangan kang Ceng Wie bukanlah cina dan bhuda baru
di Bali Utara, tetapi merupakan kontinuitas dari Bhuda Mahayana yang memang
disebut sebut sebagai Siwa Sogatan dalam prasasti di Tamblingan, dan bahkan
dengan jejak sudah pernah hidup jaya di abad ke-7 dengan penemuan Situs Bhuda
di Kali bukbuk.
4.2
Saran-saran
Cerita
sejarah (labeling sejarah tapi babad, dll) sering mengalahkan sejarah
struktural kritis itu. Sumber keras dan kredibel tidak dapat dibedakan dengan
sumber lembek, penuh tipu muslihat terkadang, karena menyembunyikan kepentingan
di dalamnya. Paling tidak orientasi penulisan, perspektif, filosofis, dan
kredibelitas penulisnya perlu dipertanyakan dalam mengkaji cerita sejarah, atau
non-ilmu sejarah menulis peristiwa sejarah (sejarah adalah antropologi masa
lalu), tapi bukan antropologi adalah sejarah masa kini (kontinuitas dan
diskontinuitas penuh ceruk, lubang, gunung, dan tabungan atau investasi masa
depan).
Butuh kehati-hatian melabeli sejarah
karena sejarah dijadikan dasar berpikir, seperti diuraikan di atas, sejarah
katakana sejarah, teori katakana teori, dan asumsi katakana asumsi, sehingga
kita tidak sesat memaknai hidup dan kehidupan kita, termasuk anak cucu kita di
masa depan. Seperti terpaksa saya “menggugurkan geger nusantara karya Iwan
Pranajaya (2018), karena kekhawatiran saya atas kesalahan generasi masa depan
memaknai kebenaran historis.
DAFTAR PUSTAKA
|
Atmodjo,
R.M. Sukarto K. 1970. Manuskrip
“Prasasti Buyan-Sanding-Tamblingan. Disampaikan dalam Seminar Sejarah Nasional II, 26-29 Agustus di Yogyakarta.
|
|
Foucault,
Michel. 2012. Arkeologi Pengetahuan.
Inyak Ridwan Muzir (penerjemah). IRCiSoD: Yogyakarta.
|
|
Giddens,
Anthony. 2010. Teori Strukturasi:
Dasar-dasar Pembentukan Struktur Soaial Masyarakat. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
|
|
Ginarsa,
Ketut. tt. “Prasasti Baru Raja Ragajaya”,
dalam Majalah Ilmu-ilmu Sastra
Indonesia.Maret –Juni 1963. Jilid IV, No 1,2. UI: Jakarta.
|
|
Martono,
Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan
Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan Postkolonial. Rajawali
Pers: Jakarta.
|
|
Palmer,
Richard E.Hermeneutika: Teori Baru
Mengenai Interpretasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
|
|
Ricoeur,
Paul.2009. Hermeneutika Ilmu Sosial. Kreasi
Wacana: Yogyakarta.
|
|
Shastri,
N.D. Pandit. 1963. Sejarah Bali Dwipa.
Jilid I. Bhuwana Saraswati: Denpasar Bali.
|
|
Sumaryono,
E. 2013. Hermeneutik: Sebuah Metode
Filsafat. Kanisius: Yogyakarta.
|
|
Tinarbuko,
Sumbo. 2009. Semiotika Komunikasi
Visual. Jalasutra: Yogyakarta.
|
[1] Metodologi sejarah bergelut
dengan perspektif teori, sementara metode adalah sintak/procedural penulisan
sejarah yaitu: “ heuristik, kritik, interpretasi, dan model penulisannya.
[2] Rumah pintar Milik Pak Adnyana
Ole ini adalah lokus dari Tat Kala yang
mempublish beberapa tulisan popular dan seni yang kreatif dan produktif, semoga
langgeng!. (Diskusi Berkala, Sabtu 13 April 2019.
[3] Inilah kerangka
berpikir yang saya gunakan untuk menganalisis sumber terkait dengan Batur.
[4] Babakan ini diambil dari I Gede
Semadi Astra, 1977. Jaman Pemerintahan
Maharaja Jayapangus di Bali, 1178-1181 M. Denpasar: Lembar Pengkajian
Budaya.
[5] Jika dapat disetujui maka
pemahaman Ngurah Suryawan perlu diluruskan,
[6] Dalam Babad disebutkan Rsi
Markandeya (agen) datang pertama pada abad ke-8 disebutkan membawa pengiring
Wong Aga/ Wong Gunung Raung sebanyak 800 orang camput, kemudian beliau balik ke
Jatim “semedi di Gunung Raung” kembali datang kedua kalinya dengan pengiring
Wong Aga sebanyak 400 orang. Dengan membawa Wahyu untuk melakukan pembuatan
sawah dan subak harus melakukan ritual “Nanem Panca Datu di Tohlangkir,
sehingga ditandai dengan Batu Berdiri/Menhir.
[7] Buku-buku Kanda Pat sangat
banyak, semuanya sesungguhnya dikembangkan dari agama lokal Bali ini.
[8] Sejalan dengan M. Foucault dalam
membongkar sebuah archeologi/wacana dalam geneologinya, “science is a power”
atau kuasa pengetahuan.
[9] Dasar menyalahkan posisi GWK di
selatan Bali, kalau kita melihat kosmos Bali sebagai Bhuana Agung, namun
pembenarannya menggunakan teori
Copernicus- Bumi Bundar.