Cerpen Made Suarbawa
Jabatan sebagai Pekaseh1 menjadikan Sadra
bukan lagi petani biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia memiliki kesibukan
menjalankan tugas sebagai tampuk pimpinan tertinggi dalam struktur kepengurusan
subak2 di desanya. Dibantu
oleh dua orang prajuru3 yang
menjadi tangan kanan sekaligus penyambung lidah dengan para petani selaku
anggota subak, segala informasi dan
kebijakan dapat segera tersampaikan dengan akurat dan tepat pada seluruh
anggota subak. Belum lagi sebagian
anggota subak tinggal dan berasal
dari beberapa desa lain yang kebetulan memiliki sawah di desa itu, sangat
menguras tenaganya.
Kesibukan yang didasari sikap ngayah4 untuk kepentingan
masyarakat banyak itu, mendapat tentangan luar biasa dari Istri Sadra. Kepolosannya
dan keluguan sebagai petani tulen serta sikap yang selalu iklas dan suka-rela
tanpa peduli siang atau malam, tidak hirau hujan berangin, membuat jengkel dan
geram Konten, istrinya.
Sejak proses pemilihan, ketika
nama Sadra mulai masuk dalam bursa desas-desus bakal calon Pekaseh, Konten sudah wanti-wanti agar jabatan itu ditolak saja.
Dalam benak Konten, jabatan seperti itu hanya menghabiskan tenaga dan pikiran
tanpa memperoleh imbalan yang sepadan. Intinya rugi. Itulah sebabnya sangat
sulit untuk mendapatkan orang yang bersedia dan suka rela mengajukan diri untuk
mengemban jabatan itu.
“Sudahlah, siapa yang akan
memilih orang yang tidak memiliki pengalaman dan petani bodoh seperti Aku?”
Ungkap Sadra tenang-tenang saja menanggapi kehawatiran istrinya.
“Ya, karena Bli5 dianggap bodoh,
orang-orang akan memilih Bli, makanya
belajar sedikit tentang politik, Bli
itu sedang dipolitiki”
Sadra tertawa terbahak-bahak
mendengar istilah yang dikatakan istrinya. “Apalagi itu dipolitiki?” Sadra
terbatuk-batuk.
“Sudah sadar diri bodoh jangan
berlagak seperti orang bodoh, itu artinya Bli
akan dimanfaatkan, orang-orang akan mengambil keuntungan dari kebodohan itu.
Ayo Bli, buka mata sedikit, lihat apa
yang sedang terjadi di luar rumah kita. Jangan hanya taunya lumpur, mintur6, kukur7 dan tidur!” Konten semakin sengit.
“Kamu ini kenapa, orang lain
makan cabe kenapa harus kita yang kepedasan. Keuntungan apa yang bisa diambil
dari kita, kita ini petani, punya apa?”
“Ya itu, karena kita tidak
punya apa-apa, hanya punya kebodohan dan keluguan, bersanding dengan mereka
maka mereka akan semakin pintar untuk membodohi kita, para petani.”
“Aduh, pusing.”
“Pokoknya jabatan itu harus
ditolak, bila perlu, saat sangkepan8
nanti jangan datang, biar orang lain yang dipilih!”
Perdebatan di beranda rumah itu
berakhir ketika malam semakin larut dan mereka harus memutuskan untuk masuk
kamar. Dan selalu seperti itu selama
berhari-hari, hingga akhirnya sangkepan
subak dilaksanakan dan Sadra terpilih secara musyawarah mufakat sebagai pekaseh baru dan akan memangku jabatan
selama lima
musim tanam.
Perdebatan berkembang lebih
rame, tidak hanya di beranda, kini sampai ke sumur, dapur hingga kasur dan
semakin banyak perumpamaan, kemungkinan, kerugian dan bukti-bukti yang di
ungkapkan Konten.
“Apa sebenarnya yang Bli cari, apa tidak bisa diurus besok, apa
lagi ini sudah malam dan di luar sedang hujan lebat.” Geram Konten suatu malam.
“Kalau tidak sekarang, gorong-gorong
itu akan semakin tersumbat oleh sampah, air terus semakin besar dan pasti akan
meluap hingga membanjiri seluruh areal persawahan, padi yang baru tanam akan
rusak” Sadra mengenakan sepatu karet tinggi yang dia sebut sebagai sepatu
selop. Di kepalanya bertengger topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu dan
berlapis plastik bening.
“Apa orang lain mau peduli?
Mereka paling-paling sudah tidur pulas, peluk istri, mimpi indah!”
“Ini giliranku untuk ngayah, giliran mereka ya nanti.” Sadra
sudah siap berangkat. Tangannya menenteng senter, caluk9 dan payung yang siap dikembangkan.
“Apa untungnya buat kita,
mereka yang enak-enak tidur yang akan menikmatinya. Apa untungnya coba?” Konten
menyusul suaminya sampai ke pintu rumah.
“Ngayah ya tidak ada untungnya, kalau mau untung ya bagusnya jadi
tengkulak.” Sadra berlalu menembus hujan dikegelapan malam. Cahaya lampu senter
yang dibawanya hanya mampu menembus malam dalam jarak satu meter.
Sikap Sadra sebagai seorang
pemimpin yang selalu mengutamakan kesejahtraan dan kepentingan anggotanya tetap
menjadi poin persoalan dan memancing opini tajam Konten. Bukan hanya persoalan
mengurus saluran irigasi yang mampet saat datang hujan dan banjir di malam hari.
Saat musim turun kesawah dimulai,
karena kesibukan mengurus segala keperluan musim tanam bagi anggotanya, sawah Sadra
termasuk yang terakhir dijamah bajak. Saat pembagian benih padi pun demikian.
Sadra mengambil bagian paling terakhir setelah seluruh anggota yang lain
mengambil jatah dan yang tersisa hanya 15,5 kilogram dari seharusnya 25
kilogram yang dia perlukan untuk.
“Kalau begini urusannya, kita
benar-benar menelan kerugian.” Pekik Konten saat mengetahui jatah benih padi
mereka kurang sekitar 9,5 kilogram. “Bagaimana kalau nanti kita kekurangan saat
menanam?”
“Jangan risau, kita bisa ambil
di tempat Bli Jantuk atau Bli Kari, pasti ada lebihnya.”
“Bukan persoalan kita bisa
ambil sana-sini, tapi asas kebersamaan dan keadilan tidak tegak. Keadilan bukan
cuma buat mereka, tapi juga kita. Bagaimana panen kita bisa bagus, jatah benih
kurang, pupuk kurang, untuk menyemprot hama
tidak sempat. Pikir Bli, jangan hanya
mikir mereka!”
“Ya baiklah, sekarang ayo
pikirkan diri kita saja.” Sadra menarik tangan istrinya masuk kedalam kamar,
karena hanya itu yang bisa menghentikan perdebatan di beranda malam itu.
* * *
Musim panen menjelang,
bulir-bulir padi berwarna keemasan terhampar luas menghias seluruh desa. Para tengkulak berkeliaran menaksir tiap petak sawah.
Dengan nada merayu dan kata-kata manis mencoba menawar padi-padi milik petani
dengan harga miring nyaris jatuh. Tidak luput dengan padi milik Sadra.
Seorang tengkulak baru saja
meninggalkan pekarangan rumah Sadra. Perdebatan segera mulai menghangat.
“Ini yang selalu aku takutkan Bli. Padi kita hanya ditawar 8 juta,
coba kalau benih kita tidak kurang, pupuk cukup, hama di semprot, burung diusir, kita bisa
dapat uang lebih dari 8 juta. Lihat Bli Jantuk,
padinya ditawar 15 juta, Bli Kari
sudah beli motor baru dari uang panjar saja. Kita dapat apa?” Suara Konten
sangat memelas dengan wajah merengut.
“Wee, biar kata suamimu ini
bodoh, kalau soal hitung-menghitung masih handal. Sawah kita hanya 50 are
ditawar 10 juta, ya untung, sawah Bli
Jantuk 1 hektar, hanya ditawar 18 juta, ya buntung. Kalau Bli Kari bisa beli
motor baru, ya karena sawahnya 5 hektar, kalau sawah kita 5 hektar, bukan motor
tapi mobil kita beli”
Konten masih diam membisu, tangannya
memeluk tiang jineng.
“Kamu tahu kita sedang untung, hutang
yang harus kita bayar di KUD berkurang karena jatah benih kita kurang, pupuk
juga kurang, pestisida tidak beli. Dan para tengkulak memberi harga tinggi
karena melihat jabatanku.”
Perdebatan siang di jineng10 berhenti sampai di situ,
dengan kesimpulan dimenangkan oleh Sadra dengan kekalahan diderita oleh Konten
yang terpukul telak hingga lidahnya kelu.
* * *
“Bli! gawat Bli!” Teriak
Konten suatu petang di tahun ketiga jabatan Sadra sebagai pekaseh. Dia lari tergopoh-gopoh dari jalan menuju rumahnya. Sadra
yang sedang sibuk memberi makan burung tekukur peliharaannya hanya menoleh
sebentar tanpa komentar.
“Bli harus melawan karena ini sebuah konspirasi jahat!” Konten terengah-engah,
berdiri memegang lutut di dekat Sadra.
“Kamu ini kenapa, apa yang harus
dilawan, apa yang jahat?”
“Bli, beberapa orang akan berusaha menurunkan Bli dari jabatan Bli saat
ini.”
“Bagus itu!”
“Bagus bagaimana? Ini
konspirasi jahat, tidak sesuai aturan.”
“Ngomong apa kamu ini!” Sadra
beranjak membereskan kaleng pakan tekukurnya.
“Begini Bli…”
“Nanti saja, aku mau mandi
dulu…!” Sadra melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Konten yang masih
mematung di dekat kandang tekukur.
* * *
“Begini Bli…” Konten memulai ceritanya saat Sadra sudah selesai mandi dan
mereka duduk di beranda rumah. “Beberapa orang yang tidak perlu aku sebutkan
namanya, sedang mengincar jabatan yang Bli
pegang sekarang. Bli tidak boleh
membiarkan ini terjadi.”
“Bukankah itu bagus, selama ini
kita ribut terus gara-gara jabatanku ini.”
“Bli, pikiran mereka yang jahat ini yang tidak bisa aku terima,
cara-cara tidak konstitusional, tidak sesuai adeaerte!” Konten semakin sengit.
“Mulutmu itu suka melilit kalau
ngomong.”
“Bli, mereka hanya memikirkan keuntungan, selama ini tidak ada yang
bersedia memangku jabatan ini, tapi begitu terkabar akan ada dana puluhan juta,
mereka mulai kasak- kusuk, di mana hati nurani mereka, di mana jiwa mereka
untuk ngayah?”
“Kenapa harus dipusingkan,
kalau mereka mau, biarlah mereka ambil.”
“Bli…! jangan bodoh lagi, ini ketidak adilan, ini yang aku bilang
kita sedang dipolitiki, dimanfaatkan!”
“Kalau kita memang bisa
bermanfaat bagi orang lain, bukannya itu bagus? Berarti tidak sia-sia hidup
kita di dunia”
“Heeh…! bodoh, bodoh, bodoh…!”
Tangan Konten mengepal, giginya gemeretek menahan darah yang mulai naik ke ubun-ubunnya
dan membuat mukanya memerah seperti kepiting rebus.
“Siapa yang maksa, kamu sendiri
yang mau kawin sama orang bodoh.”
“Jujur saja Bli, aku hawatir dengan nasib uang yang
akan turun nantinya, orang-orang itu tidak kredibel sama sekali.”
“Bagaimana kita bisa menilai
orang seperti itu?”
“Sudah jelas Bli, sama sekali tidak kredibel,ada uang mereka datang tidak ada uang
mereka menghilang, apa uangnya tidak akan ikut menghilang?”
“Sebenarnya uang siapa yang
kamu ributkan?”
“Uang kita, uang rakyat.”
“Saat jadi pejabat miskin saja
kamu ribut, bagaimana saat aku jadi pejabatyang pegang uang banyak, apa kamu tidak tambah ribut kalau aku mau kawin
lagi?” Wajah Konten makin sengit mendengar ucapan suaminya.
“Ini politik kotor Bli, politik
busuk!”
“Sudah, kita pikir politik
Kasur dan dengkur saja, sudah malam.” Sadra menarik tangan istrinya masuk ke dalam
kamar. Lampu depan rumah dipadamkan. Malam mengalir tenang, hawa dingin menyelimuti
desa itu. Bulan bopeng di belahan langit barat memendarkan cahaya temaram.
Binatang malam menyanyikan lagu cinta.
Denpasar, Agustus 2008
Note:
- Ketua subak
- Organisasi
yang mengatur sistem pengairan/irigasi di Bali
- Staff yang bertugas sebagai kurir
informasi.
- Pekerjaan suka-rela/kerja bakti
- Abang
- Memancing kepiting.
- Burung tekukur.
- Rapat
- Sejenis parang
- Lumbung
padi.